Nusron Wahid Dan Sikapnya Terhadap  Al Quran Dan Ulama

kontroversi nusron wahid
Nusron Wahid di acara CNN Indonesia
Izinkan saya menanggapi pernyataan dan perkataan Nusron Wahid, pada acara ILC yang ditayangkan di TV One beberapa hari yang lalu. Saya sadar, saya bukan Politikus, bukan Birokrat, bukan Aparat, bukan ulama, bukan ahli tafsir, bukan ilmuan. Saya hanya seorang pelajar yang ingin terus belajar menimba ilmu di Negeri tercinta ini. Namun, bagaimana saya bisa belajar dengan tenang, jika perbincangan di sekitar, di kampus, di Masyarakat dan dimana mana, serta berita-berita perihal Pilgub Jakarta terus datang tanpa diharapkan. Alih-alih ketika melihat pernyataan Nusron Wahid di Youtube, atas pembelaannya terhadap ahok di ILC Tv One.

Saya tidak mau menyinggung soal pro kontra terhadap ahok, kita punya hak mau mendukung siapa saja walaupun tidak punya hak pilih, karena mendukung tidak harus dengan memilih. Memilih adalah hak mereka yang tinggal di DKI Jakarta. Disini saya ingin mengungkapkan kepedihan hati, mana kala Nusron Wahid dengan kecerdasan dan kepintarannya, memberikan statmen terhadap Al Quran dan penafsiran Ulama.

Sebagaimana yang kita saksikan di Televisi maupun Youtube. Nusron menyebut hanya Allah SWT dan Rasulullah yang paling sah menafsirkan Al Quran. Bukan MUI, bukan Ahmad Dhani, bukan Daniel Simanjuntak, bukan juga saya. Jadi hanya Allah dan Rasulnya yang mengetahui tafsir Al Quran.

Terkesan beliau tidak menghargai hasil tafsir para ulama. Memang benar hanya Allah dan Rasul yang paling mengetahui tentang tafsir Al Quran. Namun jika ulama tidak/kurang sah  menafsirkan Al Quran. Lalu, bagaiamana dengan Firman Allah Ulama disebut sebagai pewaris para Nabi. Dan untuk apa Imam Ibnu Katsir mengarang tafsir dengan kitabnya Tafsir Ibnu Katsir, Imam Muhammad bin Jarir At-Thabari dengan Tafsir At-Thabari, Imam Al Qurthuby dengan kitab Al Jami’ li Ahkamil Quran,  Tafsir Al Manar, Tafsir Al Kabir, dan tafsir-tafsir ulama lainnya.

Jika beliau tidak mengahargai hasil Tafsir Ulama, lalu dari mana saudara Nusron tahu tentang tata cara shalat, puasa, zakat, naik haji, dan amalan ibadah lainnya. Saya yakin seribu yakin, dalam mempelajari agama, Nusron pun menggunakan kitab-kitab atau buku karya Ulama. Pantaskah Nusron mengatakan yang menafsirkan Al Quran bukan Ulama?

Dengan dalih Hermeneutika. Beliau berusaha meyakinkan pendapatnya, bahwa yang namanya teks adalah multi tafsir. Multi tafsir artinya banyak tafsir, yang berarti orang siapa saja dapat menafsirkan. Garis bawahi, jika beliau berkeyakinan Hanya Allah dan Rasul yang paling berhak atau paling sah menafsirkan Al Quran. Lantas kenapa beliau masih mengatakan teks Al Quran Multi tafsir dan membahas tafsir.

Beliau berkata bahwa sebuah teks hanya diketahui oleh pemilik teks dan hanya pembuatnya yang berhak menafsirkan. Jika demikian teks Al Quran hanya diketahui oleh Allah semata dan hanya Allah yang mutlak menafsirkan, dan tidak memperdulikan Tafsir Ulama. lantas apa gunanya al-Qur’an diturunkan jika tidak bisa dipahami dan dipelajari.

Beliau juga berkata dalam dialognya, jadi yang mengetahui maksud dari perkataan ahok ya ahok sendiri, yang tahu perkataan Bu Yani Ya Bu Yani itu sendiri. Sayangnya, Nusron Wahid tidak selaras dan tidak konsisten dengan apa yang dikatakan. Beliau bilang yang tahu tafsir hanya Allah dan Rasulnya, namun beliau sendiri menafsir. Beliau bilang yang tahu Maksud perkataan Ahok ya Ahok sendiri (Pada acara ILC), namun di acara CNN Indonesia beliau bertolak belakang dengan apa yang telah dilontarkan. Silahkan tonton sendiri videonya: di Youtube

1 komentar so far

politik memang bisa menyebabkan seseorang sesat terhadap agamaxa


EmoticonEmoticon