Agama sebagai produk sains dan teknologi

sains teknologi
Keberagamaan keislaman, tidak mengajarkan bagaimana kita untuk mengembangkan sains dan teknologi. Karena agama ini adalah pedoman untuk hidup yang baik dan benar berdasarkan apa yang diinginkan Allah Swt. Adapun pengembangan sains adalah bertujuan untuk semakin mengenal dan meyakini akan kebenaran Tuhannya. Sedangkan teknologi adalah hasil dari sains tersebut sebagai keperluan mengarungi zaman untuk bekal hidup. 

Ritual keagamaan bukanlah simbolik keagamaan, tetapi bagi kami adalah bukti ketundukan. Simbolik terdengar seperti kemunafikan beragama. karena ia meninggalkan hakikat. Betapa banyak orang beribadah sekedar tuntutan lingkungan, dan lihatlah agama yang dijual politikus adalah simbolik. Rosul utusan Allah pun mengatakan, bahwa beliau diutus untuk memperbaiki akhlaq dan kalian lebih tau urusan dunia kalian. Ketika ketertinggalan sains dan teknologi umat ini dikaitkan dengan menyalahkan keberlangsungan keagamaannya. Maka ini kesalahan yang menyesatkan. Apa iya, agama yang diajarkan Tuhan ada sedikit saja kesalahan? اليوم اكملت لكم دينكمhari ini kusempurnakan bagi kalian agama kalian. 


Cobalah kita kembali kepada sejarah, saat pertama Islam hadir di jazirah arab dimana orang arab, barat, timur seluruh dunia dalam keterpurukan akhlaq, teknologi dan kemanusiaan. Kemudian ketika Islam berkembang, lahir perubahan diseantero dunia dengan dimulainya era ilmu pengetahuan. Timbul pertanyaan lalu bagaimana Islam zaman ini? sungguh kita lihat kembali sejarah. Umat Islam tercerai berai karena kolonialisme dan sebagainya, sebagai realisasi keserakahan mereka yang telah mendapatkan teknologi dan sains yang mereka dapat dari ulama dahulu.

Sehingga ulama sekarang ini kondisinya tepat hanya untuk kembali mempersatukan umat. Umat Islam ini saat ini berjumlah 1 miliar lebih. hanya sedikit yang menjadi ulama sehingga banyak potensi yang bisa diarahkan untuk mendalami berbagai bidang. Tetapi mereka tetap mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu agama dan taat kepada Tuhannya meski ia seorang profesor sekalipun.

Ilmu keagamaan tidak akan mengganggu berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan ia akan membuatnya menjadi sempurna karena akan sesuai dengan aturan Allah. Betapa banyak teknologi yang dibuat manusia yang manusia itu dengannya bertujuan untuk kebaikan, tetapi malah membuat kerusakan. disampingnya atau bahkan tujuannya yang memang tidak tercapai? Itu karena tujuan yang dianggap baik oleh akal bukanlah kebenaran dan kebaikan mutlak karena bersumber dari spekulasi belaka.


Untuk itu sangat perlu disadari, bahwa kebenaran yang mutlak adalah kepada Yang Maha Mutlak. Jadi jangan menyalahkan ketika seorang muslim berkutat mempelajari agamanya atau bahkan ada sebagian yang mengkhususkan diri untuk itu, karena agama tidak akan mengganggu keberlangsungan peradaban karena ialah yang mengatur peradaban menuju kebaikan yang mutlak. Maka emansipasi antara agama dan kehidupan dunia merupakan pemahaman yang salah, karena urusan dunia akan selalu tunduk kepada urusan akhirat.

Apalah dunia ini yang hanya dilewati saja, sedangkan alam akhirat adalah selama-lamanya. Jangan sampai kita terjebak dalam fatamorgana dunia karena kehidupan dunia hanyalah bekal menuju akhirat. Itulah kedudukan dunia, maka tidak pantas agama disejajarkan dengan urusan dunia. 

Adil pada keduanya itulah yang benar. Adil bukanlah berarti sama rata tetapi menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar, yang mana kebenaran ini ada pada ilmu yang didapat dari wahyu dan ilham yang dibenarkan wahyu. Pastinya banyak yang masih perlu dipaparkan akan tetapi saya persingkat agar tidak banyak bertele tele sehingga sampai kepada tujuan yang dimaksud.


EmoticonEmoticon