Dua Macam Musuh Yang Berbahaya

Qs Al Falaq An Nas

Surat al Falaq dan surat an Nas mengajarkan kepada kita dua macam musuh, musuh dari dalam dan musuh drai luar. Surat al Falaq mengajarkan kita memohon perlindungan Allah dari musuh eksternal yang dari luar, sedangkan an Nas mengajarkan kita memohon perlindungan dari musuh internal yang dari dalam.

Anehnya, di surat al falaq musuh dari luar disebutkan banyak sekali, sejak musuh yang umum (syarri maa kholaq, kejahatan semua makhluq Allah, berarti termasuk bangsa hewan semacam ular dan sebagainya), kejahatan yang dipengaruhi waktu (kejahatan di malam hari, karena malam yang gelap sering jadi sarana berbuat jahat), sampai yang khusus seperti kejahatan tukang sihir dan pengadu domba, serta kejahatan orang orang yang dengki. Dari semua gangguan eksternal ini, sifat Allah yang disebut dalam surat al Falaq hanya satu : Robb-il falaq (Tuhan yang Menguasai waktu shubuh, yang membelah biji bijian, yang menciptakan dengan pembelahan).

Sebaliknya dalam surat an Nas bahaya yang disebut hanya satu yakni bisikan jahat dalam dada, bisikan nafsu, bisikan diri kita sendiri. Di lain pihak sifat Allah yang disebut malah tiga : Robbin nas (Tuhan manusia), Malikin nas (Raja manusia) dan Ilahin nas (Sembahan manusia). Bisikan jahat itu sendiri dicirikan sebagai al waswasil khonnas (bisikan yang maju mundur. Jika kita ingat Allah dan sadar, bisikan itu mundur. Saat kita lupa, bisikan jahat itu maju lagi). Istilah al khonnas ini menunjukkan bahwa dinamika bathin manusia sangat dinamis, dan tidak statis. Orang yang sekarang baik, tak mesti nanti baik. Juga sebaliknya, orang yang sekarang tidak baik bisa berubah. Sifat al khonnas ini juga menunjukkan pentingnya memelihara kesadaran diri dengan dzikir dan pembersihan bathin.

Surat an Nas bagian akhir mengindikasikan bahwa sumber bisikan jahat bisa jadi bersifat eksternal (minal jinnati wan nas, dari golongan jin dan manusia), namun prosesnya tetap saja internal (yuwaswisu fi shudurin nas, berbisik di dalam dada). Ini menunjukkan pentingnya memilih kawan. Kawan yang baik akan mengajak kita untuk berfikir dan bertindak baik, sementara kawan yang salah bisa membawa kita berfikir dan bertindak salah. Sampai di akhirat nanti ada orang masuk neraka dan menyesal, dan di dalam salah satu penyesalannya dia berkata : Duhai seandainya aku tak menjadikan si fulan sebagai teman.

Wal hasil, al Falaq dan an Nas mengajarkan pada kita dua musuh, dari dalam dan dari luar. ia juga mengajarkan bahwa musuh dari dalam, yang bisikannya halus, yang merayu dengan cara cara yang tidak disangka, yang memelintir daya fikir dan daya rasa, yang menghegemoni pola pikir dan pola rasa, adalah lebih berbahaya daripada musuh dari luar yang jelas terlihat jelas memusuhi kita. Musuh dari dalam adalah sejenis musang berbulu domba. Dari sini kita bisa memahami kenapa Umar Bin Khatab pernah berkata :

Aku lebih baik berjalan di belakang singa dari pada berjalan di belakang wanita. Berjalan di belakang singa membuat kita waspada, berjalan di belakang wanita bisa membuat kita terlena. Tak ada yang lebih bahaya daripada bahaya, melainkan bahaya yang tidak terlihat seperti Bahaya.


EmoticonEmoticon