Belajar Ilmu Nahwu Adalah Bid'ah?

ilmu nahwu
Pernah suatu waktu, ketika saya mencari artikel tentang nahwu. Menemukan komentar yang mengatakan bahwa Nahwu adalah bid'ah karena tidak ada pada jaman Rasulullah Saw. Komentar tersebut berangkat dari postingan yang ditulis oleh kelompok yang disebut anti bid'ah. Terlepas dari anti atau pro bid'ah, apakah belajar ilmu nahwu adalah bid'ah?

Jika ditinjau dari sisi bahasa, ilmu nahwu itu bid'ah. Tapi jika ditinjau dari sisi syariat, maka bukanlah Bid'ah. Jika pemahaman kita hanya mengacu kepada pengertian secara bahasa, maka tentu hal ini adalah sebuah kesalahan. Sejatinya kita diperintahkan untuk menuntut ilmu, baik itu ilmu yang berkaitan dengan dunia lebih-lebih ilmu agama, termasuk ilmu nahwu.

Sebagaimana sabda Nabi bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Namun dalam menyampaikan sabdanya, Rasulullah tidak menyebut secara husus ilmu yang wajib dipelajari. Bagaimana ilmu nahwu dikatan bid'ah sedangkan ia bermanfaat untuk kaum muslimin bahkan suatu kebutuhan umat, jika ditinggalkan, maka akan mudharat bg kaum muslimin.

Apa jadinya seandainya ilmu nahwu itu tidak ada? Tentu untuk memahami kandungan bahasa arab akan amburadul, bgmn kaum muslimin dapat memahami maksud ayat dan hadits? Sehingga agama akan jadi kacau. Apalagi rasulullaah berbahasa arab. Beliau tidak perlu belajar bahasa arab karena merupakan bahasanya sendiri. Bagaimana dengan orang indonesia dan negara-negara yang tidak berbahasa arab mau memahami al quran, tapi  tidak mau belajar bahasa arab.

Tentunya belajar ilmu nahwu adalah sebuah kebutuhan untuk memahami tata bahasa arab. Kalau seandainya Rasulullah melarangnya (karena bid'ah), tentu orang-orang diluar Arab tidak akan bisa memahami bahasa arab.

Agama Dan Politik Tidak Dapat Dipisahkan

agama politik
Ajakan memisahkan agama dari politik sebenarnya sudah mulai dari dahulu kala. Namun, pernyataan agama harus dipisahkan dengan politik menjadi topik hangat pada saat kasus penistaan agama. Suhu politik yang makin memanas, pernyataan tersebut menjadi andalan sebagian orang agar kasus penistaan agama segera dihentikan.

Akan tetapi, ajakan memisahkan agama dengan politik, justru menjadi ahistoris dengan para pendahulu kita. Sebab, saham terbesar kebangkitan dan kemerdekaan Negara ini elemen agama. Sadarkah jika dahulu umat Islam tidak berpolitik, maka kita tidak akan menjadi keluarga besar bernama Indonesia?

Sadarkah engkau bahwa usia agama lebih lama dari pada usia negara kita. Dahulu Imam Bonjol, pangeran Dipenogoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Panglima Polim, Pangeran Badaruddin, Sultan Hasanuddin, dan lainnya, belum mengenal bendera Merah Putih. Belum mengenal lagu Indonesia Raya dan Pancasila. Mereka angkat senjata usir para penjajah karena perintah agama, belum ada pemilu apalagi pilkada kala itu.

Pernyataan pisahkan agama dan politik agar rakyat tahu mana agama dan mana politik bisa multi makna. Pertama agama dianggap sumber masalah, ketika dia masuk ke politik. Kedua, menganggap agama terlalu sakral dan suci dan tidak pantas masuk ke politk yang kotor. Artinya, agama adalah untuk orang suci dan politik adalah untuk orang kotor, jadi politisi itu kotor. ketiga, menuduh agama hanya mengatur masalah selain politik, padahal politik adalah pintu kekuasaan yang dengannya Anda bisa mengatur semuanya, termasuk khatib Jumat pun akan diakreditasi.

Anda letakkan agama jauh dari politik, tapi saat minta dukungan politik, Anda masuk ke basis pemilih agama. Bahkan, tak sungkan bersurban, pimpin shalat jamaah, dan dalam pembukaan pidato kampanye dengan bumbu kalimat Arab biar terkesan Islami dan ibu negara berjilbab. Bagi-bagi uang dengan mengatasnamakan shadaqah padahal tidak lain tujuannya untuk mendapat suara rakyat.  Apakah itu yang namanya memisahkan agama dari politik?

Agama terlalu privat bagi pemeluknya melebihi negara, sekalipun dia masuk mengatur kehidupan seorang mulai masuk WC, cara tidur, cara potong kuku saja diatur. Apalagi politik sebagai alat yang mengatur kekuasaan. Saudara, berhentilah membuat jarak antara agama dengan politik, karena itu semakin menyakitkanmu sendiri. Nanti saat mau mencalonkan diri, engkau akan angkat isu-isu simpatik beragama.

Politik itu benda netral dan yang membuatnya menjadi berwarna adalah siapa yang mengendarakannya. Agama adalah moralitas tapi politik kekuasaan itu legalitas, salahkah orang beragama hanya ingin mempertemukan antara moralitas dengan legalitas?  Jika anda pisahkan agama dengan politik, maka bagaimana status partai-partai yang berlandaskan dan bercorak agama? mau engkau bubarkan?

