Makalah Aqsamul (Qasam) Qur'an

Makalah Aqsamul (Qasam) Qur'an


makalah tentang Aqsamul/Qasam Al Qur'an. Bagi saudara yang sedang mendapat tugas untuk membuat makalah Aqsamul Qur'an. Silahkan simak, apa saja unsur-unsur dalam pembuatan makalah Qasam Al quran. Biasanya ketika membuat makalah. Unsurnya diletakkan pada bagian daftar isi. Harap dipahami, saya membuat artikel makalah tentang Aqsamul qur'an ini, bukan untuk meberikan anda jiplakan yang tinggal copy paste kemudian tinggal setor kepada Guru atau dosen. Tetapi disini, saya ingin berbagi seputar tentang pembuatan makalah Aqsamul qura'n.


KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bpk. dosen  dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul Aqsamul Qur'an

Tidak mudah tentunya bagi kami menyelesaikan makalah Aqsamul Qura'an. Dengan segala keterbatasan dan prasaran yang seadanya. Kami tetap berusaha, agar pembuatan makalah ini menjadi sempurna. Walaupun sebenarnya sangat jauh dari kesempurnaan.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, Kami selaku penulis. Sangat mengharapkan kritik konstruktif dan saran yang sifatnya membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan. khususnya bagi pembaca dan umumnya bagi teman-teman semua.

BAB I.
PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah kitab petunjuk, yaitu petunjuk untuk mengenal akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia, petunjuk untuk mengenal akhlak akhlak yang harus diikuti oleh manusia dan petunjuk mengenal syariat dan hukum yang harus diikuti oleh mansuia , baik dalam hubungannya dengan Allah maupun sesama manusia ( Shihab, 1999: 40 ).
            Banyak cara untuk memperoleh petunjuk Ilahi, di antaranya melalui membaca Al-Qur’an. Membaca, dalam pengertian ini, bukan hanya melafalkan teks yang dibaca , tetapi membaca dalam arti sebenarnya yaitu membaca, meneliti , mendalami, mengetahui ciri-ciri sesuatu, membaca alam, membaca tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis. Membaca seperti inilah yang dimaksud dan terangkum dalam wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw. ( Shihab, 1998: 5 ). Proses pencapaian hidayat melalui aktivitas membaca dalam arti luas digambarkan oleh Quraish Shihab ( 1998: 16 ) sebagai berikut : Apabila anda duduk termenung seorang diri, pikiran mulai tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi, terdengarlah suara nurasi, yang mengajak Anda untuk berdialog, mendekat bahkan menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Mahamutlak...Suara hati yang Anda dengarkan itu, adalah suara fitrah manusia. Setiap orang memiliki fitrah itu, dan terbawa olehnya sejak kelahiran, walau seringkali- karena kesibukan dan dosa- ia terabaikan, dan suaranya begitu lemah sehingga tidak terdengar lagi. Tetapi bila diusahakan untuk didengarkan, kemudian benar-benar tertancap di dalam jiwa, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali kepada Allah semata.
            Qasam yang banyak ditemukan dalam redaksi kalimat di Kitab Al-Qur’an sangat perlu dibaca dan ditelaah. Ada rahasia apa dibalik pemakaian qasam dalam Al-Qur’an. Secara singkat, pemakalah akan membahas materi aqsam dalam Al-Qur’an, yang dimulai dari pengertian qasam, faedah qasam, unsur sighat qasam dan macam-macam qasam.

A. Latar Blakang

Aqsam Al-Qur’an adalah salah satu disiplin ilmu yang mempunyai peranan penting bagi seorang pelajar, dan kepada semua umat islam secara umumnya. Ketika Rasulullah SAW menyampaikan Al-Qur’an kepada Umatnya, sebagian orang kafir Quraisy ingin menandinginya dengan cara membuat ungkapan-ungkapan atau syair yang sengaja mereka buat untuk merendahkan Nabi SAW. Sehingga Nabi menghadapi tantangan luar biasa dari masyarakat kafir Quraisy saat itu.

Namun, sebagian dari kalangan kafir Quraisy menerima kebenaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga dari sini kita dapat memahami bahwa, jika jiwa manusia itu bersih dari sifat tercela, Insyaallah akan mudah menerima kebenaran dari siapapun kebenaran itu datang. Jiwa yang bersih akan selalu terbuka akan ajaran kebenaran dari firman-firman Allah Swt. Dalam menyampaikan kebenaran itu tidak diperlukan argument atau alasan agar kebenaran itu bisa diterima. Tapi bagi manusia yang hatinya selalu dipenuhi sifat tercela, dipenuhi sifat dengki, maka kebenaran itu akan sulit diterima. Oleh karenanya, dalam menyampaikan ajaran kebenaran kepada manusia seperti ini, diperlukan berbagai cara dan argumentasi agar mereka dapat menerima kebenaran itu.

