Kh. Muhammad Ma’shum Sang Pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso

KH. Muhammad Ma’shum,
Nama beliau KH. Muhammad Ma’shum, seorang pendiri dan pengasuh salah satu pesantren terbesar di Bondowoso, PP Al Ishlah. Pada mulanya, beliau hanya mengasuh tiga santri dengan sistem pendidikan tradisional, dengan tempat sebuah masjid yang dibangun oleh masyarakat sekitar. Tak heran, dengan sedikitnya santri yang diasuh pada waktu itu, orang lain sering mencemoohnya dengan sebutan yang tidak pantas.

Berangkat dari keluarga yang sederhana, KH. Muhammad Ma’shum tidak menjadi pesimis. Beliau selalu berusaha menjadi orang yang mandiri serta selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Hadits yang selalu menjadi pegangan beliau hingga dijadikan slogan Pondok Pesantren Al Ishlah yaitu "Khairunnas Anfa'uhum Linnas" Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat kepada orang lain.

Dari perjuangannya, KH. Muhammad Ma’shum berhasil menyulap pesantren kecil menjadi sebuah Pondok Pesantren besar dan tersohor hingga keluar Negara. Terbukti beliau selalu mengadakan kerja sama dalam urusan pesantren dengan negara luar, seperti Malaysia, Singapura. Selain menjadi pengasuh pesantren Al Ishlah Bondowoso, beliau juga aktif dalam urusan Kenegaraan maupun kemasyarakatan. Beliau juga menjadi Ketua umum FORUM KOMUNIKASI PANTI PENERIMA BANTUAN YAYASAN DHARMAIS (FKPPBD) Propinsi Jawa Timur.
KH. Muhammad Ma’shum,
KH. Muhammad Ma’shum,

Disela-sela kesibukannya, KH. Muhammad Ma’shum masih tetap selalu memberikan nasehat-nasehatnya kepada santrinya. Dan tak lupa juga, KH. Muhammad Ma’shum memberikan pendidikan gratis (Beasiswa) bagi orang yang tidak mampu. Bahkan sebagian besar santrinya menempuh pendidikan di Pesantren berangkat dari beasiswa.

Meski hidup dengan satu ginjal, divonis oleh dokter bahwa kangker yang dialaminya mencapai tingkat ganas, batuk darah setiap hari sampai enam puluh kali sehari. KH. Muhammad Ma’shum tidak pernah takut dengan semua itu, beliau masih memberikan nasehat-nasehat pada saat pertemuan alumni kemarin.

Dengan penyakit kangker ganas yang terus menjalar, beliau tetap terus mejalankan tugas-tugas dan kewajibannya. Karena prinsip hidupnya adalah Hidup Hanya Satu Kali Hiduplah Yang Berarti, Untuk Apa Takut Mati Pada Ahirnya Juga Tetap Mati, Jadilah Manusia Yang Berarti.


EmoticonEmoticon