Makalah Rasmul Quran

makalah rasmul quran
Image: slideshare.net
Membuat makalah rasmul quran, sebenarnya bisa dibilang mudah dan juga bisa dibilang sulit. Mudah kalau hanya copy pasti, sulit kalau memang dikerjakan dengan hasil karya sendiri. Pada waktu saya semester 3 dibangku kuliah. Pernah mendapat tugas membuat makalah dengan judul: Rasmul Quran. Saya merasa bingung, bagaimana mau membuat makalah dengan judul yang sudah banyak di bahas di internet. Ahirnya saya punya cara tersendiri agar makalah yang saya buat merupakan hasil karya sendiri. Namuntetap dengan judul yang sama.

Dalam pembuatan makalah Rasmul Quran. Ada beberapa hal yang perlu dibahas didalamnya. Dan yang paling penting adalah Pengertian Rasmul Quran menurut para ahli. Dari pengertian yang telah anda tulis. Kemudian simpulkan atau jelaskan dengan pemahaman anda. Agar makalah yang telah dibuat tidak sama persis dengan sumber pembuat makalah tersebut.

Karena disini adalah membahas makalah tentang Rasmul Quran. Maka saya akan sedikit memberikan referensi dibawah, untuk mempermudah anda dalam pembuatan makalah tentang rasmul quran.

Contoh Kata Penngantar
Assalamualaikum Wr. Wb.
Bismillahirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Rasmul Quran yang merupakan tugas kami selaku Siswa/Mahasiswa.

Makalah Rasmul Quran ini telah kami susun dengan kemampuan kami dan serta bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dan berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan dalam makalah Rasmul Quran baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.

Oleh karena itu dengan senang hati kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaikinya. Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Kota anda disini, tanggal/bulan/tahun
Ttd : Penyusun

Latar Belakang

Dalam pendidikan ulumul quran, tentu para pelajar diajarkan tentang Rasmul Qur'an. Sebagai bagian dari dalam proses pembelajaran di sekolah dan dibangku kuliah. Rasmul quran sangat penting dipelajari. Rasmul qur’an adalah salah satu bagian disiplin ilmu alqur’an yang mempelajari tentang penulisan Mushaf Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan. 

Rasmul Qur’an dikenal juga dengan nama Rasm Utsmani. Kenapa bisa disebut rasm Utsmani? Karena Istilah tersebut lahir setelah rampungnya penyalinan al quranul karim yang dilakukan  tim yang dibentuk oleh Ustman Bin Affan pada tahun 25H. Kemudian oleh para Ulama cara penulisan ini disebut Rasmul Utsmani. kemudian dinisbatkan kepada Ustman ra. Para Ulama berbeda pendapat tentang penulisan ini, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tulisan tersebut bersifat taufiqi, mereka berlandaskan riwayat yang menyatakan, bahwa Rasulullah menerangkan kepada salah satu juru tulis wahyu. yaitu Mu’awiyah tentang tata cara penulisan wahyu. diantara Ulama yang berpegang teguh pada pendapat ini adalah Ibnul al-Mubarak dalam kitabnya “al-Ibriz” yang menukil perkataan gurunya “ Abdul ‘Aziz al-Dibagh”, “bahwa tlisan yang terdapat pada Rasm ‘Utsmani semuanya memiliki rahasia-rahasia dan tidak ada satupun sahabat yang memiliki andil, sepertihalnya diketahui bahwa al-Quran adalh mu’jizat begitupula tulisannya”. Namun disisi lain, ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa, Rasmul Ustmani bukanlah tauqifi, tapi hanyalah tatacara penulisan al-Quran saja. 

PENDAHULUAN
Puji syukur pertama-tama saya haturkan ke hadirat Allah SWT yang dengan rahmat inayah-Nya saya bisa menyelesaikan makalah sederhana ini yang berjudul ilmu tauhid dan ruang lingkupnya. Semoga bisa bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi kita semua pada umumnya.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Rasmul Qur’an merupakan ilmu yang sangat penting di dalam agama Islam. Sebab, Rasmul Qur’an adalah bagian sebagian dari tanda-tanda agama sejati dan murni yang diturunkan Allah Yang Maha kuasa dan bijaksana. Tanpa mengetahui Rasmul Qur’an, kita tidak akan mengetahui tujuan hidup sebenarnya. Sebab, seorang hamba harus tahu benar siapa yang disembah dan dimana kita akan hidup setelah mati.
  
