Yang Harus Diketahui Oleh Nusron Wahid

nusron wahid
Nusron Wahid. Orang yang pernah terpilih menjadi Ketua Umum PP GP Ansor. Sarjana Sastra Universitas Indonesia. Mantan Anggota Komisi VI DPR RI. Politikus dari partai Golkar. Yang telah menggoreskan Sebuah catatan sejarah baru. Sejarah yang telah mengegerkan negara ini dengan pernyataan yang tak bisa dicerna dengan akal sehat, yang tak bisa diterima dengan hati nurani.

Salam hangat sehangat waktu saudara Nusron Wahid duduk berdiskusi di ILC. Salam ceria seceria Nusron Wahid menjadi tokoh Publik. Salam indah seindah Nusron menjadi wakil rakyat. Salam santun sesantun seorang santri kepada kiai. Salam salah paham atau pahamnya yang salah. Salam memanas sepanas ketika Nusron berdialog di CNN Indonesia perihal tangkal provokasi. Salam perkataan yang tak selaras dengan perbuatan.

Sebenarnya, tidak pantas saya menulis tentang semua ini. Karena saya hanyalah rakyat biasa. Seorang yang masih mengharapkan ketenangan di Negeri tercinta. Yang mengharapkan hiruk pikuk berisiknya tentang Pilkada ini segara berahir. Karena hati merasa miris  kala melihat sesama rakyat saling menghina, saling mencaci dan saling menyalahkan. Terpaksa saya memberanikan diri, ingin mengungkapkan rasa sedih dan pilunya hati. Mendengar pernyataan Nusron Wahid di Acara ILC. Tulisan ini, bukan untuk ikut campur dalam urusan politik. Akan tetapi, surat ini husus kepada Nusron Wahid yang telah menggoncang ketenangan kami, umat islam.

Saya pribadi merasa tersinggung dengan statmen Nusron Wahid. kenapa tidak, Saya yang pernah belajar dari kecil sampai di Pesantren. seakan, apa yang saya pelajari dari Kitab-kitab ulama merupakan kesia-siaan belaka yang telah membuang buang waktu. Apa yang telah saya baca dari buku-buku karya ulama, bagaikan kerugian besar yang tidak berguna sama sekali. Bukankah kita semua dari dulu menggunakan tafsir Ulama ketika belajar memahami Al Quran?

Guru saya tidak pernah mengajarkan untuk tidak menghargai Ulama. Bahkan guru saya mengajarkan untuk memuliakan Ulama. Entah dari mana saudara Nusron Wahid, mendapatkan keyakinan semacam itu. Bahwa ulama tidak punya hak menafsirkan Al Quran. Saya yakin, Guru Nusron Wahid tidak ajarkan itu untuk kepentingan politik. Sebagai muslim, Nusron Wahid tidak akan menemukan dalam Al Quran maupun hadits bahwa ulama tidak punya hak untuk menafsirkan Al Quran.

Saudara Nusron Wahid, Jika bukan ulama yang menafsirkan Al Quran, dari mana Nusron belajar agama? Jika hanya Allah dan Rasulnya yang paling sah menafsrikan Al Quran. Lantas, dari mana Anda memahami tentang cara beribadah dalam islam? Jika bukan ulama yang menafsirkan Al Quran. Lantas, apakah kami yang awam ini harus mendatangkan Allah Swt untuk memahami Al Quran (Hal ini jelas ngawur)? Jika hanya Rasul yang paling sah menafsirkan Al Quran. Lalu bagaimana caranya kami belajar langsung kepada Rasulullah? Dengan haditsnya kah. Lantas bagaimana jika kami masih tidak paham dengan isi kandungan Al Quran melalui hadits Nabi. Kepada siapa lagi kami harus mencari penjelasan, untuk memahami Al Quran.

Pada awal pembicaraan di ILC. Nusron Wahid berkata, ramainya orang islam tak lain disebabkan karena dua hal. Salah paham atau pahamnya salah. Dalam hal ini, seperti yang anda katakan. Disampaikan dengan kebenaran. Maka saya sampaikan dengan kebenaran pula, bahwa andalah yang salah paham. Salah memahami tentang kedudukan Ulama dalam menafsirkan Al Quran.

Hanya Allah dan rasulnya yang paling sah menafsirkan Al Quran. Bukan MUI, bukan Ahmad Dani, bukan Simanjuntak, bukan pula Saya (Nusron Wahid). Kalau boleh berpendapat, saya sangat setuju kalau anda tidak berhak menafsirkan Al Quran. Karena anda seorang politisi, bukan ahli tafsir. Namun sayang sekalai, Nusron Wahid tidak sesuai dengan ucapannya. Nusron sendiri berusaha memberikan tafsir terhadap Ayat Al Quran dengan membuka sejarah mu'tadid billah. Nusron sendiri berusaha memberikan tafsir  tentang perkataan ahok.

Hal ini bukan untuk menilai siapa dan bagaimana tentang Nusron Wahid. Untuk apa susah-susah menilai orang lain, sementara diri kita masih perlu banyak yang diperbaiki. Apa yang disampaikan ini, tak lain adalah. Mungkin Saudara Nusron Wahid sadar, kalau apa yang disampaikannya adalah kesalahan yang perlu direnovasi, karena terbawa susana yang memanas, sehingga mengeluarkan statmen yang nyeleneh. Atau takut disangka kalah berdebat dengan peserta yang lain di ILC. Dan mungkin, takut pendapatnya tidak diterima oleh halayak ramai. Sehingga Nusron membuat pernyataan seperti itu.

Semoga, apa yang terjadi sekarang ini. Menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu mawas diri, berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata. Tidak terpancing dengan gadunya soal pilihan pilkada. Saya yakin, nanti setelah Pilkada usai, yang saling mencaci karena soal memilih pemimpin. Akan malu dengan sendirinya ketika saling bertemu.

Ahir kata dari seorang Hamba Allah: Jika kita bisa, jadilah seorang Ulama. Jika tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Jika tidak bisa menjadi penuntut ilmu, maka cintailah penuntut ilmu. Jika kita tidak bisa mencintai penuntut ilmu, maka janganlah kita membenci mereka. Wallahu A'lam.


EmoticonEmoticon