Kisah seorang kuli bangunan dan barokah shalat tepat waktu

Kisah seorang kuli bangunan
Kisah seorang kuli yang sering shalat tepat waktu. Sebuah kisah yang menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu meningkatkan Imandan Taqwa. Dan tidak sering meninggalkan shalat hanya gara-gara pekerjaan. Berikut kisahnya dikutip dari laman Fp Dzikir Cinta ditulis oleh Heriyanto.

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ..
Bagaimana kita bisa mengejar rezeki jika kita tidak mau mengejar Yang Mahapemberi rezeki?
Siang begitu terik saat aku dan pekerja proyek lain memangguli batu. Peluh yang mengalir dari kepala hingga membuat basah kaos lusuh yang aku kenakan. Lelah rasanya, tapi harus kulakukan pekerjaan ini demi menyambung hidup keluarga dan menebus biaya rumah sakit anakku. Biaya yang tak sedikit, dan mungkin baru bisa lunas dengan gaji tiga bulan dari hasil nguli di tempat pembangunan gedung ini. Sementara untuk makan sehari-hari? Entahlah.

Di sela pergulatan pikiranku itulah tiba-tiba kumandang adzan dari surau di sudut proyek terdengar. Begitu menggetarkan hatiku yang waktu itu sedang gundah. Rasanya ada selaksa penyesalan yang tiba-tiba mengetuk segumpal darah dalam tubuhku itu. Kuingat wajah istriku. Seorang perempuan yang setiap hari berkeliling, berjalan kaki, menjajakan gorengan dengan membawa tampah anyaman bambu.

“Pokoknya, meskipun sedang banyak kerjaan tapi kalau adzan langsung shalat dulu, Pak,” kata istriku setiap kali melepasku berangkat kerja. Dengan tersenyum aku mengiyakan sekenanya supaya dia lega. Ah, tak tega rasanya harus mengatakan bahwa sebenarnya aku belum bisa melaksanakan pesannya itu. Dia sudah terlalu bekerja keras untuk mengais rupiah, yang seharusnya menjadi kewajibanku sepenuhnya.

Tiba-tiba mataku berpeluh. Mengingat segala kebohongan yang aku sembunyikan dari seorang yang teramat percaya padaku. Jangankan untuk shalat tepat waktu, bahkan untuk menjalankan rukun Islam kedua itu aku masih berat. Dengan kondisi pekerjaan yang mengharuskanku berkotor-kotoran dan teman-teman yang juga tak punya kesadaran membuatku rela menjama’ shalat, terutama Dzuhur dan Ashar. Itu pun kulakukan di penghujung waktu. Saat semua sudah kembali ke rumah masing-masing.

“Dahulukan Allah sebelum yang lain, Pak.” Kembali kalimat-kalimat itu muncul dalam kepalaku. Pesan-pesan yang selalu terucap darinya, ibu dari anak-anakku. Aku pun terhenyak dan kemudian duduk di atas batu yang baru kuletakkan. Saat itulah kuniatkan untuk segera menghapus kegelisahan hati, memenuhi panggilan Illahi.

“Mau kemana, Mas?” tanya seorang teman yang juga sedang mengangkat batu.
“Mau ke masjid dulu,” jawabku sambil mengambil tas. Wajah heran tertangkap saat ia mendengar jawabanku itu. Terdengar asing memang jika ada pekerja, apalagi hanya kuli seperti kami, ke masjid waktu Dzuhur seperti ini. Memang sebentar lagi waktu istirahat, tapi lazimnya waktu itu digunakan pekerja mampir ke warung, bukan masjid.

Lalu kuambilah air wudhu, kualirkan ke sebagian tubuh yang sudah berganti baju. Terasa sejuk. Sejenak aku merasa bahwa ada beban yang hilang bersama dengan tetesan air yang mengalir dari permukaan kulitku. Kemudian, segera kulangkahkan kaki masuk ke shaf jamaah yang hanya beberapa orang saja.

Selesai shalat, kupanjatkan doa. Aku bertaubat atas kelalaianku selama ini. Menganggap bahwa hanya dengan usaha bermodal otot bisa menyukupi segala kebutuhan, dan lupa bahwa Allah-lah yang memberi rezeki pada hamba-Nya.

Semenjak itulah, aku selalu menjadi jamaah di surau kecil itu. Aku selalu mencuri waktu supaya tidak mengganggu pekerjaanku. Sindiran dan tatapan mengejek kujawab dengan senyum saja. Sungguh tidak ada lagi kegundahan setelah itu, bahkan aku menjadi lebih semangat bekerja setelah melepas lelah dengan shalat, menghadapkan diri dan hati kepada-Nya.

Hingga saat aku menerima tawaran bos yang menangani proyek untuk menjadi ahli instalasi listrik gedung yang sedang dibangun. Awalnya aku ragu dengan tawaran itu, tapi dengan berbekal sedikit ilmu ketika sekolah di STM, akhirnya aku mantapuntuk menerimanya. Dan tanpa kuduga, ternyata gaji yang kudapat 10 kali lipat gajiku saat menjadi kuli. Dengan begitu, berarti aku tidak harus menunggu tiga bulan untuk melunasi hutangku pada rumah sakit. Bahkan, dengan gaji itu aku bisa bersedekah, sesuatu yang sangat sulit kami lakukan selama ini.

“Alhamdulillah ya, Pak,” kata istriku sambil tersenyum lega setelah menghitung gaji yang baru saja kuberikan padanya.

Aku yang berada di hadapannya mencoba tersenyum. Saat itu hatinya terus bersyukur sambil memaki diri sendiri. Mengapa tak kulakukan pesan istriku sejak dulu. Padahal aku tahu, dalam setiap tutur kata perempuan sederhana itu kutemukan kebenaran yang jelas. Mengingatkanku atas kebenaran syariat yang selama ini ditegakkan dalam agama. Bahwa, memang bukan pekara yang mudah jika kita mengejar rezeki dengan hanya bermodal diri tanpa mendekatkan hati kepada-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab .


EmoticonEmoticon