B.   Rumusan Masalah
  1. Apa Pengertian Aqsamul Qur’an dan bentuk-bentuknya? 
  2. Apa Yang Dimaksud Muqsam Bih?
  3. Apa Itu Muqsam Alaih?
  4. Macam-macam Qasam/atau sumpah dalam al-Qur’an?
  5. Faedah apakah yang terdapat dalam aqsamul Qur’an?

BAB II

A. Pengertian Aqsamul Qur'an

Secara bahasa أقسام merupakan bentuk plural dari kata قسم (qasam) yang berarti sumpah. Namun pada dasarnya, kata qasam berasal dari akar kata dengan huruf-huruf ق ، س ،م yang memiliki dua makna dasar, yaitu indah dan baik, serta bermakna membagi sesuatu dapat dipahami bahwa kata qasam memiliki makna yang lebih luas dan lebih lengkap bahkan lebih mendalam dibandingkan dengan makna al-hhilf. Karena, kataal-hilf lebih dibatasi pada makna yang meragukan sedangkan kata qasam bermakna sumpah dalam arti yang lebih umum

Secara etimologi aqsam merupakan bentuk jamak dari kata qasam. Kata qasam memiliki makna yang sama dengan dua kata lain yaitu : halaf dan yamin yang berarti sumpah. Sumpah dinamakan juga dengan yamin karena kebiasaan orang Arab ketika bersumpah saling memegang tangan kanannya masing-masing.

Secara terminologi qasam didefinisikan sebagai : “Mengikatkan jiwa (hati) untuk tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk melakukannya, yang diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan bagi orang yang bersumpah, baik secara nyata ataupun keyakinan saja.”

B.  Shighat  Shighat (Bentuk  Bentuk) Aqsamul Qur’an.

1.    Bentuk Pertama: Bentuk Asli

Bentuk asli dalam sumpah ialah bentuk sumpah yang terdiri dari tiga unsur, yaitu fi’il sumpah yang dimuta’addikan dengan ba’, muqsam bih dan  muqsam alaih seperti contoh-contoh di atas.

2.    Bentuk Kedua: Ditambah huruf La.

Kalimat yang digunakan orang untuk bersumpah itu memakai berbagai macam bentuk.Begitu pula dalam al-Qur’an ada bentuk sumpah yang keluar dari bentuk asli sumpah. Misalnya bentuk sumpah yang ditambah huruf La di depan fi’il qasamnya seperti Surat Al-Ma’arij : 40, Surat Al-Waqi’ah : 75,Surat Al-Insyiqaq : 16,Surat Al-Haqqah : 38.

Unsur-Unsur Qasam ada tiga yaitu :

1.        Fi’il yang berbentuk muta’addi dengan diawali huruf ب (Ba)

Sighat Qasam baik yang berbentuk uqsimu atau akhlilfu tidak akan berfungsi tanpa berfungsi tanpa dita’adiyahkan dengan huruf ب (Ba).

Contoh :

وَ اَقْسَمُوْا بِاللهِ

“Mereka bersumpah dengan nama Allah” (Q.S. An-Nahl)

Namun kadang kala dalam suatu ayat langsung disebutkan dengan (و ) pada isim Dzahir, kadangkala disebutkan dengan huruf Ta’ (ت) pada lafadz jalalah. Hal ini terjadi manakala fi’il qasam tidak disebutkan dalam ayat tersebut.

Contoh:

Dengan huruf wawu ( و) :

وَا لَّيْلِ اِذَا يَغْشي

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)”. (Q.S. Al-Laili:1).

Dengan huruf ta’ (ت) :

اَصْنَا مَكُمْ... وَتَاللهِ لَاَ كِيْدَ نَّ

“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipudaya terhadap berhala-berhalamu” (Q.S. Al-Anbiya: 57)

2. Muqsam Bih, lafadz yang terletak sesudah adat qasam yang di jadikan sebagai sandaran dalam bersumpah yang juga di sebut sebagai syarat. Allah dalam al-Quran bersumpah dengan Dzat-nya sendiri Yang Maha Suci atau dengan tanda-tanda kekuasaan-nya yang Maha Benar.