II.                PEMBAHASAN
A.    Pengertian Rasmul Qur'an
Istilah rasmul al-Quran terdiri dari dua kata yaitu rasm dan al-Qur'an. Kata rasm berarti bentuk tulisan. Dapat juga diartikan dengan `atsar dan alamah. Sedangkan al-Qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., dengan perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepada umat manusia secara mutawatir (oleh banyak orang) dan mempelajarinya merupakan suatu ibadah, dimulai dengan surat al-Patiihah dan diakhiri dengan surat an-Nas. (Chirzin, 1998: 106).
Jadi ilmu rasm Al-Qur'an yaitu ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf Al-Qur'an yang di lakukan dengan cara khusus baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang di gunakannya. Adapun yang di maksud rasm al-mushaf dalam bahasa yaitu : ketentuan atau orang yang di gunakan oleh usman ibn affan bersama sahabat-sahabat lainnya dalam Al-Qur'an berkaitan dengan susunan huruf-hurufnya, yang terdapat dalam mushaf yang di kirim berbagai daerah dana kata serta mushaf al-iman yang berada di tangan usman ibn affan sendiri”
Sementara ulama yang lebih mempersempit rasm al-mushaf yaitu :  apa yang di tulis oleh para sahabat Nabi  menyangkut sebagian lafaz-lafaz Al-Qur'an dalam mushaf usmani dengan pola tersendiri yang menyalahi kaidah-kaidah penulisan Bahasa Arab.
Bagaimana ragam pendapat berkaitan permasalahan rasmul Qur'an. Apakah rasmul Qur'an merupakan tauqif (ketetapan) dari Nabi Muhammad SAW. ataukah bukan. Mengenai permasalahan ini, muncul dua pendapat di kalangan ulama. Kelompok pertama menyatakan bahwa, rasmul Quran adalah tauqifi dari Nabi Muhammad saw. Sedangkan kelompok kedua menyatakan bahwa, rasmul Quran adalah bukan taugifi dari Nabi Muhammad SAW.
Menurut Kelompok pertama, bahwa rasmul Qur'an adalah tauqifi dan metode penulisannya dinyatakan sendiri oleh Rasulullah SAW. Pendapat ini dianut dan dipertahankan oleh Ibnu Mubarak yang sependapat dengan gurunya Abdul Aziz ad-Dabbagh. la menyatakan bahwa, tidak seujung rambutpun huruf al-Qur'an yang ditulis atas kehendak seorang sahabat nabi atau yang lainnya. (as-Shalih, 1990:361)
Sedangkan kelompok kedua berpandangan bahwa, rasmul Qur'an tersebut tidak masuk akal kalau dikatakan tauqifi. Pendapat ini dipelopori oleh Qadhi Abu al-Bagilani. la mengatakan bahwa mengenai tulisan al-Qur'an, Allah swt. sama sekali tidak mewajibkan kepada umat Islam dan tidak melarang para penulis al-Qur'an untuk menggunakan rasam selama itu (baca; Utsman bin Affan). Yang dikatakan kewajiban hanyalah diketahui dari berita-berita yang didengar. (as-Shalih, 1990:366)

