Kisah Imam Malik bin Anas dan Imam Ibnu Abi Dzi'bin

imam malik

Ada cerita perselisihan dua ulama' besar, Imam Malik bin Anas dan Imam Ibnu Abi Dzi'bin. Dua duanya adalah dua ulama' besar Madinah, yang berselisih sangat keras dalam masalah fiqh hingga menjurus pada serangan pada pribadi Imam Malik oleh Ibnu Abi Dzi'bin. Soalnya adalah pandangan tentang hadits khiyar.

Dalam Siyar A'lamin Nubala' Imam adz Dzahabi menceritakan bahwa Imam Ibn Abi Dzi'bin mendengar bahwa Imam Malik tak mau mengambil hadits
البيعان بالخيار
Penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar.
Mendengar hal ini Imam Ibnu Abi Dzi'bin bereaksi keras : Imam Malik harus disuruh bertaubat. Jika tidak bertaubat, maka lehernya harus dipenggal
Imam Ahmad bin Kholil yang meriwayatkan hal ini menyatakan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi'bin lebih waro' dan lebih berani menyampaikan kebenaran dibanding Imam Malik. Namun adz Dzahabi mengomentari bahwa seandainya Ibn Abi Dzi'bin waro' niscaya ia tidak mengatakan hal ini tentang ulama' besar sekelas Imam Malik. Adz Dzahabi juga menyatakan bahwa ucapan keras Ibnu Abi Dzi'bin ini mungkin tidak shohih karena Imam Ahmad tak menyebut sanadnya.

Syaikh Muhammad Awwamah kemudian menceritakan sebab perselisihan dua imam besar ini. Ternyata ujungnya adalah soal sikap politik. Keduanya pernah diundang Kholifah Abu Ja'far al Manshur al Abbasiy, dan ditanya soal sikap keduanya terhadap pemerintahan al Manshur. Imam Malik menolak berkomentar. Beliau tidak memuji dan tidak juga mencela al Manshur. Ibnu Abi Dzi'bin sebaliknya. Beliau mengkritik keras kebijakan al Manshur yang dianggap dholim dan otoriter. Mungkin karena itu Ibn Abi Dzi'bin dianggap lebih berani (satu hal yang perlu dicatat bahwa Imam Malik bukan penakut. Beliau pernah dihukum cambuk karena menentang pandangan Gubernur Madinah yang masih keluarga kholifah).

Perbedaan sikap politik ini kemudian diduga menimbulkan masalah pribadi di antara keduanya, sehingga perbedaan fiqh kecil pun bisa dibesar besarkan. Hal yang sama menurut para ulama' terjadi antara al Hafidh Abu Nu'aim dan al Hafidh Ibnu Mandah, juga antara as Suyuthi dan as Sakhowi. Hal ini berakibat bahwa kritik antara 2 ulama' itu dianggap tidak obyektif ilmiah karena ada perselisihan pibadi di antara keduanya, sehingga kritiknya tak terlalu bisa dibenarkan.

Saat terjadi bela membela dan cela mencela di antara pendukung ulama' A dan ulama' B ini, saya teringat cerita ini. Saya juga teringat nasihat Habib Umar soal demo 411 :
Yang ikut demo jangan mencela yang tidak ikut demo.
Yang tidak ikut demo jangan mencela yang ikut demo.
Karena muslim, sabda Nabi, bukanlah tukang mencela orang, apalagi sesama muslim.
walLahu a'lam (Kh. Ahmad Halimy)


EmoticonEmoticon