Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal Kepada Umat Kristen

hukum mengucapkan selamat natal
Natal, merupakan hari raya umat kristen untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus yang dituhankan oleh mereka. Walaupun tidak ada sejarah yang menjelaskan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, namun perayaan ini masih tetap dilaksanakan oleh umat kristen sampai sekarang. Dan dalam buku The Indestructible Jews halaman 227, dijelaskan orang tidak boleh lupa bahwa Yesus itu tidak pernah beragama Kristen. Kata Kristen pertama kali dipakai di Kota Antiokia, Yunani, sekitar tahun 50 Masehi oleh Paulus.

Sejarah singkatnya. Perayaan Natal masuk dalam ajaran Kristen Katolik dimulai pada abad ke-4 M. Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember. Sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai hari kelahiran Yesus (Natal). Peringatan ini berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala, dimana pada abad ke-1 sampai abad ke-4 M. Dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL
Mengucapkan selamat hari natal hukumnya terjadi perbedaan dikalangan ulama. Namun ijmak ulama sepakat bahwa mengucapkan selamat hari natal kepada umat kristiani adalah tidak boleh atau haram. Memang tidak ada ayat atau hadits yang secara husus menyebut tentang hukum orang islam mengucapkan selamat natal kepada kaum kristian. Akan tetapi islam secara jelas melarang umatnya untuk bertasyabuh kepada orang kafir. Allah Swt berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ فَتَـنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mentaati orang-orang yang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang (murtad), maka kamu akan kembali menjadi orang yang rugi". (QS. Al Imran:149)

Jika kita umat islam memberikan ucapak selamat kepada mereka. Lambat laun, setahap demi setahap. Aqidah umat islam akan dicekoki sampai mau mengikuti agama mereka. Kalau kita mau mentaati permintaan mereka  memberikan ucapan selamat di hari natal, maka keyakinan kita terhadap ke-esaan Allah perlu dipertanyakan. Karena Allah Swt tidak beranak dan dipernakkan.

 بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-An’am: 101)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
"Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat)." (HR. Muslim no. 2167)

 مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR Abu Dawud, no 4033; Ahmad, Al Musnad, Juz 3 no. 5114; Tirmidzi, no 2836).

Rasulullah Saw telah jelas memrintahkan kita agar jangan meniru atau menyerupai suatu kaum. Kalau kita tetap mengucapkan selamat natal, itu berarti sama saja menyerupai umat kristen. Kalau menyerupai mereka, berarti ia bagian dari golongan mereka. Na'udzubillah, semoga kita dijaga dan dijauhkan dari perkataan itu.

Maka sebab itulah kenapa orang islam tidak boleh mengucapkan selamat natal. Kalau kita kembalikan kepada arti natal, yakni memperingati hari kelahiran Yesus. Maka sama saja mengakui bahwa Allah punya anak.

PENDAPAT ULAMA TENTANG HARAMNYA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL

Seorang ulama fiqih bermadzhab Syafi'i Imam Abu al-Qasim Hibatullah al-Thabari As-syafi’i berkata:

 قال أبو القاسم هبة الله بن الحسن بن منصور الطبري الفقيه الشافعي ولا يجوز للمسلمين أن يحضروا أعيادهم لأنهم على منكر وزور وإذا خالط أهل المعروف أهل المنكر بغير الإنكار عليهم كانوا كالراضين به المؤثرين له فنخشى من نزول سخط الله على جماعتهم فيعم الجميع نعوذ بالله من سخطه

Telah berkata Abul Qasim Hibatullah bin Hasan bin Manshur At-Thabari, seorang faqih bermadzhab Syafi’i: “Kaum Muslimin tidak boleh (haram) menghadiri Hari Raya non Muslim, karena mereka melakukan kemungkaran dan kebohongan. Apabila orang baik bercampur dengan orang yang melakukan kemunkaran, tanpa melakukan keingkaran kepada mereka, maka berarti mereka rela dan memilih (mendahulukan) kemunkaran tersebut., maka dikhawatirkan turunnya kemurkaan Allah atas jamaah mereka (non-Muslim), lalu menimpa seluruhnya, kita berlindung dari murka Allah.”