B.     Pola Penulisam Al-Qur'an Dalam Mushaf Usmani
Terdapat beberapa pola penulisan Al-Qur'an versi mushaf usamni yang menyimpang dari kaidah penulisan bahasa arab.
1.      Penghilangan huruf (al-hadzf)
Al-Hadzf ini terdiri dari enam bagian, yaitu:
a.       Menghilangkan huruf, alif yaitu dari ya al-nida (يا ايها النس) dari ha' al-tanbih (ها نكم); dari نا dhamir(انجيكم) lajazh jalalah (الله) dari dua kata (الرحن) dan (سبحن); sesudah huruf lam ( خلنف ); sesudah dua huruf lam dari semua mustanna (رجلن); dari semua jama' shahih baik mudzakkar maupun muannats (سمعون) dan ( المعء منت) dari semua jamak yang satu pola dengan (مسجد) dan dari semua kata bilangan   (  ثلث) dari basmallah dan sebagainya.
b.      Menghilangkan huruf ya, vaitu huruf ya dibuang dari manqush munawwan (bertanwin), baik ketika berharakat rafa' maupun jar (غير ياغ ولاعاد); menghilangkan huruf ya' pada kata خافون، اتفون، اطيعون dan, selain yang dikecualikan.
c.       Menghilangkan huruf lam jika dalam keadaan idqham (اليل) dan (الدي) selain yang dikecualikan.
d.      Menghilangkan huruf waw, yaitu jika terletak bergandengan (فاو الى) dan (لا يستون).
Di samping itu, ada beberapa penghilangan huruf yang tidak masuk kaidah. Misalnya penghilangan huruf alif pada kata dan menghilangkan ya' dari kata ابراهيم serta menghilangkan waw dari empat kata kerja (al-fil) يوم يدع، يمح الله، ويدع الا نسان   dan سندع الزبانيه
2.      Penambahan huruf(al-ziyadah
Penambahan ini, yaitu alif setelah waw pada akhir isim jamak atau yang mempunyai hukum jamak. Misalnya اولو الالباب, ملا قوا ربهم dan  بنو اسرائيل Di samping  itu menambah alif setelah Hamzah marsumah waw (Hamzah yang terletak di atas tulisan waw). Misalnya, تا الله تفتوا  Yang asalnya di tulis تا الله تفتأ Demikian pada kata  ماتة, dalam ayat,فى كل سنبلة ما ئة حية  kata  الرسول Dalam ayat اطعنا الرسولا dan ,سبيل  dalam ayat  فا ضلونا السميلا. Demikian juga penambahan huruf ya pada kata  با يكمatau penambahan huruf waw pada kataاولو، اوليك، اولاء  Dan  اولات.
3.      Kaidah Hamzah
Yaitu apabila hamzah berharakat suku, maka di tulis dengan huruf yang beharakat sebelumnya. Misalnya انذن Dan اوتمن, selain yang dikecualikan. Adapun Hamzah yang berharakat, jika ia berada di awal kata dan bersambung dengan Hamzah itu huruf tambahan, maka ia harus di tulis dengan alif secara mutlak, baik berharakat fathah maupun berharakat kasrah. Misalnya فياي، ساصرف، اولوا، ايون selain yang dikecualikan. Sedangkan apabila Hamzah terletak di tengah maka ia tulis sesuai dengan huruf harakatnya, yakni fathah dengan alif dan kasrah dengan ya serta dlamah dengan waw. Misalnya  سئل، سال، تقرؤه Tetapi apabila huruf yang sebelum Hamzah itu sukun, maka tidak ada tambahan. Misalnya ملء الارض dan  الخبء selain yang dikecualikan.
Di samping itu, jika Hamzah itu terletak di ujung, Makkah ia di tulis dengan huruf dari jenis harakat huruf sebelumnya. Misalnya, kata  سبا، لؤلو dan شاطئ .
4.      Menggantikan Huruf Dengan Huruf Lain
Badl ini ada beberapa macam yaitu :
a.       Huruf alif di tulis dengan waw sebagai penghormatan pada kata الزكوة، الصلوة dan الحيوة   selain yang dikecualikan.
b.      Huruf alif yang di tulis dengan huruf ya pada kata-kata seperti الى، انى، على Yang berartiكيف  (bagaimana)  بلى، متى dan لدى selain kata dalam surat Yusuf.
c.       Huruf alif di ganti dengan nun tawkid khafifah pada kata  اذن.
d.      Huruf ta’ ta’nits (ة) di ganti dengan ta’ maftuhah (ت) pada kata رحمت sebagai yang terdapat dalam surat al-baqarah, al-araf, hud, maryam, al-rum dan al-zukhruf. Di samping itu huruf ta’ta’nits (ة) di tulis dengan ta’ maftuhah (ت) pada kata نعمت sebagai terdapat dalam surat al-baqarah, ali imran, al maidah, ibrahim dan sebagainya.
5.      Menyambungkan dan memisahkan huruf (al washl dan al fashl)
Washl dan fashl banyak ragamnya yaitu :
a.       Kata ان dengan harakat fathah pada hamzahnya, di susul dengan  لا maka penulisannya bersambung dengan menghilangkan huruf nun, misalnyaالا  tidak di tulisان لا  kecuali pada kata ان لا تقولو  dan  ان لا تعبلوا.
b.      Kata من Yang bersambung dengan ما penulisannya disambungkan kata dan huruf nun pada mimnya tidak di tulis, seperti ممن kecuali pada kalimat  من ما ملكت ابما نكم Sebagai terdapat dalam Al-Qur'an surat an-nisa’ dan ar-rum dan kata ممن رزقناكم dalam surat al-munafiqun.
c.       Kata من yang bersambung            dengan من ditulis bersambung dengan menghilangkan-min, sehingga menjadi kata  ممن bukan من منَ
d.      Kata عن yang bersambung  dengan ما ditulis bersambung dengan menghilangkan nun, sehingga menjadi  عمنbukan عن من  kecuali dalam kalimat  ويصر فه عن من يشاء
e.       Kata ان yang bersambung dengan ما ditulis bersambung dengan menghilangkan nun, sehingga menjadi اما
f.       Kata أن yang bersambung dengan ما ditulis bersambung dengan  menghilangkan nun, sehingga menjadi  اما
g.      Kata كل yang diiringi ما Di sambung sehingga menjadi كلما Kecuali pada firman Allah SWT  من كل ماسا لتموه dan   كل ما ردوا الى الفتنة

