Makalah Dampak Kekerasan Terhadap Prestasi Belajar Anak


Kekerasan Terhadap Prestasi Belajar Anak
image: http://bp3akb.jabarprov.go.id


KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nyakepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang   Dampak kekerasan pada anak terhadap prestasi belajar ”   
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
   
 Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
   
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Dampak kekerasan pada anak terhadap prestasi belajar ”  Ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
                                                                                     

SUMENEP, MEI 2016
   
                                                                                              Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................         
DAFTAR ISI....................................................................................         
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………..
B. Rumusan Masalah……………………………………………………….
BAB II
PEMBAHASAN
1.1  Pengertian Kekerasan terhadap anak ……………………………….             
1.2  Macam-macam kekerasan terhadap anak…………………………...     
1.3   Dampak kekerasan terhadap anak……………………………..........

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan……………………………………………………………..
Daftar pustaka…………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Berita-berita tersebut makin marak karena semakin baiknya kinerja wartawan dan kejenuhan pemirsa terhadap berbagai berita politk dan sosial yang mengisi wahana informasi publik.Diberlakukannya UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak seolah menjadi antiklimaks dari banyak aktivis perlindungan anak.Padahal UU ini saja tidak cukup untuk menurunkan tingkat kejadian kekerasan pada anak.UU ini juga belum dapat diharapkan untuk mempunyai efek deteren karena belum banyak dikenal oleh aparat maupun masyarakat. Oleh karena itu, kekerasan terhadap anak akan tetap berlanjut dan jumlah kejadiannya tidak akan menurun karena sikon hidup saat ini sangat sulit dan kesulitan ekonomi akan memicu berbagai ketegangan dalam rumah tangga yang akan merugikan pihak-pihak yang paling lemah dalam keluarga itu. Anak adalah pihak yang paling lemah dibanding anggota keluarga yang lain.

Untuk mengatasi persoalan kekerasan terhadap anak memang diperlukan berbagai tindakan sekaligus. Di Indonesia sistem seperti itu belum ada, kita mempunyai pihak-pihak yang dianggap berwenang dan berkompeten dalam menangani kasus-kasus kekerasaan seperti tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan sampai pada tingkat kelurahan, kepolisian, pekerja sosial masyarakat, pendidik, dan profesi kesehatan, tetapi peranan mereka tidak diatur salam sebuah sistem yang memungkinkan mereka saling bekerja sama dan tidak ada kebijakan pemerintah yang membebaskan biaya terhadap tindakan yang diambil untuk meyelamatkan anak. 

Hal lain yang perlu dipikirkan adalah apa yang harus dilakukan terhadap pelaku kekerasaan. Dari berbagai pemberitaan yang muncul di media massa, tidak diketahui apakah para pelaku adalah orang-orang yang mengalami gangguan emosional serius atau pernah menjadi korban kekerasaan pada waktu mereka masih kanak-kanak.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian Kekerasan terhadap anak ?
2.      Apa saja macam-macam kekerasan terhadap anak ?
3.      Apa dampak kekerasan terhadap anak?
            C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian kekerasan terhadap anak
2.      Mengetahui macam macam kekerasan terhadap anak
3.      Mengetahui dampak kekerasan terhadap anak

BAB II
PEMBAHASAN
1.1    pengertian kekerasan terhadap anak

Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan lain-lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, dan hingga batas tertentu tindakan menyakiti binatang dapat dianggap sebagai kekerasan, tergantung pada situasi dan nilai-nilai sosial yang terkait dengan kekejaman terhadap binatang. Istilah “kekerasan” juga mengandung kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.Kerusakan harta benda biasanya masalah kecil dibandingkan dengan kekerasan terhadap orang.

Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk  kekerasan sembarang, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, dan kekerasan yang terkoordinir, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak  seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.

Perilaku kekerasan semakin hari semakin nampak, dan sungguh sangat mengganggu ketentraman hidup kita. Jika hal ini dibiarkan, tidak ada upaya sistematik untuk mencegahnya, tidak mustahil kita sebagai bangsa akan menderita rugi oleh karena kekerasan tersebut. Kita akan menuai akibat buruk dari maraknya perilaku kekerasan di masyarakat
 baik dilihat dari kacamata nasional maupun internasional.
Saat ini kita sebagai bangsa sudah dituding oleh beberapa negara lain sebagai sarang teroris, terlepas dari benar tidaknya tudingan itu. Di mata mancanegara, hidup di Indonesia menyeramkan.Sedangkan sebaliknya, kita di negri ini yang setiap hari hampir tak pernah bebas dari berita-berita kekerasan, mulai dibelajarkan dan terbiasa. Tuntutan untuk survive dan ketidakmungkinan untuk mengelakkan, menyebabkan masyarakat belajar hidup dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Dan pada akhirnya perlahan-lahan kita
 mulai menerima karena terbiasa.

Kalau tiba-tiba jalanan macet tanpa sebab, kita tidak lagi panik, tapi langsung berpikir kalau bukan demo, pelajar berkelahi atau ada bom.Dengan jawaban itu ada semacam ketenangan, sesuatu yang sering terjadi yang menyebabkan respon yang ditimbulkan menjadi biasa-biasa saja.

