Orientasi Psikologis Pembelajaran Pada Anak (Makalah)


Psikologis
DAFTAR ISI
1. BAB I...........................................................................................
          a). Latar belakang..................................................................
          b). Rumusan masalah............................................................
2. BAB II.........................................................................................
          PEMBAAHASAN................................................................
                   a). Orientasi Psikologis Pembelajaran Di Taman Kanak-kanak.
                        b). Orientasi Psikologis Pembelajaran Di Sekolah Dasar.
                        c).     Orientasi Psikologis Pembelajaran Di SMTP dan SMTA.
3. BAB III...........................................................................................
          a). KESIMPULAN..................................................................

BAB  I
PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau "murid") di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa kemajuan melalui serangkaian sekolah. Nama-nama untuk sekolah-sekolah ini bervariasi menurut negara (dibahas pada bagian Daerah di bawah), tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar. (wikipedia)
Anak pra-sekolah adalah mereka yang berusia 3-6 tahun menurut Biechler dan Snowman. Sedangkan di Indonesia, umumnya mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak (3 bulan-5 tahun) dan Kelompok Bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mengikuti program taman kanak-kanak. Dari teori Piaget, ia membicarakan perkembangan kognitif, maka perkembangan kognitif anak masa pra sekolah berada pada tahap pra-operasional (2-7 tahun).
Dalam lingkup yang lebih khusus, terutama dalam konteks kelas, psikologi belajar atau  psikologi pembelajaran banyak memusatkan perhatiannya pada psikologi dan pembelajaran. Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Perilaku yang dimaksud adalah, perilaku motorik yaitu perilaku dalam bentuk gerakan. Perilaku kognitif ialah perilaku dalam bentuk bagaimana individu mengenal alam disekitarnya. Perilaku konatif  ialah perilaku yang berupa dorongan dari dalam individu. Perilaku afektif ialah perilaku dalam bentuk perasaan atau emosi. Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah lebih baik. Berikut adalah pengertian psikologi pembelajaran menurut beberapa ahli :
      1.      H.C. Witherington : Suatu studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidkan manusia.
      2.      Lester D. Crow dan Alice Crow : Pengetahuan praktis yang berguna untuk menerangkan belajar sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah dan fakta-fakta riil.
 Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Fokusnya adalah aspek – aspek psikologis dalam aktivitas pembelajaran, sehingga dapat diciptakan suatu proses pembelajaran yang efektif. Upaya tersebut, dapat dilakukan dengan mewujudkan prilaku mengajar yang efektif pada guru, dan mewujudkan prilaku belajar pada siswa yang terkait dengan proses pembelajaran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa psikologi belajar mempunyai peranan besar dalam proses pembelajaran khususnya bagi kita sebagai calon guru. Maka, dalam makalah inipun mengangkat masalah psikologi belajar dan mencoba mengembangkan materi dari hubungan perkembangan terhadap proses belajar.
      B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, kami merumuskan masalah sebagai berikut:
      1.      Mendiskusikan orientasi psikologis pembelajaran di Taman Kanak kanak.
      2.      Mendiskusikan orientasi psikologis pembelajaran di Sekolah Dasar.
      3.      Mendiskusikan orientasi psikologis pembelajaran di SMTP dan SMTA


