Kebahagiaan Dan Kesedihan Perpisahan PPL Di Ma Aqidah Usymuni

ppl 2

Satu bulan berlalu, tugas demi tugas PPL II sudah selesai, proses belajar dan mengajar dari para Mahasiswa sudah tidak ada lagi, tugas RPP bukan lagi menjadi beban. Hanya tinggal menyusun laporan nantinya. Saatnya berpamitan kepada orang-orang yang telah berjasa pada kami, para Mahasiswa peserta PPL. Mulai dari kepala Sekolah, Guru Pamong, Siswa-siswi di Ma. Aqidah Usymuni, mereka semua telah berjasa pada kami.

Acara penutupan sekaligus perpisahan. Meski acara dikemas se sederhana mungkin, hanya dalam bentuk apel pagi, dilanjutkan dengan penampilan-penampilan dari Siswa Siswi. Hal itu, lebih berkesan. Terdapat kendala waktu, saya dan teman-teman berusaha agar kesempatan ini tidak disia-siakan. Karena ini adalah moment terahir untuk menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf. 

Penutupan ini, tentunya merupakan kebahagiaan bagi kami. Sebab, tidak lagi bolak balik tiap hari kesekolah, tidak lagi sibuk mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan PPL. Namun juga merupakan kesedihan, sebab akan berpisah dengan orang-orang yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk mengabdi dan belajar, menjalankan tugas kampus. 

Sebagai ketua kelompok, saya berkewajiban menyampaikan amanah teman-teman Mahasiswa, amanah dari kampus. Untuk menyampaikan  apa yang perlu kami sampaikan. Ucapan terimakasih karena mereka telah membantu kami. Permohonan maaf sebab kami hanyalah manusia biasa. Ucapan perpisahan karena tidak selamanya hidup itu selalu bersama.

Banyak pengalaman yang kami dapatkan, banyak kenangan yang menjadi pelipur lara. Kebahagiaan ketika bersama dalam kelas, saling berbagi ilmu dan pengalaman, konsultasi kepada guru-guru, pesan dan kesan, kritikan dari siswa-siswi, serta lainnya. semuanya menjadi motivasi bagi kami untuk selalu memperbaiki kualitas.

Siapa yang tidak bahagia, ketika beban tugas sudah tidak ada, siapa yang tidak sedih ketika akan berpisah dengan orang-orang yang dicintai dan disayangi. Tentunya semua orang merasakan. Takdir tidak dapat dilawan, tidak boleh tidak, kami harus tetap melaksanakan acara perpisahan ini meski sedikit terasa pahit.

Ada rasa bahagia ketika kami memberikan kenangan kepada kepala sekolah, waka kurikulum, Dosen pembimbing lapangan, guru pamong.  Hadiah ala kadarnya, isinya tidak seberepa dibanding jasa mereka yang begitu besar, sebagai perekat hati antara kami dan pihak sekolah. Kami tidak dapat memberikan hadiah kepada Siswa Siswi MA Aqidah Usymuni, namun kami dapat saling berbagi rasa melalui karya penampilan. Sehingga rasa kebersamaan selalu ada.

Berbagai saran dan kritik disampaikan oleh siswa siswi, yang kebetulan memang kami minta melalui angket. Bagaimana cara mengajar kami, seperti apa ketika mengajar, apa yang harus diperbaiki. Semua kami minta untuk meningkatkan kualitas.

Harapan demi harapan disampaikan oleh siswa siswi. Satu harapan yang menjadi tali pengikat hubungan kami. Yakni, hubungan silaturrahim. Boleh kami berpisah dan tidak bersama lagi, namu hubungan silaturrahim tetap dijaga sampai ahir nanti. Tidak saling melupakan, jika lupa, kami sepakat untuk saling mengingatkan.  Itulah pengalaman, yang menjadi sejarah hidup perjalanan seorang pelajar dalam menempuh pendidikan.

Putar video dokumentasi:



EmoticonEmoticon