Kekerasan antara lain dapat pula berupa pelanggaran  yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, dan  hingga batas tertentu kepada binatang dan harta-benda. Istilah "kekerasan" juga berkonotasi kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.
Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk kekerasan sembarang, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak terencanakan, dan kekerasan yang terkoordinasi, yang dilakukan oleh kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak seperti yang terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.
Sejak Revolusi Industri, kedahsyatan peperangan modern semakin meningkat hingga mencapai tingkat yang membahayakan secara universal. Dari segi praktis, peperangan dalam skala besar dianggap sebagai ancaman langsung terhadap harta benda dan manusia, budaya, masyarakat, dan makhluk hidup lainnya di muka bumi.
Secara khusus dalam hubungannya dengan peperangan, jurnalisme, karena kemampuannya yang kian meningkat, telah berperan dalam membuat kekerasan yang dulunya dianggap merupakan urusan militer menjadi masalah moral dan menjadi urusan masyarakat pada umumnya.

kekerasan terhadap anak adalah segala sesuatu yang membuat anak tersiksa, baik secara fisik, mental, maupun psikologis.Oleh para ahli, pengertian kekerasan terhadap anak ini banyak definisi yang berbeda-beda.
Menurut Fontana (1971) dalam Soetjiningsih (2005) memberikan pengertian kekerasan terhadap anak dengan definisi yang lebih luas yaitu memasukkan malnutrisi dan menelantarkan anak sebagai stadium awal dari sindrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spektrum perlakuan salah oleh orang tuanya atau pengasuhannya.
Menurut WHO (2004 dalam Lidya, 2009) kekerasan terhadap anak adalah suatu tindakan penganiayaan atau perlakuan salah pada anak dalam bentuk menyakiti fisik, emosional, seksual, melalaikan pengasuhan dan eksploitasi untuk kepentingan komersial yang secara nyata ataupun tidak dapat membahayakan kesehatan, kelangsungan hidup, martabat, atau perkembangannya, tindakan kekerasan diperoleh dari orang yang bertanggung jawab, dipercaya, atau berkuasa dalam perlindungan anak tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kekerasan terhadap anak adalah perilaku salah baik dari orang tua, pengasuh, dan lingkungan dalam bentuk perlakuan kekerasan fisik, psikis, maupun mental yang termasuk didalamnya eksploitasi, mengancam, dan lain-lain terhadap anak
.
1.2  Macam-macam kekerasan terhadap anak

Tindakan kekerasan atau pelanggaran terhadap hak anak tersebut dapat terwujud setidaknya dalam empat bentuk.Pertama, kekerasan fisik.Bentuk ini paling mudah dikenali.Terkategorisasi sebagai kekerasan jenis ini adalah; menampar, menendang, memukul/meninju, mencekik mendorong, menggigit, membenturkan, mengancam dengan benda tajam dan sebagainya. Korban kekerasan jenis ini biasanya tampak secara langsung pada fisik korban seperti :
luka memar, berdarah, patah tulang, pingsan dan bentuk lain yang kondisinya lebih berat.
Kedua, kekerasan psikis.Kekerasan jenis ini, tidak begitu mudah untuk dikenali. Akibat yang dirasakan oleh korban tidak memberikan bekas yang nampak jelas bagi orang lain. Dampak kekerasan jenis ini akan berpengaruh pada situasi perasaan tidak aman dan nyaman, menurunkan harga diri serta martabat korban. Wujud konkrit kekerasan atau pelanggaran jenis ini adalah; penggunaan kata-kata kasar, penyalahgunaan kepercayaan, mempermalukan orang di depan orang lain atau di depan umum, melontarkan ancaman dengankata-kata dan sebagainya. Akibat adanya perilaku tersebut biasanya korban akan merasa rendah diri, minder, merasa tidak berharga dan lemah dalam membuat keputusan (deccision making).
Azevedo & Viviane mengklasifikasikan bentuk kekerasan psikologis pada anak. Bentuk kekerasan ini dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini
:
1.         Kekerasan anak secara fisik, adalah penyiksaan, pemukulan, dan penganiayaan terhadap anak, dengan atau tanpa menggunakan benda-benda tertentu, yang menimbulkan luka-luka fisik atau kematian kepada anak. Bentuk luka dapat berupa lecet atau memar akibat persentuhan atau kekerasan benda tumpul, seperti bekas gigitan, cubitan, ikat pinggang atau rotan.Dapat pula berupa luka bakar akibat bensin panas atau berpola akibat sundutan rokok atau setrika.Lokasi luka biasanya ditemukan pada daerah paha, lengan, mulut, pipi, dada, perut, punggung atau daerah bokong.Terjadinya kekerasan terhadap anak secara fisik umumnya dipicu oleh tingkah laku anak yang tidak disukai orangtuanya, seperti anak nakal atau rewel, menangis terus, minta jajan, buang air, kencing atau muntah disembarang tempat, memecahkan barang berharga
.
2.         Kekerasan anak secara psikis, meliputi penghardikkan, penyampaian kata-kata kasar dan kotor, memperlihatkan buku, gambar atau film pornografi pada anak. Anak yang mendapatkan perlakuan ini umumnya menunjukkan gejala perilaku maladaftif, seperti menarik diri, pemalu, menangis jika didekati, takut keluar rumah dan takut bertemu orang lain.