6.      Kata yang bisa dibaca dengan dua bunyi (ma’ fih qiratani)
Apabila ada dua ayat Al-Qur'an yang memiliki versi qiraat yang berbeda yang dimungkinkan ditulis dalam bentuk tulis dalam bentuk tulisan yang sama, maka pola penulisannya sama dalam setiap Mushaf Ustmaniy. Dalam Mushaf Ustmaniy, kata tersebut di tulis dengan menghilangkan alif Misalnya, kalimat ملك يوم الدين  dan   يخد عون الله
Ayat-ayat tersebut boleh dibaca dengan menetapkan alif (dibaca dua harakat) dan bisa dibaca sebagai haknya lafzh (dibaca 1 harakat). Akan tetapi, apabila tidak memungkinkan ditulis dalam bentuk tulisan yang sama, maka ditulis dalam Mushaf `Utsmaniy dengan rasm al-mushaf yang berbeda. Misalnya kalimat ووصبها ابراهيم بنيه Dalam sebagian mushaf ustmaiy di tulis dan di baca واوصى sedangkan dalam sebagian mushaf lainnya di tulis dan dibaca ووصَ Dan sebagainya.

C.    Hukum  Penulisan Al-Qur'an Dengan Rasmul Usmani
Pada ulama juga berbeda pendapat tentang hal ini apakah kaum muslimin di wajibkan mengikuti rasm usmani dalam penulisan Al-Qur'an ataukah di bolehkan dengan rasm imlai (pola penulisan konvensional).
Beberapa pendapat  para ulama mengenai hal ini yaitu sebagai berikut.
a.       Para ulama mengakui bahwa rasm usmani berhifat tauqifi wajib mengikuti rasm usmani dalam penulisan Al-Qur'an dan tidak boleh menyalahinya, sehubungan dengan itu ahmad ibn hambal berkata :
تحرم مخا لفة خط مصحف عثمان فى واو او الف اوياء اوعير ذالك
Haram hukumnya menyalahi rasm usmani (dalam penulisan Al-Qur'an) seperti huruf wawu alif, ya atau yang selainnya.
Sementara itu ketika Imam Malik di tanya mengenai penulisan Al-Qur'an dengan kaidah hijaiyah (kaidah imla’) Malik berkata :
لا أرى ذلك ولكن يكتب على الكتبه الاولى
“Saya tidak berpendapat demikian. Akan tetapi hendaklah di tulis menurut tulisan pertama.
b.      Para ulama tidak mengetahui bahwa rasm usmani itu bersifat tawqifi, tidak mesti kita mengikuti rasm usmani dalam penulisan Al-Qur'an, dengan kata lain kita di bolehkan menulisnya dengan rasm imlai’
Sehubungan dengan ini mereka menyatakan sebagai berikut :
“Sesungguhnya bentuk dan model tulisan tidak lain hanyalah merupakan tanda atau simbol, karena itu segala bentuk serta model tulisan Al-Qur'an yang menunjukkan arah bacaan yang benar, dapat dibenarkan. Sedangkan rasm usmani yang menyalahi rasm imla’ sebagaimana kita kenal, menyulitkan banyak orang serta bisa mengakibatkan berat dan kacau (bagi pembacanya).
c.       Sebagian ulama berpendapat boleh bahkan wajib mengikuti rasm imlai’ dalam Al-Qur'an yang di runtuhkan bagi orang-orang awam dan tidak boleh menulisnya dengan rasm usmani. Namun rasm usmani pun wajib di pelihara dan di tertarikan.

