Seputar Hukum Melaksanakan Shalat Jumat Dijalan

shalat jumat dijalan

Shalat jumat, merupakan salah satu ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap Muslim, semua Ulama sepakat dan tidak ada yang mengingkari bahwa hukum melaksanakan shalat jumat adalah fardu Ain. Barang siapa yang meninggalkannya dengan sangaja maka berdosa. Ibadah Shalat jumat hanya dilaksanakan satu kali dalam seminggu, yakni pada hari jumat. Allah Swt. Berfirman dalam Qs. Al-Jumuah ayat 9-11:

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.”

Kewajiban Shalat Jumat juga berdasarkan Hadits Rasulullah SAW melalui sabdanya:
"Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, kecuali empat golongan yaitu budak, wanita, anak kecil dan orang yang sedang menderita sakit" (HR. Abu Daud dan Al-Hakim)

hadits Thariq bin Syihab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِ أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ

“Jum’atan adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, selain atas empat (golongan): budak sahaya, wanita, anak kecil, atau orang yang sakit.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan no. 1067. An-Nawawi rahimahullah menyatakannya sahih dalam al-Majmu’ 4/349)

Bolehkah orang yang bepergian (musafir) yang berada dalam perjalanan tidak melaksanakan shalat jumat? sebagaimana kita ketahui. Zaman sekarang banyak orang yang melakukan perjalanan, baik dalam rangka bekerja, berwisata, mengunjungi kerabat yang jauh. Dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa shalat jumat tetap wajib dilaksanakan. Pendapat lain menyatakan bahwa boleh seorang musafir tidak melaksanakan shalat jumat. Namun wajib menggantinya dengan shalat dzuhur.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu melakukan safar/bepergian dan beliau tidak shalat Jum’at dalam safarnya. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan haji wada’ di Padang Arafah (wukuf) pada hari Jum’at, beliau shalat zhuhur dan ashar dengan menjamak keduanya dan tidak shalat Jum’at. Demikian pula para al-Khulafa’ ar-Rasyidin. Mereka safar untuk haji dan selainnya, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang shalat Jum’at saat bepergian. Demikian pula para sahabat Nabi selain al-Khulafa’ ar-Rasyidin radhiyallahu ‘anhum dan yang setelah mereka.” (al-Mughni 3/216, Ibnu Qudamah)

Dalil yang menjadi dasar tentang tidak wajibnya Jum’atan atas musafir adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Padang Arafah di hari Jum’at. Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kemudian (muazin) mengumandangkan azan lalu iqamah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat zhuhur. Kemudian (muazin) iqamah, lalu shalat ashar.” (Shahih Muslim, “Kitabul Haj” no. 1218)

Adapun hukum melaksanakan shalat jumat dijalan, ijmak ulama berpendapat bahwa tetap sah dengan mengambil dasar hadits Nabi:

Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ “

Semua tempat di muka adalah masjid kecuali kuburan dan tempat pemandian.” (HR. Tirmidzi, no. 317; Ibnu Majah, no. 745; Abu Daud, no. 492)


Menurut Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitabnya Al-Mughni/3 menyatakan,
 وَلَا يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْجُمُعَةِ إقَامَتُهَا فِي الْبُنْيَانِ ، وَيَجُوزُ إقَامَتُهَا فِيمَا قَارَبَهُ مِنْ الصَّحْرَاءِ .وَبِهَذَا قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : لَا تَجُوزُ فِي غَيْرِ الْبُنْيَانِ “

Tidak disyaratkan untuk sahnya jumat untuk dilakukan di masjid. Boleh saja melakukan shalat Jumat di tanah lapang yang dekat dengan bangunan. Demikian juga yang menjadi pendapat dalam madzhab Abu Hanifah. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh mengerjakan shalat Jumat selain di dalam gedung.”

Ulama yang berpendapat bahwa shalat jumat dijalan tidak sah berdasarkan hadits:
 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يُصَلَّى فِى سَبْعَةِ مَوَاطِنَ فِى الْمَزْبَلَةِ وَالْمَجْزَرَةِ وَالْمَقْبُرَةِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَفِى الْحَمَّامِ وَفِى مَعَاطِنِ الإِبِلِ وَفَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ اللَّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di tujuh tempat: (1) tempat sampah, (2) tempat penyembelihan hewan, (3) pekuburan, (4) tengah jalan, (5) tempat pemandian, (6) tempat menderumnya unta, (7) di atas Ka’bah.” (HR. Tirmidzi, no. 346; Ibnu Majah, no. 746.)

Walaupun hadits diatas tidak menjelaskan secara spesifik tentang shalat jumat. Akan tetapi shalat jumat termasuk dalam ibadah shalat yang tidak boleh dikerjakan disembarang tempat. Walaupun Nabi melarang shalat ditengah jalan (sebagaimana hadits diatas). kenyataannya, Rasulullah tetap melakukan shalat ditengah perjalanan ketika masa masa peperangan. Kesimpulannya boleh melakukan shalat ditengah jalan jika dalam keadaan darurat atau terpaksa.

Misalkan ketika pada hari raya Idul Fitri dan Adha. Banyak masjid-masid yang penuh dengan jamaah, sehingga membuat jamaah membludak kepinggir-pinggir jalan. Mereka terpaksa melakukannya dipinggir jalan karena terpaksa, tidak ada ruang lagi untuk shalat dimasjid.


EmoticonEmoticon