Dimensi Gender Konservatisme Agama

konservatisme agama
Konservatisme adalah paham yang menyatakan, bahwa yang terbaik yang bisa dilakukan oleh seseorang adalah berpegang pada tradisi yang telah terbukti berhasil di masa lalu. Tradisi, baik itu tradisi agama, tradisi budaya, ataupun tradisi politik, adalah pedoman hidup tertinggi. Perubahan tentu dimungkinkan, namun hanya sejauh perubahan tersebut tidak bergerak terlalu jauh dari tradisi yang ada. Konservatisme adalah pemujaan nyaris tanpa sikap kritis pada tradisi yang ada.


Pelaku konservatisme agama di Indonesia sekarang ini bukan hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Mereka datang berduyun-duyun menghadiri aksi 411 dan 211. Mereka aktif di media sosial, termasuk grup-grup whatsapp. Dan jangan lupa calon pembom bunuh diri di Bekasi kemarin hari adalah perempuan dengan usia yang masih sangat muda.

Feminisasi konservatisme agama telah berlangsung sejak tahun 1980-an. Hal ini berlangsung marak di kampus-kampus dan sekolah-sekolah umum. Sejak reformasi 1998, sejak kegiatan Dharma Wanita dan PKK tidak aktif lagi, proses ini menguat dan sekarang rasanya tidak akan terbendung lagi. Dalam banyak hal perempuan konservatif lebih militan daripada kaum laki-lakinya.

Proses penguatan konservatisme agama sangat terlihat di kalangan perempuan kelas menengah urban. Setelah merasa cukup dengan pemenuhan kesejahteraan, mereka mencari pemenuhan identitas. Pencarian itu mendapatkan hasilnya tidak dalam arena-arena kewargaan, tetapi dalam kumpulan-kumpulan keumatan. Pengajian menjadi sangat penting, sebab di situlah para perempuan kelas menengah urban itu menemukan jawaban mengenai siapa dirinya di tengah zaman yang dirasa penuh dengan kemerosotan moral. Di situ pula muncul para aa dan ustadz idola yang mengalahkan otoritas kyai dan ulama lama.

Para penganut konservatisme harus belajar dari perdebatan ini, bahwa tradisi selalu mengandung dua muka yang tidak selalu berjalan bersama, yakni muka kebijaksanaan dan muka penindasan. Kesetiaan mutlak pada tradisi, tanpa mengindahkan aspek-aspek penindasan di dalamnya, adalah akar dari konservatisme. Pada titik ini, kita bisa mengajukan pertanyaan sederhana, mengapa konservatisme kembali bangkit di era globalisasi sekarang ini? Mengapa kesetiaan nyaris tanpa sikap kritis pada tradisi kembali menjadi “mode” dewasa ini


EmoticonEmoticon