D.    Faedah Penulisan-Penulisan Al-Qur'an Dengan Rasm Usmani
Penulisan Al-Qur'an dengan mengikuti atau berpedoman kepada rasm usmani yang di lakukan pada masa khalifah usman sangat berfaedah bagi umat Islam.
a.       Memelihara dan melestarikan penulisan al-Qur’an sesuai dengan pola penulisan al-Qur’an pada awal penulisan dan pembukuannya.
b.      Memberi kemungkinan pada lafazh yang sama untuk dibaca dengan versi qira’at yang berbeda, seperti dalam firman Allah berikut ini:
وما يخد عون الا انفسهم (البقرة 2:9)
Lafazh (يحد عون) dalam ayat di atas, bisa dibaca menurut versi qira'at lainnya yaitu Sementara kalau ditulis (يخا دعون) tidak memberi kemungkinan untuk di­baca (يخد عون)
c.       Kemungkinan dapat menunjukkan makna atau maksud yang tersembunyi, dalam ayat-ayat tertentu yang penulisannya menyalahi rasm imla'i, seperti dalam firman Allah berikut ini:
واسماء بنينا ها بأيد وانا لمو سعون (الذاربات \51:47)
Menurut sementara ulama. lafaz (با يد) ditulis dengan huruf ganda ى (الياء), karena memberi isyarat akan ke­besaran kekuasaan Allah SWT. khususnya dalam penciptaan langit dan alam semesta.
d.      Kemungkinan dapat menunjukkan keaslian harakat (syakl) suatu lafaz, seperti penambahan huruf  ayat و (الواو) pada ayat (سا وريكم دار الفاسقين) dan penambahan huruf  ى (الياء) pada ayat (وابتاءى دى الفربى).
E.     Perkembangan Penulisan Al-Qur’an
Sebagian disebutkan dalam sejarah bahwa mushaf ustmaniy yang di tulis oleh panitia empat (Abd Allah bin Zubair, Sa'id al-Rahman bin al-Hants dan Zaid bin Tsabit) belum bertitik dan ber­syakal. Hal ini dikarenakan tanda-tanda seperti itu belum dikenal pada waktu itu. Sekalipun Al-Qur'an di tulis  demikian, akan tetapi dan kaum muslimin dapat membaca Al-Qur'an dengan benar. Mushaf utsmaniy sebagai di ungkapkan al ashari (w. 382 H) di baca oleh kaum muslimin selama sekitar 40 tahun.
Ketika Islam berkembang ke berbagai wilayah yang selanjutnya terjadi akulturasi budaya (perpaduan budaya) antara masyarakat Arab dan non-Arab, pertumbuhan tanda baca dalam penulisan Al-Qur'an me­rupakan hal yang sangat layak, khususnya untuk melestarikan bahasa Arab. Ziyad Ibn Samiyyah, Gubernur Basrah pada masa pemerintahan Muawiyyah (661 -680 M), salah seorang yang mempunyai atensi besar terhadap pembubuhan tanda baca (syakal). Hal ill] tidak terlepas dari pemantauannya terhadap kaum Muslim"" yang melakukan kesalahan dalam membaca Al-Qur'an.  Misalnya, mereka melakukan kesalahan dalam membaca firman Allah SWT (Allah berlepas diri dari orang-orang Musyirikin). Melihat kenyataannya ini, ziyad  bin sammiyah meinta Abu al-Aswad al-Dualliy untuk memubuhkan tanda baca (syakal) dalam mushaf agar tidak terjadi kekeliruan dalam membaca Al-Qur'an di kalangan kaum Muslimin. Kendati demikian, Abu al-Aswad belum meletakkan syakal untuk setiap huruf, kecuali syakal huruf akhir saja. Misalnya untuk tanda fathah. (a) ia membubuhkan tan­da titik satu yang terletak di atas burnt (_._), tanda kasrah (i) dengan membubuhkan titik satu di bawah huruf ()dan tanda dhamah (u) de­ngan titik satu yang terletak di antara bagian-bagian huruf () Sedangkan untuk sukun (mati) tidak diberi tanda apa-apa.
