Tak ada manusia yang sempurna

Kita percaya, tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan tertinggi hanya ada pada Allah. Namun, tak selamanya yang buruk akan selalu trlihat buruk. Hanya saja waktu belum memberi kesempatan untuk merubahnya menjadi baik. Dan kebaikanpun, tak harus terlihat indah dimata banyak orang. Cukup melakukan yang terbaik semampunya, dan Allah lah yang akan menilai semua usaha itu.


Ketika kata pedas yang menusuk mulai terlontar. Ketika perasaan ingin marah mulai mnguasai fikiran, namun bibir dan hati hanya bisa diam dalam tangisan. Ketika itu pula kita sadar, bahwa amat sangat percuma membela diri dalam kemarahan. Mengalah, tapi mngapa kita harus mengalah? Karena memang itulah yang seharusnya kita lakukan. Tidak untuk sekali atau dua kali, tapi untuk berkali kali yang akan datang.


Tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti pernah berbuat salah dan hina, Saling memaafkan akan lebih berguna, daripada saling memendam benci yang tiada guna. Tidak ada manusia yang luput dari dosa, siapapun pasti pernah berbuat dosa, maka janganlah putus asa, sebab dunia hanya sementara.

Muhasabah atas kesalahan akan lebih berguna, membuka lembaran baru untuk kehidupan yang lebih bermakna,  Jangan terpaku pada kesalahan lama, lebih baik mengupgrade  ketebalan iman.

Ingatlah, manusia bukanlah mahluk sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Allah yang maha segalanya. Sebuah kisah yang sangat baik untuk dicerna, kemudia ambil maknanya, lalu berusahalah kita untuk mengamalkannya.

Al-Kisai rahimahullah berkata: Saya shalat mengimami Harun ar-Rasyid. Lalu bacaanku membuatku takjub sehingga saya terjatuh pada sebuah kesalahan yang seorang anak kecil pun tidak akan jatuh pada kesalahan tersebut sama sekali.

Saya ingin membaca { لعلهم يرجعون }, namun saya malah membaca “لعلهم يرجعين”

Beliau melanjutkan: “Maka demi Allah, Harun tidaklah berani berkata kepadaku, “Kamu salah,” akan tetapi ketika selesai salam, ia berkata kepadaku: “Wahai Kisai! Bacaan (bahasa) apa ini?”

Saya menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, kuda yang berlari kencang terkadang juga bisa terjatuh.” Ia berkata: “Adapun ini, maka ya.”

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata "Siapa yang memahami ucapan ini, pasti akan mengerti bahwa seorang alim, Setinggi apa mata kakinya dan sepintar apa ilmunya melainkan pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan dan ketergelinciran yang tidak menodai keilmuannya tidak menurunkan kredibilitasnya dan tidak merendahkan kedudukannya.

Dan barang siapa membawa kesalahan-kesalahan ‘ulama dan keutamaan mereka di atas jalan ini maka dipuji metodenya disyukuri jalannya dan diberi taufik menuju kebenaran." {Siyar A’lamin Nubala’ (1/376)}

Kita hidup untuk mencapai kesempurnaan, meskipun mustahil manusia bisa sempurna. Tapi ingatlah bahwa kita sedang menuju kesempurnaan, kehidupan abadi. Maka jangan pernah merasa paling sempurna, karna kesempurnaan itu hanya milik Allah.


EmoticonEmoticon