Fanatik madzhab Dan Kemunduran Umat Islam

Fanatik madzhab
Fanatik madzhab dianggap salah satu dari penyebab kemunduran Islam dalam banyak buku sejarah kebudayaan islam kontemporer. Saya termasuk yang meragukan hal tersebut, paling tidak karena tiga hal :

Pertama. Saya meragukan fanatisme madzhab itu ada. Kalaupun ada, maka sifatnya hanya kasuistis dan tidak massif, dan hanya terjadi paling banyak di aras bawah. Mengapa ? Karena kalau kita lihat dan baca guru guru para imam besar sepanjang sejarah Islam maka akan terlihat bahwa kebanyakan imam besar yang dijadikan panutan kaum muslimin memiliki guru lintas madzhab. Di al Azhar misalnya, guru guru yang mengajar di sana sepanjang sejarah memiliki madzhab fiqh yang berbeda namun semua bisa saling menghargai dan menghormati.

Di masa modern jika kita daftar guru ulama' sunni paling terkemuka abad ini, Sayyid Muhammad Alawi al Maliki, maka akan terlihat bahwa beliau memiliki guru bermadzhab Maliki, Syafii dan Hanafi. Di rubath beliau di Rushoifah walaupun beliau bermadzhab Maliki, namun karena menghargai murid murid beliau dari Indonesia yang bermadzhab Syafii maka untuk bidang fiqh --menurut penuturan muri beliau dalam Multaqo ash Shofwah al Malikiyyah barusan di Sampang-- beliau meminta teman temannya yang bermadzhab Syafii mengajar. 

Kedua. Menganggap fanatisme madzhab sebagai sebab kemunduran adalah sebuah penyederhanaan masalah. Kemunduran ummat Islam lebih banyak karena perpecahan politik dan konflik ekonomi antar negara muslim, serta korupsi, kolusi dan pertikaian internal negara Islam. Hal ini berlangsung hingga sekarang. 

Ketiga. Mereka yang menuding madzhab sebagai pemecah belah ummat dan menimbulkan fanatisme seringkali terjebak pada fanatisme tanpa sadar. Kelompok salafi wahhabi misalnya, yang mengajak kembali pada Qur'an dan Sunnah dan memerangi bid'ah, seringkali menganggap diri mereka adalah satu satunya perwakilan ahlus sunnah dan representasi tunggal dari manhaj salaf. HTI yang mengusung isu khilafah seringkali terjebak pada taqlid nyaris total pada pemikiran an Nabhani dan amir amir penggantinya, sembari mengajak ummat berijtihad. Salafi dan HTI ini anehnya mengaku tak bermadzhab, padahal kalau mau jujur mereka sebenarnya bermadzhab. Salafi bermadzhab Taimiy (mengikuti Ibn Taimiyah) atau Wahhabi (mengikuti Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab), sementara HTI bermadzhab Nabhaniyyin. 

Sebagai pemikiran sah saja orang mengikuti pandangan ulama' mana saja yang dia anggap benar. Namun menganggap pandangan dan madzhabnya sebagai satu satunya representasi Islam yang harus diperjuangkan adalah pandangan yang aneh dan kontradiktif. 

NU, sejak dalam anggaran dasarnya, mengaku bermadzhab. Dan mengharuskan pengikutnya menghargai pandangan 4 madzhab. Maka soal ikhtilaf dalam NU tak perlu ditarjih, karena pemikiran 4 madzhab semuanya adalah absah dan mengikuti Qur'an dan Sunnah. Kenapa ? karena NU adalah sebuah aliran yang menghargai fiqh (pemahaman) para ulama' terhadap al Qur'an dan Hadits. (*ahmad halimy)


EmoticonEmoticon