Pertumbuhan tanda baca (syakal) selanjutnva dikembangkan oleh murid al-Dualliy, al-Khalil bin Ahmad. Pada masa Abasiah. Ia telah membuat fathah, dengan membubuhkan huruf alif kecil (') terletak di atas huruf(_), tanda/kasrah dengan membubuhkan huruf ya' kecil (ي) di bawah huruf (ي) dan tanda dhamah dengan membubuhkan tanda kepada huruf waw kecil (و) di atas huruf (و). Adapun tanda sukun (mati) yaitu dengan membubuhkan tanda kepala huruf ha (ح) yang terletak di atas huruf (ح) dan tasydid dengan membubuhkan tanda kepala huruf sin (س) yang terletak di atas huruf  (س).
Seiring dengan ekspansi Islam ke berbagai wilayah dan semakin banyaknya masyarakat non Arab rang masuk Islam, maka timbal upaya untuk membuat tanda-tanda huruf Al-Qur'an. Upaya tersebut tampak pada masa Khalifah Abd al-Malik bin Marwan (685-705 M). Kemudian beliau menugaskan seorang ulama, al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi untuk menyusun tanda-tanda baca Al-qur’an (nugath al-'Ajam). al-Hajj, selan­jutnya menugaskan Nashr bin Ibn Ashim dan Yahya bin Ya’mur (kedua­nya murid al-Dualliy) untuk menyusun tanda-tanda baca tersebut. Atas titah al-Hajjaj kepala dua orang ahli ini, make terdapatlah tanda­-tanda huruf dalam Al-qur’an dengan cara membubuhkan tanda titik (.) pada huruf-huruf yang serupa untuk membedakan antara huruf yang satu dengan huruf yang lain. Misalnya huruf dal (د) dengan dzal (ذ) huruf ha (ه), jim(ج) dan kha (ح) dan sebagainya. Menurut sebuah riwayat, al-Hajjaj telah melakukan perubahan Rasm `Utsmaniy di 11 tempat.
Tokoh-tokoh lain yang membubuhkan tanda huruf Al-qur’an adalah `Ubaidillah bin Zayyad (67 H), yang memerintahkan seorang Persia meletakkan huruf alif, yang pada Rasm `Utsmaniy justru dibuang misalnya, kata ملا ئكة  yang dalam Rasm `Utsmaniy ditulis مكئكة al-Zanjani, seorang warga Madinah, menciptakan bentuk melengkung. Kemudian pengikut al-Dualliy menambahkan tanda-tanda lainnya yaitu dengan meletakkan garis horizontal di atas huruf yang terpisah, baik hamzah maupun bukan hamzah. Sebagai tanda alif washal, mereka meletakkan garis vertikal jika sebelumnya fathah dan ke bawah jika sebelumnya dhamah.
Adanya pembubuhan tanda-tanda huruf tersebut menimbulkan pro dan koma di kalangan ulama paling tidak sampai generasi tabi'in. Untuk selanjutnya, para ulama banyak yang mendukung upaya terse­but. Pertimbangan mereka, banyak kaum Muslimin yang merasa ke­sulitan membaca Al-qur’an disebabkan mereka bukan penduduk di wilayah Arab.

