Agama Dan Politik Tidak Dapat Dipisahkan

agama politik
Ajakan memisahkan agama dari politik sebenarnya sudah mulai dari dahulu kala. Namun, pernyataan agama harus dipisahkan dengan politik menjadi topik hangat pada saat kasus penistaan agama. Suhu politik yang makin memanas, pernyataan tersebut menjadi andalan sebagian orang agar kasus penistaan agama segera dihentikan.

Akan tetapi, ajakan memisahkan agama dengan politik, justru menjadi ahistoris dengan para pendahulu kita. Sebab, saham terbesar kebangkitan dan kemerdekaan Negara ini elemen agama. Sadarkah jika dahulu umat Islam tidak berpolitik, maka kita tidak akan menjadi keluarga besar bernama Indonesia?

Sadarkah engkau bahwa usia agama lebih lama dari pada usia negara kita. Dahulu Imam Bonjol, pangeran Dipenogoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Panglima Polim, Pangeran Badaruddin, Sultan Hasanuddin, dan lainnya, belum mengenal bendera Merah Putih. Belum mengenal lagu Indonesia Raya dan Pancasila. Mereka angkat senjata usir para penjajah karena perintah agama, belum ada pemilu apalagi pilkada kala itu.

Pernyataan pisahkan agama dan politik agar rakyat tahu mana agama dan mana politik bisa multi makna. Pertama agama dianggap sumber masalah, ketika dia masuk ke politik. Kedua, menganggap agama terlalu sakral dan suci dan tidak pantas masuk ke politk yang kotor. Artinya, agama adalah untuk orang suci dan politik adalah untuk orang kotor, jadi politisi itu kotor. ketiga, menuduh agama hanya mengatur masalah selain politik, padahal politik adalah pintu kekuasaan yang dengannya Anda bisa mengatur semuanya, termasuk khatib Jumat pun akan diakreditasi.

Anda letakkan agama jauh dari politik, tapi saat minta dukungan politik, Anda masuk ke basis pemilih agama. Bahkan, tak sungkan bersurban, pimpin shalat jamaah, dan dalam pembukaan pidato kampanye dengan bumbu kalimat Arab biar terkesan Islami dan ibu negara berjilbab. Bagi-bagi uang dengan mengatasnamakan shadaqah padahal tidak lain tujuannya untuk mendapat suara rakyat.  Apakah itu yang namanya memisahkan agama dari politik?

Agama terlalu privat bagi pemeluknya melebihi negara, sekalipun dia masuk mengatur kehidupan seorang mulai masuk WC, cara tidur, cara potong kuku saja diatur. Apalagi politik sebagai alat yang mengatur kekuasaan. Saudara, berhentilah membuat jarak antara agama dengan politik, karena itu semakin menyakitkanmu sendiri. Nanti saat mau mencalonkan diri, engkau akan angkat isu-isu simpatik beragama.

Politik itu benda netral dan yang membuatnya menjadi berwarna adalah siapa yang mengendarakannya. Agama adalah moralitas tapi politik kekuasaan itu legalitas, salahkah orang beragama hanya ingin mempertemukan antara moralitas dengan legalitas?  Jika anda pisahkan agama dengan politik, maka bagaimana status partai-partai yang berlandaskan dan bercorak agama? mau engkau bubarkan?

Bisakah rasa manis dipisahkan dari gulanya? rasa dingin dari butiran saljunya? Jika bisa dipisahkan, maka baru bisa engkau pisahkan agama dari politik. Sampai kapanpun anda berusaha memisahkan politik dari agama. Usaha anda akan sia-sia dan engkau tidak akan pernah berhasil memisahkan agama dengan politik.


EmoticonEmoticon