Belajar dari kehilangan versi Qurrotu Ainy Qurani

Kehilangan, memang sesuatu yang tidak kita harapkan. Hati resah gundah gulana jika kita kehilangan sesuatu. Itulah yang dirasakan salah satu seorang facebooker yang jarang muncul kepermukaan. Entah, ia seorang teman atau sahabat, saya kurang tahu pasti. Hihi.. hanya saja dulu pernah satu Pesantren di Al Ishlah. Itupun jarang bertemu, sebab ia senior saya ketika kuliah disana. Saya baru semester satu, dia sudah semester enam.

Kembali ke topik! Pernahkah kita kehilangan sesuatu? Tentu ia. Bahkan saya sendiri tadi malam saat perjalanan diguyur hujan, kehilangan Hand Phone kesayangan yang penuh perjuangan, Galaxy Grand Plus. Sehingga bagi saya, arti dari kehilangan adalah ketiadaan sesuatu tanpa disadari. Namun ada yang menarik, secara kebutulan seorang teman di Fb menerbitkan sebuah catatan dengan judul BELAJAR DARI KEHILANG. Berikut catatanya:
kata bijak kehilangan

Tak cukup sekali aku merasakan kehilangan, mulai dari hal sederhana hingga beberapa hal yang masuk dalam taraf penting. Mulai dari benda, kesempatan hingga nyawa sosok yang kucinta. Saat hilangnya sosok itu dari pandangan, yang kusadari kemudian adalah bahwa sesungguhnya hakikat kehidupan ini adalah kehilangan. Maka benar jika dikatakan “All will end”; semua akan berakhir, likulli syai-in ajal; semua akan menemui ajal. 

Baiklah, hal itu tidak lantas membuatku cengeng atau bahkan mengutuki nasib hidup. Sebaliknya, di tengah kehilangan yang menggiring kepedihan, Allah mengajarkan banyak hikmah untuk direnungi, disyukuri dan disabari. Dia ajarkan arti keikhlasan, kesederhanaan, kerendahan hati, kasih sayang hingga kekuatan serta perjuangan jatuh bangun yang terasa manis. Begitu indah. Dan ketika bisikan setan mengajak untuk mengeluh, menggerutu maupun menyesali, sisi kemalaikatan yang menyinari mengajak untuk menenangkan diri, mengalihkannya pada pikir dan laku manusia baik sejati. Begitu asyik. Baiklah, itu adalah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri. Dan aku, sungguh mensyukurinya. 

Tak cukup sekali aku merasakan kehilangan. Saat kesempatan yang harusnya tak boleh kulewatkan justru menghilang dariku, saat mimpi yang harusnya membawaku terbang justru berlari meninggalkanku, semua memang terasa pedih di hati. Seakan berat untuk dijalani. Namun pancaran cinta-Nya merengkuhku yang tengah lunglai, mendekapku dengan halus lembut firman-Nya. Pun seorang hamba-Nya yang mulia membuatku tersadar akan sabdanya yang mengalir halus. Beberapa kutipan sabda Sang Kekasih di antara banyaknya sabdanya yang ajarkan akhlaq mulia dalam segala pernak-perniknya. Juga perkataan indah Sang Sahabat yang juga menantunya (Ali Bin Abi Thalib) yang menegaskan bahwa “Jika Allah mengabulkan do’aku, maka aku bersyukur satu kali. Jika Allah tidak mengabulkan do’aku, maka aku bersyukur sepuluh kali. Karena yang dikabulkan itu berarti keinginanku, sedang apa yang tidak dikabulkan itu adalah pilihan-Nya, pemberian-Nya.” Allahummaa... Betapa indahnya hidup dalam naungan Islam. Semua terasa begitu indah. 

Lagi, tak cukup sekali aku merasakan kehilangan. Saat beberapa jumlah uang hilang di saat genting dan sangat membutuhkannya, kegalauan menghantam. Pikir terasa berat, panik kian menjadi. Sekali lagi, betapa indah hidup dalam naungan Islam  sehingga kala itu seakan terdapat sirine yang berbunyi, mengingatkan agar bersegera mendekat pada-Nya. Karena hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang. Ketenangan itupun mengalir membawaku pada olah pikir positif yang kemudian semakin kuyakini bahwa apapun itu bisa berubah, mudah dan indah dengan kedekatan pada Allah dan olah pikir positif atau yang biasa disebut mindset. Dan akhirnya, Duar! Amazing! Allah menggantinya dual kali lipat! Sungguh, Maha Benar Allah dengan segala janji-Nya. Dia memberika rezeki min haitsu laa yahtasib, dari arah yang tak terduga.

Hingga bahkan saat benda kesayangan yang cukup berarti dalam hidup pun raib entah kemana, hati tak lagi terbuai dalam kecewa, gerutu, sesal, kepanikan atau sikap-sikap sejenisnya yang melelahkan.  Tak cukup sekali aku merasakan kehilangan benda-benda itu entah karena ketelodaranku ataupun karena kejahatan yang muncul karena adanya kesempatan sebagaimana yang Bang Napi sering ingatkan. Dan betapa indah hidup dalam naungan Islam  sehingga tak perlu melulu dalam haru. Tenang, ikhlas dan percaya bahwa semua adalah titipan, semua mengandung hikmah, semua patut disyukuri dan disabari. Beres. Dan aku tak perlu hanyut dalam lamunan sesal.

Terakhir di hari ini, sore yang semestinya membuatku shock namun aku lebih memilih menetralisir hati. Tenang, ikhlas dan percaya. Bahkan data-data penting di dalam laptop pun bisa saja raib dan bisa saja membuatku kesal bahkan menangis. Namun, betapa indah hidup dalam naungan Islam. Betapa tak ada yang sempurna dalam hidup ini selain Dia Yang Esa. 

Tumbuh-hilang adalah satu dari ketidaksempurnaan yang ada. Dan ketidaksempurnaan itu menyempurnakan. Thank You Allah... I Love You So.

Jombang, 10 Oktober 2016
“Berjalan bersama keyakinan dan pengharapan akan hal-hal baik yang mungkin dan pasti terjadi.” #ai’qurani


EmoticonEmoticon