Pendapat Imam Shan'ani: Yang dimaksud menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bil kuffar), adalah menyerupai kaum kafir dalam hal aqidah, ibadah, adat istiadat, atau gaya hidup (pakaian, kendaraan, perilaku dll) yang memang merupakan bagian dari ciri-ciri khas kekafiran mereka. (Subulus Salam, 4/175; Ali Ibrahim Mas’ud ‘Ajiin, Mukhalafah Al Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 14)

Demikiam juga dengan Fatwa Syekh Al Utsaimin, di dalam Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin 3/28-29, no. 404. Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama

“Adapun ucapan selamat dengan simbol-simbol yang khusus dengan kekufuran maka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat kepada kafir dzimmi dengan Hari Raya dan puasa mereka. Misalnya ia mengatakan, Hari Raya berkah buat Anda, atau Anda selamat dengan Hari Raya ini dan sesamanya. Ini jika yang mengucapkan selamat dari kekufuran, maka termasuk perbuatan haram. Ucapan tersebut sama dengan ucapan selamat dengan bersujud kepada salib. Bahkan demikian ini lebih agung dosanya menurut Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, membunuh seseorang, perbuatan zina yang haram dan sesamanya. Apabila seseorang memang diuji dengan demikian, lalu melakukannya agar terhindar dari keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia datang kepada mereka dan tidak mengucapkan kecuali kata-kata baik dan mendoakan mereka agar memperoleh taufiq dan jalan benar, maka hal itu tidak lah apa-apa.” (Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1 hal. 442).

“Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-‘Aql 1/425-426).

Ketika Anda mengucapkan selamat natal, sebenarnya Anda telah melakukan pengakuan (na’udzubillah) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melahirkan seorang anak pada 25 Desember. Biarkan kami mengoreksi mereka ketika Anda mengucapkan selamat natal kepada teman kristiani. Anda memberikan pengakuan. Anda memberikan kesaksian bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melahirkan seorang anak pada 25 Desember (Dr. Zakir Naik)

Kalau ditelusuri lebih jauh, tentu masih banyak dalil-dalil serta pendapat ulama-ulama yang berkaitan dengan ketidak bolehannya mengucapkan selamat natal.

BAGAIMANA DENGAN ULAMA YANG MEMBOLEHKAN MUSLIM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL
Sebagian ulama ada yang membolehkan mengucapkan selamat natal kepada umat kristen. Lalu apakah pendapat ulama tersebut salah karena menyelisihi jumhur ulama'? Hanya Allah yang tahu. Namun, perlu diketahui.

Bahwa ulama yang membolehkannya hanyalah pendapat perorangan saja. Bukan kesepakatan bersama yang melibatkan ulama-ulama lainnya. Atau hanya berdasar kesepakatan dalam intern saja. Maka dari itu, lebih utama mengikuti jumhur/ijma' ulama dari pada mengikuti pendapat perorangan. Sebagai umat islam, maka berhati-hatilah.

Ingat, selamat natal artinya SELAMAT ATAS LAHIRNYA YESUS KRISTUS (Tuhan punya anak). Pertanyaannya sekarang, apakah tuhan itu beranak atau diperanakkan?
Wallhu A'lam...

Referensi:
Fadhailul A'mal (Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi)
Kebenaran islam menurut mantan pendeta (Yahya Waloni)
Rumaysho.com
Dakwatuna.com
Eramuslim.com
Hidayatullah.com
Arrisalah.net
Ceramah Dr Zakir Naik Sesi Tanya Jawab
Cermah Hj. Irena Handono ( Kisah beliau masuk islam)


EmoticonEmoticon