Memaknai Syukur Yang Benar

Tidak jarang manusia bersyukur hanya jika mendapatkan nikmat berupa materi duniawi saja. Lalu luput mensyukuri nikmat yang jauh lebih hakiki berupa keimanan yang terjaga. Bagi seorang muslim, iman adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Selama keimanan masih tertancap dalam raga, maka tak ada pilihan lain kecuali bersyukur kepada Allah Swt. Dalam shalat lima waktu, seorang hamba wajib mengulang-ulang permohonannya kepada Allah Swt. Untuk diteguhkan dalam nikmat Iman, trsebut. “Ihdina as-Shirat al-mustaqim” tunjukilah kami jalan yang lurus.

Bersyukur tentu tak sekadar membahasi lidah dengan ucapan syukur semata. Sebagaimana dia tak cukup untuk diakui di dalam hati saja tanpa ada refleksi amalan kebaikan. Namun, sikap syukur yang benar adalah ketika seseorang mampu menjadikan rasa syukur di hati menjadi zikir di lidah dan berubah kepada ketaatan kepada Allah semata. Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah. Ini bisa dipahami dari perintah Alah untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia. Firman Allah SWT, ''Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali.'' (QS 31: 14).

Manusia cenderung sulit mensyukuri dan menikmati apa yang ada di tangan karena selalu mengharapkan yang belum dimiliki. Itu karena yang aktif bekerja adalah pikirannya dan bukan hatinya. Akibatnya, selain sulit untuk bersyukur juga menjadi mudah mengeluh. Dan celakanya, saat mengeluh kita justru melakukannya dengan sepenuh hati. Benar-benar dirasakan. Ingat, kekuatan perasaan jauh lebih besar daripada kekuatan pikiran, sehingga apa yang kita keluhkan itulah yang sering mendatangi kita.

Bersyukur berefek pada ketenangan jiwa. Sebab, pada hakikatnya, bersyukur adalah mengingat Dia yang Maha memberi. Dia yang Maha pemurah. Dia yang Maha segalanya. dan dengan terus mengingat semua kebesaran Tuhan itu kita bisa menemukan ketenangan jiwa. Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat. Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS 14: 7).


Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah swt. Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Alloh Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Alloh melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta'ati aturan Alloh dalam segala aspek kehidupan

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244)


Allah Ta’ala berfirman:

“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At Taghabun: 17)
Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini: “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 8/141)


EmoticonEmoticon