Pendapat Para Ulama Tentang Rasmul Qur’an.
Para ulama telah berbeda pendapat mengenai status rasmul Al-Qur’an ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa rasmul qur’an bersifat tauqifi.yang mana mereka merujuk pada sebuah riwayat yang menginformasikan bahwa nabi pernah berpesan kepada mu’awiyah,salah seorang seketarisnya, “Ambillah tinta, tulislah huruf” dengan qalam (pena), rentangkan huruf “baa”, bedakan huruf “siin”, jangan merapatkan lubang huruf “miim”, tulis lafadz “Allah” yang baik, panjangkan lafadz “Ar-Rahman”, dan tulislah lafadz “Ar-Rahim” yang indah kemudian letakkan qalam-mu pada telinga kiri, ia akan selalu mengingat Engkau. Merekapun mengutip pernyataan Ibnu Mubarak :“Tidak seujung rambutpun dari huruf Qur’ani yang ditulis oleh seorang sahabat Nabi atau lainnya. Rasm Qur’ani adalah tauqif dari Nabi (yakni atas dasar petunjuk dan tuntunan langsung dari Rasulullah SAW). Beliaulah yang menyuruh mereka (para sahabat) menulis rasm qur’ani itu dalam bentuk yang kita kenal, termasuk tambahan huruf alif dan pengurangannya, untuk kepentingan rahasia yang tidak dapat dijangkau akal fikiran, yaitu rahasia yang dikhususkan Allah bagi kitab-kitab suci lainnya”.
Sebagian besar para ulama berpendapat bahwa rasmul qur’an bukan tauqifi,tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan yang disetujui oleh ustman dan diterima umat,sehingga wajib diikuti dan di taati siapapun yang menulis alqur’an. Tidak yang boleh menyalahinnya, banyak ulama terkemuka yang menyatakan perlunya konsistensi menggunakan rasmul ustmani.
Dengan demikian, kewajiban mengikuti pola penulisan Al Qur’an versi Mushaf ‘Utsmani diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan wajib, dengan alasan bahwa pola tersebut merupakan petunjuk Nabi (tauqifi). Pola itu harus dipertahankan walaupun beberapa di antaranya menyalahi kaidah penulisan yang telah dibakukan. Bahkan Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Malik berpendapat haram hukumnya menulis Al Qur’an menyalahi rasm ‘Utsmani. Bagaimanpun, pola tersebut sudah merupakan kesepakatan ulama mayoritas (jumhur ulama).
Ulama yang tidak mengakui rasm ‘Utsmani sebagai rasm tauqifi, berpendapat bahwa tidak ada masalah jika Al Qur’an ditulis dengan pola penulisan standar (rasm imla’i). Soal pola penulisan diserahkan kepada pembaca. Kalau pembaca lebih mudah dengan rasm imla’i, ia dapat menulisnya dengan pola tersebut, karena pola penulisan itu hanya simbol pembacaan, dan tidak mempengaruhi makna Al Qur’an.
  
