Menyikapi Demo 4 November 2016


Berita Demo besar-besaran, yang akan dilaksanakan pada tanggal 4 Novemver 2016 kian mencuat. Berisiknnya tentang aksi tersebut tak dapat dibendung, baik di dunia nyata lebih-lebih di Dunia Maya. Informasi seputar demo besar-besaran mudah di akses dan mudah di cari. Tidak mencari sekalipun, di beranda medsos sudah bertebaran perihal status-staus demo 4 November.

Saya orang yang anti demo, tidak pernah mendemo meskipun sering berkumpul dengan para pelajar yang disebut agen of change. Tidak bernah ikut aksi walaupun sering nimbrung bersama Organisasi yang sering mengkritik Birokrasi. Saya seorang pelajar, yang tidak suka demo namun tidak membenci yang namanya demo.

Pasca Reformasi, Statistik demonstrasi terus meningkat drastis. Melihat kebijakan tidak tepat, kita demo. Melihat proyek yang tidak kunjung selesai, kita demo. Melihat bantuan salah sasaran, kita demo. Melihat Melihat atasan ndak bijak, kita demo. Melihat bawahan ndak rajin, kita demo. Melihat atasan yang ndak pakai bawahan, kita demo. Pokoknya kita maniak demo(*mojok.co)
demo besar besaran

Lalu, bagaimana kita menyikapi aksi demo bela islam atas dasar penistaan agama. Seorang sahabat bertanya mengenai sudut pandang terhadap aksi bela Islam, sedangkan pelaku Non Muslim sudah minta maaf atas kesalahannya.

Aksi itu terlalu berlebihan karena pelaku sudah minta maaf. Namun aksi demo tersebut juga tidak salah. Karena meminta maaf bukan berarti proses Hukum telah gugur, sementara penegak hukum masih saja diam tidak memproses yang seharusnya dilakukan. Apakah pelaku tindak kriminal tidak dihukum oleh polisi setelah minta maaf? Bukankah sebagian orang yang di dalam penjara itu sudah pernah meminta maaf atas kejahatan yang pernah dilakukan? Namun tetap saja dihukum.

Dan yang paling penting adalah, bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dengan adanya kejadian ini. Biarkan mereka melakukan apa yang akan dilakukan, lebih baik kita melakukan tugas tanggung jawab kita sendiri.


EmoticonEmoticon