Penjelasan Isim Mubham Dalam Nahwu

isim mubham
Isim Mubham sebenarnya masuk pada pembahasan Isim ma'rifat, yang dimana isim mubham ini merupakan ciri-cirinya. Akan tetapi disini akan dibahas lebih husus. Isim mubham ialah isim yang pengertiannya masih samar-samar. Yang termasuk dalam kategory ini adalah Isim Isyarah atau kata penunjuk.

Macam-macam isim mubham ada lima, yaitu :

1. Isim adad (hitungan), seperti (اِشْتَرَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كِتاَباً) “Aku membeli sebelas kitab.” Tidak ada bedanya jika adad tersebut sharih. Contoh (كَمْ كِتاَباً عِنْدَكَ ؟) “Berapa kitab yang ada padamu?”

Adad sendiri dibagi dua macam, yaitu:
A. adad sharih yaitu adad yang sudah diketahui hitungannya, seperti (وَاحِدٌ) “satu” dan seterusnya.
B. Adad mubham yaitu adad yang tidak diketahui hitungannya, seperti (كَمْ) “berapa” dan seterusnya.

2. Isim yang menunjukkan pada ukuran, sesuatu yang diukur dengan alat berupa jarak, area,  timbangan, takaran,  ukuran, dan lain-lainnya. Contoh : ¤(عِنْدِي ذِرَاعٌ جُوخاً) = Ada padaku satu dzira’ kain. ¤(عِنْدِي قَصَبَةٌ اَرْضاً) =Aku mempunyai sekotak tanah. seperti (لَكَ قِنْطاَرٌ عَسَلاً) = Kamu mempunyai satu kuintal madu. ¤(اَعْطِ الْفَقِيْرَ صَاعاً قُمْحاً) = Berilah orang fakir satu sha’ gandum.

3. Isim yang menunjukkan pada perkara yang menyerupai ukuran (perkara yang menunjukkan pada sesuatu yang tidak tertentu), karena perkara itu tidak diukur dengan alat khusus. Adakalanya menyerupai jarak area, seperti (عِنْدِي مَدُّ البَصَرِ اَرْضاً) “Ada padaku tanah sepanjang mata memandang,” atau timbangan, seperti (وَ مَنْ يَعْمَلْ مِثْقاَلَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ) “Barang siapa yang beramal sebesar atom, maka dia akan melihatnya,” atau takaran, seperti (عِنْدِي جَرَّةٌ ماَءً) “Ada padaku satu guci air,” atau ukuran, seperti (عِنْدِي مَدُّ يَدِكَ حَبلاً) “Ada padaku benang sepanjang tanganmu.”

4. Isim yang diberlakukan seperti ukuran, yaitu semua isim mubham yang membutuhkan pada tamyiz dan penjelas, seperti (لَناَ مِثْلُ ماَ لَكُمْ خَيْلاً) “Ada padaku kuda yang seperti yang ada padamu.”

5. Perkara yang merupakan cabang dari tamyiz, seperti (عِنْدِي خَاتَمُ فِضَّةٍ) “Ada padaku cincin perak.” Hukum tamyiz dzat adalah boleh dibaca nashab dan boleh dijerkan dengan (مِنْ), seperti (عِنْدِي رِطْلٌ مِنْ زَيْتٍ), atau dengan diidlafahkan, seperti (لَناَ قَصَبَةُ اَرْضٍ), kecuali jika diidlafahkan akan menyebabkan terjadinya dua idhafah, yaitu ketika mumayyaznya berupa mudlaf, maka idhafah itu dilarang dan wajib untuk dibaca nashab atau dijarkan dengan (مِنْ), Contoh kalimat : (ماَ فِي السَّماَءِ قَدْرُ رَاحَةٍ سَحاَباً اَو مِنْ سَحاَبٍ).


EmoticonEmoticon