Allah Bersumpah dengan Dzatnya sendiri :

Contoh :

وَا لتِّيْنِ وَا لزَّيْتُوْنِ

“Demi (Buah) Tiin dan (buah ) Zaitun”. (Q.S. At-Tin: 1)

وَالَّيْلِ اِذَ يَغْشَي

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)

3. Muqsam ‘alaih, ialah bentuk jawaban dari syarat yang telah disebutkan sebelumnya (muqsam bih). Posisi muqsam ‘alaih terkadangn bisa menjadi taukid, sebagai jawaban Aqsam . Karena yang di kendaki dengan qasam adalah untuk mentaukidi muqsam ‘alaih dan mentahkikannya.

Untuk fi’il madhi yang mutasyarif yang tidak didahului ma’mul, maka jawaban qasamnya seringkali menggunakan lam ( (ل  atau Qod (قَدْ).

Contoh :

وَ قَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا

“ dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya” ( Q.S. Asy-Syams: 10)

 Adapun ungkapan qasam bermacam-macam, yaitu :

a. Secara Dzahir ( terang ), ungkapan sumpah (qasam) dzahir ialah qasam yang disebutkan fi’il qasam dan muqsam bihnya .

Contoh :

لآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Aku bersumpah dengan hari kiamat” (Q.S Al-Qiyamah: 1)

b.        Secara Dhamir (samar), yang dimaksud ungkapan sumpah dengan dhamir adalah ungkapan sumpah yang tidak dengan menggunakan fi’il qasamnya dan tidak pula muqasam bihnya. Tapi qasam disini hanya di tunjukkan oleh adanya lam ( ل ) taukid yang masuk pada jawab qasam seperti Firman Allah :

لَتُبْـلَوُنَّ فىِ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ...

“Kamu sungguh-sungguh akan di uji terhadap hartamu dan dirimu ...” (Q.S Ali Imran: 186)

C. Manfaat Aqsamul Qur’an.

1.    Mempertegas dan memperkuat berita yang sampai kepada pendengar.
2.    Memberikan nilai kepuasan kepada pembawa berita yang telah menggunakan Qasam.
3.    Mengagungkan sifat dan kekuasaan Allah.

Bahasa arab mempunyai keistimewaan tersendiri berupa kelembutan ungkapan dan beraneka ragamuslubnya sesuai dengan berbagai tujuannya. Mukhatab (lawan bicara) mempunyai beberapa keadaan yang dalam ilmu ma’ani disebut Adrubul khabar as-salasah atau tiga macam pola penggunaan kalimat berita, ibtida’i, thalabi, dan ingkar.

Mukhatab terkadang seorang hati yang kosong (khaliyuz zhanni) sama sekali tidak memiliki persepsi akan pernyataan (hukum) yang di terangkan kepadanya, maka pertanyaan yang di sampaikan kepadanya tidak perlu memakai penguat (taukid). Penggunaan perkataan demikian dinamakan Ibtida’i.

Terkang pula ia ragu-ragu terhadap kebenaran pernyataan yang disampaikan kepadanya. Maka perkataan untuk orang semacam ini sebaiknya di perkuat dengan suatu penguat guna menghilangkan keraguannya. Perkataan yang demikian disebut Thalabi.

Dan terkadang ia ingkar atau menolak isi peryataan. Maka pembicaraan untuknya harus di sertai penguat sesuai kadar keingkarannya, kuat atau lemah. Pernyataan yang demikian dinamakan Inkari. Qasam merupakan salah satu penguat perkatan yang masyhur untuk memantapkan dan memperkuat kebenaransesuatu di dalam jiwa. Al-Qur’an diturunkan untuk seluruh manusia dan manusia mempunyai sikap yang bermacam-macam terhadapnya. Diantaranya ada yang meragukan,ada yang mengingkari dan ada pula yang amat memusuhi. Karena itu dipakailah Qasam dalam Kalamullah guna menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan Hujjah, menguatkan Khabar, dan menetapkan hukum dengan cara yang paling sempurna.

Tujuan qasam adalah untuk mengukuhkan dan mewujudkan muqsam’alaih (jawab qasam, pernyataan yang karenanyaqasam di ucapkan). Karena itu, muqsam ‘alaih haruslah berupa hal-hal yang layak didatangkan qasam baginya, seperti hal-hal gaib dan tersembunyi jika qasam itu dimaksudkan untuk menetapkan keberadaannya.

Jawab qasam itu pada umumnya disebutkan. Namun terkadang ada juga yang dihilangkan, sebagai mana jawab “LAU” (jika) sering dibuang , seperti firman Allah :

 كَلاَّ لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ اليَقِيْـنِ

“Janganla begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin”

(Q.S At-takasur 102:5).