Kaitan Rusmul Qur’an Dengan Qira’at
Secara etimologi Qiraat adalah jamak dari Qira’ah, yang berarti ‘bacaan’, dan ia adalah masdar (verbal noun) dari Qara’a. Secara terminologi atau istilah ilmiyah Qiraat adalah salah satu Mazhab (aliran) pengucapan Qur’an yang dipilih oleh seorang imam qurra’ sebagai suatu mazhab yang berbeda dengan mazhab yang lainya.
Qiraat ini ditetapkan berdasarkan sabad-sanadnya sampai kepada Rasulullah. Periode qurra’ (ahli / imam qiraat) yang mengajarkan bacaan Qur’an kepada orang-orang menurut cara mereka masing-masing adlah dengan berpedoman kepada masa para sahabat.diantara para sahabat yang terkenal yang mengajarkan qiraat ialah Ubai, Ali, Zaid bin Sabit, Ibn Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari dan lain-lain. Dari mereka itulah sebagian besar sahabat dan Tabi’in di berbagai negri belajar qira’at yang semuanya bersandar kepada Rasulullah.
Untuk menghindarkan umat dari kekeliruan para ulama berusaha menerangkan mana yang hak mana yang batil. Maka segala qira’at yang dapat disesuaikan dengan bahasa arab dan dapat disesuaikan dengan salah satu mushaf Usmani serta sah pula sanadnya dipandang qira’at yang bebas masuk kedalam qira’at tujuh, maupun diterimanya dari imam yang sepuluh ataupun dari yang lain.
 Meskipun mushaf Utsmani tetap dianggap sebagai satu-satunya mushaf yang dijadikan pegangan bagi umat Islam diseluruh dunia dalam pembacaan Al-Qur’an, namun demikian masih terdapat juga perbedaan dalam pembacaan. Hal ini disebabkan penulisan Al-Qur’an itu sendiri pada waktu itu belum mengenal adanya tanda-tanda titik pada huruf-huruf yang hampir sama dan belum ada baris harakat.
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa keberadaan mushaf ‘ustmani yang tidak berharakat dan bertitik ternyata masih membuka peluang untuk membacanya dengan berbagai qira’at. Hal itu di buktikan dengan masih terdapatnya keragaman cara membaca Al-Qur’an.
Dengan demikian hubungan rasmul Qur’an dengan Qira’at sangat erat. Karena semakin lengkap petunjuk yang dapat ditangkap semakin sedikit pula kesulitan untuk mengungkap pengertian-pengertian yang terkandung didalam Al-Qur’an.Untuk mengatasi permasalahan tersebut Abu Aswad Ad-Duali berusaha menghilangkan kesulitan-kesulitan yang sering dialami oleh orang-orang Islam non Arab dalam membaca Al-Qur’an dengan memberikan tanda-tanda yang diperlukan untuk menolong mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an dan memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an tersebut.
Kesimpulan
1.        Rasmul qur’an atau rasmul ustmani adalah tata cara menuliskan Al-qur’an yang ditetapkan pada masa khalifah ustman bin affan dengan kaidah-kaidah tertentu.
2.        Sebagian para ulama berpendapat bahwa rasmul qur’an bersifat tauqifi, tapi sebagian besar para ulama berpendapat bahwa rasmul qur’an bukan tauqifi,tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan yang disetujui ustman dan diterima umatnya,sehingga wajib wajib diikuti dan di taati siapa pun ketika menulis al-qur’an. Tidak boleh ada yang menyalahinya.
3.        Hubungan antara rasmul qur’an dan qira’ah sangat erat sekali Karena semakin lengkap petunjuk yang dapat ditangkap semakin sedikit pula kesulitan untuk mengungkap pengertian-pengertian yang terkandung didalam Al-qur’an.Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa keberadaan mushaf ‘ustmani yang tidak berharakat dan bertitik ternyata masih membuka peluang untuk membacanya dengan berbagai qira’at. Hal itu di buktikan dengan masih terdapatnya keragaman cara membaca Al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Khudlari, Muhammad, Tarikh At-Tasyri' al-Islami, Maktabah Dar Ihya' al Kutub al-Arabiah, Surabaya, Cet. Tahun 1981
Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah, Al-Mushannaf, Dar El Fikr, Beirut
Al-Suyuthi, Abdur Rahman bin Al-Kamal Jalaluddin, Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an
Al-Kurdi, Muhammad Tahir, 'Ulum al-Qur'an
http://fadliyanur.multiply.com/journal/item/27
http://id.wikipedia.org/wiki/Rasm_al-Qur%27an
Wizarah Al-Awqaf li As-Syu'un Al-Islamiyah, Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah, Darul Wizarah, Kuwait


EmoticonEmoticon