3.         Kekerasan anak secara seksual, dapat berupa perlakuan prakontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar (melalui kata, sentuhan, gambar visual, exhibitionism), maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incest, perkosaan, eksploitasi seksual).

4.      Kekerasan anak secara sosial, dapat mencakup penelantaran anak dan eksploitasi anak. Penelantaran anak adalah sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak. Misalnya anak dikucilkan, diasingkan dari keluarga, atau tidak diberikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang layak.Eksploitasi anak menunjuk pada sikap diskriminatif atau perlakuan sewenang-wenang terhadap anak yang dilakukan keluarga atau masyarakat.

      1.3  Dampak kekerasan terhadap anak
Dari sekian kasus, mulai dari percobaan hingga berhasil bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak, lebih banyak diakibatkan oleh kekerasan psikis. Antara kekerasan fisik dan psikis jelas lebih fatal akibatnya kekerasan psikis, apalagi bagi anak-anak usia satu sampai delapan belas  tahun; mereka masih belum mampu berpikir rasional dan membutuhkan pengayoman. Kondisi fisik dan psikologi anak yang masih jauh dari stabil, tentu tidak akan mampu jika mereka dibebani persoalan-persoalan berat yang membebankan pikiran, dan akan berakibat pada penderitaan psikologi. Penderitaan psikis berat pada seorang anak akan mengakibatkan anak ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, kurangnya rasa aman, merasa tidak berdaya, sehingga tak sedikit anak yang kemudian setres, 

Menjadi orangtua setidaknya menyadari bahwa tugas utamanya adalah mendidik dan mengasuh anak sebaik mungkin. Pendidikan dan asuhan merupakan hak anak yang tak bisa ditawar lagi, wajib dipenuhi oleh orangtua sesuai dengan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dan Pasal2UndangUndang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak yang menyebutkan bahwa anak berhak atas: kesejahteraan, pelayanan, pemeliharaan, dan perlindungan dari orangtua.
Selain itu, anak merupakan amanah, titipan tuhan yang wajib dipelihara dan dijaga dengan baik oleh orangtua, mulai sejak dalam kandungan, lahir, hingga ia benar-benar dewasa; bisa melepaskan diri dari ketergantungan kepada orangtua dan menjalani kehidupannya dengan kemampuannya sendiri. Setian anak yang lahir, itu pasti dalam keadaan suci. Kesucian inilah yang mesti dijaga oleh orangtuanya hingga dewasa melalui pendidikan dan pengasuhan. 

Dalam konteks pendidikan, orangtua sepenuhnya bertanggungjawab terhadap pendidikan anak,  buka sekolah atau lembaga pendidikan. Persoalannya, tak sedikit orangtua yang menganggap bahwa, pendidikan anak, itu cukup di sekolah. Padahal, pendidikan keluarga memiliki pengaruh lebih kuat dari pada sekolah dalam pembentukan karakter anak. Karenanya, sinergisitas antara orangtua dengan pihak sekolah sangat penting guna mendidik anak secara utuh.
Sedangkan dalam hal pengasuhan, orangtua berkewajiban kepada anak memberikan rasa aman, pengayoman, perlindungan, motivasi, dan kesejahteraan. Kesuksesan masa depan anak, sangatlah bergantung pada cara pengasuhan orangtua. Seorang anak, suka meniru yang jika diberi contoh tidak baik akan berperilaku tidak baik pula.
Jika semua hal ini terjadi terhadap anak mereka akan mengalmi kemunduran terhadap prestasi belajar mereka di sekolah, semua itu terjadi karena anak tidak dapat fokus terhadap belajarnya karena terlalau banyak tekanan,

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan,  pemerkosaan, dan lain lain) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabka penderitaan atau menyakiti orang lain, kekerasan terhadap anak ada empat macam Kekerasan anak secara social, Kekerasan anak secara seksual,kekerasan anak secara fisik dan kekerasan pada anak secara psikis


DAFTAR PUSTAKA
·         Arief, Barda Nawawi,  (1998) Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Dan Pengembangan Hukum Pidana, Bandung:  Citra Aditya Bakti
·         Breire, John N. Child Abuse Trauma. California: Sage Publications Inc, 1992.
·         Budiardjo, Tri. Anak-anak: Generasi Terpinggirkan?. Yogyakarta: ANDI, 2010.
·         Dumas, Jean E. & Wendy J. Nilsen. Abnormal Child and Adolescent Psychology. Boston: Pearson Education Inc, 2003.
·         Gordon, Thomas. Mengajar Anak Berdisiplin Diri di Rumah dan di Sekolah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
·       wikipedia
 (Makalah oleh: Ahmad Iqbal)


EmoticonEmoticon