Mengikuti sesuatu yang tidak diketahui

aku tidak tahu
Sering kita mengikuti sesuatu diluar pengetahuan. Mengerjakan apa yang tidak kita ketahui, lebih-lebih masalah Ibadah. Kebanyakan hanya bertaqlid, padahal diberi kemampuan untuk mengkaji. Tak sedikit yang ikut-ikutan lantaran hanya melihat kebiasaan yang dilakukan orang. Itulah kekurangan kita, tidak mau berusaha untuk memahami.

 وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya. sesungguhnya pendengaran, pengelihatan, dan hati seluruhnya itu akan ditanya tentangnya (al Isra:36)

Ibnu Katsir mengatakan: “Kandungan tafsir yang mereka (para ulama) sebutkan adalah bahwa Allah Swt. Melarang berbicara tanpa ilmu, bahkan hanya sekedar sangkaan (karena) yang (demikian) itu hanyalah (merupakan) perkiraan dan khayalan ” (Tafsir Ibnu Katsir:3/43)

Qatadah mengatakan: Jangan kamu katakan bahwa kamu melihat sementara kamu tidak melihat, mendengar sementara kamu tidak mendengar, mengetahui sementara kamu tidak mengetahui karena Allah akan bertanya kepadamu tentang itu semua.

Banyak akibat kalau kita mengikuti yang tidak diketahui. Orang bertanya kita akan malu sendiri, mencari alasan yang justru akan menyimpang. Maka, janganlah malu untuk menjawab tidak tahu. Contohlah imam malik, meski ilmunya tinggi. tidak malu menjawab dengan Laa Adrii, saya tidak tahu.

Islam adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah di dalam kitabNya, disabdakan Nabi di dalam Sunnahnya. Termasuk kesalahan yang sangat berbahaya apabila berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Allah dan RosulNya. Janganlah merusak agama dengan cara yang salah dalam menyampaikan risalahnya.

Termasuk kedustaan atas (nama) Allah apabila berbicara tanpa pengetahuan tentangnya. Sebagaimana kita menyampaikan berita yang tidak diketahui sumbernya.

 وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl: 116)

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata:
Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, Allah telah berfirman:

 وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun (Al-Qashshash:50)” (Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)


EmoticonEmoticon