BAB  II
PEMBAHASAN
      A.     Orientasi Psikologis Pembelajaran Di Taman Kanak-kanak
        Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa  pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini  merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.
Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.
      1.      Anak bersifat unik.
      2.      Anak mengekspresikan perilakunya secara relative spontan.
      3.      Anak bersifat aktif dan enerjik.
      4.      Anak itu egosentris.
      5.      Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.
      6.      Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.
      7.      Anak umumnya kaya dengan fantasi.
      8.      Anak masih mudah frustrasi.
      9.      Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
      10.  Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
      11.  Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.
      12.  Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.
Saat seorang anak yang menikmati Pendidikan di Sekolah Taman Kanak - Kanak dan sederajat, inilah yang disebut masa mengenal kegiatan belajar.Maksudnya, sejak kelahiran, seorang anak ada dalam fase belajar segala seuatu dan menikmati segala sesuatu yang mereka suka. Ketika masuk ke Sekolah Taman Kanak – kanak  yang bernuansa formal,maka mereka memulai fase belajar tentang segala sesuatu dan menikmati, baik yang mereka suka dan ataupun yang mereka tidak suka. 
Sebagai jembatan kedua fase tersebut diatas, kondisi psikologis yang matang adalah satu - satu nya jalan untuk membuat anak mampu berkembang dan bertumbuh dengan sempurna, dalam arti bukan hanya berkembang dan bertumbuh secara fisik dan secara Intelektual tetapi juga berkembang secara kepribadian untuk membentuk karakter yang cerdas dan mandiri.
Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini, menurut Sujiono dan Sujiono (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 138), pada dasarnya adalah pengembangan kurikulum secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian kompetensi yang harus dimiliki oleh anak.
        Atas dasar pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajaran untuk anak  usia dini       memiliki karakteristik sebagai berikut.
      1.      Belajar, bermain, dan bernyanyi
Bermain merupakan suatu kegiatan yang sudah ada dengan sendirinya pada setiap anak dan menjadi kebutuhan mereka. Melalui bermain anak dapat melepaskan ketegangan-ketegangan yang dialaminya karena banyaknya larangan yang harus ia hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dari kegiatan bermain bersama teman maka ia dapat menilai dirinya sendiri. Anak akan belajar bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku agar dapat bekerja sama dengan orang lain, bersikap jujur, murah hati, tulus. (Rini Hildayani, dkk : Psikologi Perkembangan Anak, 2008 hal : 4.11 - 4.12)
Pembelajaran untuk anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi (Slamet Suyanto, 2005: 133). Pembelajaran untuk anak usia dini diwujudkan sedemikian rupa sehingga dapat membuat anak aktif, senang, bebas memilih. Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alat-alat permainan dan perlengkapan serta manusia. Anak belajar dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan. Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan belajar dilakukan dengan teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan seluruh alat inderanya.

2. Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu :
 b). berorientasi pada usia yang tepat,
 a). berorientasi pada individu yang tepat, dan
 c). berorientasi pada konteks sosial budaya (Masitoh dkk., 2005: 3.12).
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati, kemampuan yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut menantang untuk dilakukan anak di usia tersebut. Manusia merupakan makhluk individu. Perbedaan individual juga harus menjadi pertimbangan guru dalam merancang, menerapkan, mengevaluasi kegiatan, berinteraksi, dan memenuhi harapan anak.
Selain berorientasi pada usia dan individu yang tepat, pembelajaran berorientasi perkembangan harus mempertimbangkan konteks sosial budaya anak. Untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang bermakna, guru hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat, faktor budaya yang melingkupinya.
      B.     Orientasi Psikologis Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. Harapan tersebut seringkali kandas dan tidak bisa terwujud,  karena banyak siswa tidak seperti yang diharapkan. Maka sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar. Sebagai petanda bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar dapat diketahui dari berbagai jenis gejalanya seperti dikemukakan Abu Ahmadi (1977) sebagai berikut :
      1.      Hasil belajarnya rendah, dibawah rata-rata kelas
      2.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya.
      3.      Menunjukkan sikap yang kurang wajar, suka menentang, dusta, tidak mau menyelesaikan tugas-tugas dan sebagainya.
      4.      Menunjukkan tingkah laku yang berlainan seperti suka membolos, suka mengganggu dan sebagainya.
Dalam kondisi sebagaimana dikemukakan diatas, maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan sosial, (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi. Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif .
Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
     1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh         kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
     2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
     3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
     4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang,  dusta dan sebagainya.
     5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
     6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Usia sekolah dasar, walaupun anak sudah bisa bekomunikasi, tetapi masih belum dapat mengungkapkan secara sempurna apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan. Masalah emosional yang biasa timbul :
      1.      Malas belajar sebenarnya karena perasaan / emosi yang tidak tenang / takut.
      2.      Lebih senang bermain daripada belajar karena suasana rumah yang tidak nyaman atau hubungan dengan anggota keluarga yang tidak menyenangkan.
Usia dimana anak senang mencoba hal-hal baru. Orang tua jangan salah mengembangkan bakat yang dimiliki dan bidang minat yang perlu diarahkan. Masalah yang biasanya timbul, karena melihat anaknya bisa menyanyi, menari dan olahraga maka semuanya dikembangkan tanpa kendali.
      C.     Orientasi Psikologis Pembelajaran Di SMTP dan SMTA
Anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dapat dikategorikan sebagai anak usia remaja awal. Pada umumnya ketika usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah masa remaja awal setelah mereka melalui masa-masa pendidikan Sekolah Dasar.  Dimasa remaja awal atau masa puber adalah periode unik dan khusus yang ditandai dengan perubahan-perubahan perkembangan yang tidak terjadi dalam tahap-tahap lain dalam rentang kehidupan. Dari suatu perubahan yang terjadi pada masa remaja ini membawa suatu konsekuensi mengenai metode dan materi tentang kegiatan pembelajaran. Banyak pendapat dari pakar psikologi yang mengatakan bahwa usia anak didik mempengaruhi daya tangkap dan kemampuan belajarnya.  Usia SMP berkisar antara 11 th-14 th, dan usia SMA berkisar antara 15 th-18 th. Pada usia SMP, anak-anak memasuki usia remaja, yang mengubah kondisi fisik dan mentalnya dari alam kanak-kanak menjadi alam remaja. Pada tahap ini anak mulai mencari jati dirinya, siapa dia, dari mana dia berasal, ke mana dia akan menuju (cita-cita). Dan tentu saja jawaban itu tak bisa didapatnya dalam pendidikan di SMP. Oleh karena itu pendidikan di masa SMP hendaknya menyediakan peluang/pilihan ilmu, keahlian yang banyak kepada para siswa.
Adapun anak-anak usia SMA, mereka mulai menyadari eksistensinya, dan mulai membentuk diri dan karakternya.  Anak-anak mulai mantap cita-citanya dan sudah melatih diri untuk menjadi sesuai yang dicita-citakan.  Misalnya anak-anak yang bercita-cita menjadi olah ragawan, mulai latihan menggembungkan otot.  Anak-anak yang ingin bekerja di bidang sains mulai menyukai dan melatih diri di bidang ini. Karenanya pendidikan di masa SMA harus dibuat dengan pilihan yang menyempit dan mendalam.
Walaupun subjek pembelajaran dalam setiap kegiatan belajar senantiasa bertindak sebagai keseluruhan jiwa raga, namun untuk memudahkkan kita dalam mempelajarinya diperlukan proses psikologi yang berlangsung selama pristiwa pembelajaran tersebut. Diantara unsur-unsur psikis yang sangat besar peranannya dalam pembelajaran adalah :
      1.      Perhatian
      2.      Pengamatan
      3.      Tanggapan
      4.      Fantasi
      5.      Ingatan
      6.      Pikiran
      7.      Intelegensi dan bakat serta
      8.      Motif-motif
BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
Psikologi pembelajaran adalah  pengetahuan praktis yang berguna untuk menerangkan belajar sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah dan fakta-fakta riil. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Fokusnya adalah aspek – aspek psikologis dalam aktivitas pembelajaran, sehingga dapat diciptakan suatu proses pembelajaran yang efektif. Upaya tersebut, dapat dilakukan dengan mewujudkan prilaku mengajar yang efektif pada guru, dan mewujudkan prilaku belajar pada siswa yang terkait dengan proses pembelajaran.
                 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa psikologi belajar mempunyai peranan besar dalam proses pembelajaran khususnya bagi kita sebagai calon guru.Psikologi pembelajaran (selanjutnya disingkat PB) bertujuan memberi bekal kepada para profesional sebagai pendidik (guru) untuk menguasai konsep-konsep dan teori-teori psikologi serta menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.masbied.com/search/orientasi-psikologis-pembelajaran-di-smp-dan-sma
http://toppsycho.tripod.com/%20%20LCM%20TOP/new_page_20.htm
               Hildayani Rini, dkk . (2008). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Universitas     Terbuka
Lilik Wahyu Utomo, (2007). Psikologi Belajar.  Universitas Muhammadiyah Purworejo
(*makalah imam santoso)


EmoticonEmoticon