Jatuh Untuk Bangkit Kembali [Oase Hati]

BERHENTI KATAKAN SEANDAINYA KARENA ALLAH YANG TENTUKAN
bangkit kembali


Pernah aku jatuh dan kecewa. Terluka dan bersedih hati. Pernah aku merasa hampa, tak tahu harus apa dan rasa tak bahagia. Di antara warna cerah riang hidupku, tak dapat kupungkiri pernah ada warna buram pedihku. Kubilang, itulah aku yang sempurna sebagai manusia. Ya, sangat jelas bahwa tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Namun, dengan dua sisi dalam hidupku yang saling melengkapi antara sis baik dan sisi buruk, maka sempurnalah diriku sebagai manusia. Untuk itulah sepatutnya aku bersyukur dan tetap berusaha. “Dan iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya (kebaikan itu) kan menghapus keburukan,” begitu sabda Rasulullah yang begitu meneduhkan.

Berbicara tentang rasa yang sedang tak baik, terkadang muncul kegundahan, kegelisahan, rasa tak percaya, pikiran-pikiran yang melayang dan mengarang hingga ke titik psikosomatis. Sangatlah manusiawi. Tak jarang pula muncul kalimat penyesalan seandainya yang justru semakin memperburuk kondisi.

Ah, akulah manusia yang terkadang kurang bersyukur.
“Baiklah manusia, tahukah kau bagaimana seharusnya bersikap?”  ujarku sendiri.
Ya, yang pertama adalah syukur. Syukur, syukur dan syukur. Wain syakartum, laaziidannakum. Jika bersyukur, maka akan bertambah. Mendapatkan kesempatan adalah nikmat yang tak terhingga. Itulah sebab mengapa mesti bersyukur.


Serahkan semua kepada-Nya. Tugasku adalah berusaha, selebihnya Allah yang mengatur dan menentukan. Maka, dengan apapun hasil yang didapat, syukur tidaklah boleh hilang. Tak perlu membudayakan kata ‘seandainya’ yang berkonotasi negatif, mengarahkan pada penyesalan dan kepedihan mendalam. Tak ada yang perlu disesali, berhentilah katakan seandainya, karena Allah tlah tentukan segalanya. Jika Allah kabulkan doa dan harapan kita, maka syukur kita hanya sekali, karena itu adalah pilihan kita. Namun jika Allah tak kabulkannya, maka syukur kita adalah sepuluh kali, karena itu adalah pilihan Allah. Begitu Sayyidina Ali pernah berkata.

Pernah jatuh untuk kemudian bangkit kembali, bukan pernah jatuh untuk kemudian semakin jatuh terperosok. Itulah yang harus kuyakini. Ada Allah yang menggandeng dan memelukku. Dia memberikan pelajaran agar aku mengerti, Dia juga yang terus mendekapku meski dengan cara yang tak kuinginkan dan tak kusadari bahwa sesungguhnya Allah sangatlah menyayangiku dan menghendaki agar aku tetap terus berusaha dan lebih mendekati-Nya.

Allah, maafkan jika sempat ada kata ‘seandainya’ keluar dari lisan dan hatiku. Ampunilah jika itu membuatku kufur dan kurang syukur. Ya, masih ada hari esok. Masih ada kesempatan lain, dan Engkau masih terus membersamaiku.

Allah, keuatkan aku selalu. Buatlah aku ikhlas dan benar-benar mengerti bahwa Engkau memiliki cara untuk kebaikanku, bahwa Engkau tahu keburukan yang akan terjadi padaku jika semua harap dan do’aku Engkau kabulkan.
Allah, selalulah tuntun aku.

Sebuah catatan untuk semua yang sempat jatuh. Masih ada banyak waktu dan kesempatan untuk bangkit kembali. Keep spirit! (Oleh: Qurrotu Ainy Qurani)


EmoticonEmoticon