Mewaspadai Kaum Munafik Dizaman Perpolitikan

orang munafik diahir zaman

Siapakah Muslim munafik? Mereka adalah ancaman terbesar bagi umat Islam, sebab kaum munafik bagaikan musuh dalam selimut. mereka menikam dari belakang. Pada zaman Rasulullah, orang-orang munafik menjadi biang kerok kekalahan umat islam dari orang kafir. Karena mereka pula, umat islam terpecah belah. Lihatlah sejarah tokoh munafik Abdullah bin Ubay ibnu Salul yang memecah umat islam dengan memprovokatori tiga ratus munafik lainnya untuk membelot dari peperangan.

Zaman sekarang, jangan mengaggap kaum munafik tidak ada. Mereka akan terus ada sepanjang masa. Apalagi tatkala kekuatan Islam nampak dan mereka benar-benar tidak bisa mengalahkannya. Fenomena ini berlaku dizaman kita bilamana ada orang bijak pandai menepis tafsiran dengan berdalih zaman telah berubah, cara beragama juga harus disesuaikan dengan peredaran masa.

Berapa banyak kita jumpai manusia yang mengaku dirinya muslim namun gerak-geriknya selalu mendukung langkah pihak-pihak kafir. Pernyataan-pernyataannya selalu menguntungkan orang-orang kafir dan menyakiti hati kaum muslimin. Mereka memplintir ayat, mencomot dalil-dalil untuk membenarkan perbuatannya. Fatwanya selalu menyelisihi ulama-ulama generasi terbaik.

Demi kepentingan politik, agama digadaikan. Fatwa fatwa bukan lagi untuk menentukan hukum islam secara benar, melainkan dijadikan alat untuk kepentingan jabatan. Untuk mencari kedudukan pada penguasa.  Lihatlah zaman yang penuh dengan kursi jabatan, tafsir ulama dikesampingkan demi kesuksesan politiknya, seakan merasa dirinya pakar tafsir abad kekinian. Karena kemunafikaannya inilah, kemudian diikuti oleh orang-orang yang haus akan pangkat jabatan, dan diikuti sederetan kaum munafik lainnya.

Allah berfirman:

 إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (An-Nisa’ 145)

Ibnu Juraij mengatakan, “Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya” (‘Umdah At-Tafsir I/78).

Karena itu Rasul Saw bersabda ;
 مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
Barang siapa mati dan tidak pernah berperang, dan tidak terlintas dalam dirinya untuk berperang, maka ia mati di atas suatu cabang kemunafikan (HR. Muslim)
Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar”. (An-Nisa’ 72-73)

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”

Imam Malik pernah berkata, “Nifaq di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu zindiq di masa kita sekarang” (Dalil Al-Falihin II/494).

Ibn Katsir berkata ; “Kemunafikan adalah menampakkan kabaikan dan menyembunyikan kejelekan, kemunafikan ada bermacam-macam ; I’tiqadiy (kemunafikan dalam I’tiqad) inilah kemunafikan yang pemiliknya abadi dalam neraka. Amaliy (kemunafikan dalam beramal) dan ia termasuk dosa paling besar.”

Ibn Umar berkata ;

 إن أشد الناس عذابًا يوم القيامة ثلاثة: المنافقون، ومن كفر من أصحاب المائدة، وآل فرعون

Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari Kiamat ada tiga: kaum munafik, dan orang yang kafir dari Ashabul Ma’idah (kaum nabi Isa yang diturunkan pada mereka makanan dari langit), dan para pengikut Fir’aun.


EmoticonEmoticon