Penghilang seperti ini merupakan salah satu uslub paling baik, sebab menunjukkan kebesaran dan keagungan. Dan taqdir ayat ini ialah : “seandainya kamu mengetahui apa yang akan kamu hadapi secara yakin, tentulah kamu akan melakukan kebaikan yang tidak terlukiskan banyaknya.”

Allah bersumpah atas (untuk menetapkan) ppokok-pokok keimanan yang wajib di ketahui makhluk. Dalam hal ini terkadang dia bersumpah untuk menjelaskan tauhid, seperti firmannya yang artinya :

“Demi (rombongan) yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbutan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan  pelajaran , sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.” (as-saffat 37: 1-4)

Terkadang untuk menegaskan bahwa Al-qur’an itu hak, seperti firmannya yang artinya :

“ maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian qur’an. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia.” (Al-Waqi’ah 56: 75-77)

Terkadang untuk menjelaskan bahwa Rasul itu benar, seperti dalam :

“Yaa Siin, Demi qur’an yang penuh hikmah,sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari rasul-rasul.” (Ya-sin 36:1-3).

Terkadang untuk menjelaskan balasan, janji dan ancaman, seperti :

“demi (angin) yang menebarkan debu dengan sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan, dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang di janjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.” (Az-zariyat 51: 1-6)

Dan terkadang juga untuk menerangkan keadaan manusia, seperti dalam

“demi malam apabila menutupi (cahaya, siang), dan siang apabila terang-benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (Al-lail 92:1-4)

Siapa saja yang meneliti dengan cermat qasam-qasam dalam Qur’an, tentu ia akan memperoleh berbagai macam pengetahuan yang tidak sedikit.

BAB III

KESIMPULAN
Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari mekalah di atas, yaitu :
a. Qasam adalah menguatkan sesuatu dengan menyebut nama Allah SWT atau salah satu sifat-Nya dengan menggunakan huruf sumpah ( al-qasam), yaitu waw, ba, dan ta, seperti wallahi ( demi Allah ), billahi (demi Allah ), dan tallahi ( demi Allah ).
b. Qasam berfaedah untuk memantapkan dan memperkuat kebenaran dalam jiwa tentang sesuatu yang diucapkan/ disampaikan kepada mukhatab dengan menggunakan sesuatu yang dipandang agung, besar dan sakral. Dalam Islam, sesuatu yang boleh digunakan untuk sumpah oleh manusia adalah Allah dan sifat-sifatnya, sedangkan bagi Allah berhak menggunakan sumpah dengan apa saja yang dikehendaki, baik Dzat-Nya sendiri ataupun makhluk-Nya.
c. Ada tiga unsur qasam, yaitu fi’il yang Ditransitifkan dengan “ba”( adat qasam), muqsam bih dan muqsam alaih. Adat qasam terdiri dari tiga huruf, yaitu ba, ta, dan wawu. Muqsam bih bagi Allah meliputi Dzat-Nya dan makhluk-Nya, sedangkan bagi manusia, muqsam bih harus kepada Allah atau sifat-sifat-Nya. Muqsam ‘alaih adalah jawab qasam.
PENUTUP
Banyak hal yang belum dibahas dan dikupas dalam makalah ini berkaitan dengan konsep Al-Qur’an mengenai qasam. Hal ini terjadi karena keterbatasan pengetahuan pemalakah, di antaranya hikmah dibalik redaksional aqsam yang digunakan oleh Al-Qur’an. Di samping itu, kesalahan pemahaman pun sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, masukan, kritik, saran yang konstruktif sangat diperlukan demi perbaikan

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Abu Anwar, M.Ag, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar, Penerbit Amzah, Oktober 2005.

Anwar R, 2007. Ulum Al-qur’an. Pustaka Setia. Bandung

Departemen Agama RI, Al-Qur’an  dan terjemahnya. Cet. V; Bandung: CV. Diponegoro, 2005.

Dr. Rosihon Anwar, M.ag, Ulumul Quran. Pustaka Setia, Bandung, 2008

Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta: Litera Antar Nusa, 2000

Rofi’i, Ahmad & Ahmad Syadali. Ulumul Quran I,Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Ahmad Syadali. ‘Ulumul Qur’an I. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1994

Muhammad ali Ash-Shabuuny, Studi Ilmu Al-Quran, Bandung : CV Pustaka Setia, h. 15


EmoticonEmoticon