Bisakah rasa manis dipisahkan dari gulanya? rasa dingin dari butiran saljunya? Jika bisa dipisahkan, maka baru bisa engkau pisahkan agama dari politik. Sampai kapanpun anda berusaha memisahkan politik dari agama. Usaha anda akan sia-sia dan engkau tidak akan pernah berhasil memisahkan agama dengan politik.

Serba-Serbi KKN STITA Songennep e Kacamatan Rubaru

Ka'dhinto se anyama Kuliah Kerja Nyata esingkat daddi KKN. Taon samangken elaksanaagi e Kacamatan Rubaru kalaban tema: Abangun Paradaban Masyarakat Kalaban Pangowadhan SDM. Mela dhari ka'dhinto, sadaja peserta KKN STITA Songennep etuntut kaangguy ajalanagi tugas sopajha bisa matombu potensi-potensi se badha e Kacamatan Rubaru.

KKN paneka ebagi ballu' kalompo' se esebbarragi neng sabban-sabban disa se badha e Rubaru. Posko peserta KKN e kacamatan Rubaru acem-acem, badha se esaba' neng Lembaga otaba Yayasan, badha se esaba' neng Balai Desa ban samacemma. Tantona sabelunna ampon lastare kordinasi dha' tiap-tiap Kalebun otaba Kepala Disa masala tempat peserta KKN.

Pertamaepon nyampe' e posko, bannya' peserta se ta' perna sabab gi' korang "berbaur" kalaban masyarakat. Ma'lum, nyamana oreng buru nyar-anyaran nempadi disana oreng. Musabab laen, enggi paneka karana sabagiyan peserta KKN STITA ampon ngagungi keluarga tor pottra-pottre se edinggaliga e compo'na.

Namong maskeya ta' perna, peserta KKN STITA Songennep taon samangken somangaddha e "apresiasi" sareng sala settong ponggabana kampus. Amarga, Sabellun program kegiatan e rancang, peserta KKN ampon repot ka bara' ka temor, ka lao' ka dhaja alayani masyarakat, abanto masyarakat, ngabdi dha' masyarakat.

Saka'dhinto tor-mator masala KKN STITA e Kacamatan Rubaru Songennep. Akherepon, roko' opet tale mera, sala lopot nyo'on sapora. Samoga tapanggi pole. Serratan kakdinto persembahan kelompok III Matanair dha' cakaca se laen. (Panerjemah : Rifky Raya)

Ebhabha kakdinto sabegian dokumentasi kegiatan KKN Stita e Kacamatan Rubaru:
 (ASEBHARSE HALAMAN)

 (RAPAT KORDINASI KALABAN PERANGKAT DHISA)

 (SOSIALISASI KAMPUS)

 (NGAJHARI NAK KANAK NGAJI)

 (NAMEN POHON UNGGULAN)

 (ASEBERSE MAKAM ALIAS KOBBHURAN)

 (SILATURRAHIM ANTAR KALOMPOK)

(KOLABORASI PASERTA KKN PUTRI SARENG EBHU EBHU DHISA)

(NGAJARI SENAM PAGI)

Ikuti Ulama Yang Dibenci Orang Kafir dan Munafik

fitnah ahir zaman
Ketika kita bingung mau mengikuti ulama' lantaran banyaknya pertentangan ulama dalam sebuah pemerintahan. Maka ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir dan orang orang munafik. Kita tidak perlu menyebut siapa yang munafik, tapi nilailah dari sikapnya terhadap agama dan bagaimana mereka membenci saudaranya sendiri.

Saudara, kita diperintahkan untuk taat kepada pemerintahan. Hanya saja jangan lupa, bahwa sebagai orang yang beriman percaya kepada Allah Swt. Serta percaya kepada Al Quran. Disana ada batasan tentang bagaiamana kita harus patuh pada pemerintah. Ketika negara lagi tidak aman, banyak pertikaian dan pelecehan saling menyalahkan satu sama lainnya. Tandanya negara itu sedang sakit.

Ketika Rezim pemerintahan sedang kacau balau. Maka akan banyak kebencian dan permusuhan. Disana akan ada kelompok yang membenci islam. Sadarilah sejatinya mereka bukan benci kepada wajah anda yang tampan atau cantik jelita, tidak pula benci kepada rasa anda sebagai orang jawa atau sunda atau lainnya, tidak pula karena anda kaya atau pandai.

Satu hal yang menjadikan mereka murka dan benci kepada anda, ialaha karena anda hanya sudi mengabdi dan tunduk kepada Allah Ta’ala semata. Menjauh dari budaya dan penguasa yang menyimpang.

 قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنقِمُونَ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

 Katakanlah: “Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik? (QS. Al Maidah: 59).

Sebuah kisah tentang Imam Syafi'i yang ditanya oleh muridnya akan membuka hati nurani kita tatkala banyaknya orang yang memusuhi saudaranya sendiri, dan lebih menjilat kepada penguasa.

Imam Syafi'i pernah berkata: Nanti di akhir jaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu yang menyesatkan Umat.

Lantas murid Imam Syafi'i bertanya "Ulama seperti apa yg kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?"

Beliau menjawab: "Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yg disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik"

وسئل الإمام الشافعي رحمه الله تعالى: كيف تعرف أهل الحق في زمن الفتن؟! فقال: اتبع سهام العدو فهي ترشدك إليهم

Juga Imam Syafi'i pernah ditanya oleh salah satu muridnya tentang bagaimana caranya kita mengetahui pengikut kebenaran di akhir zaman yang penuh fitnah? Jawab beliau " Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa) maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran"

Penerimaan Mahasiswa Baru STIT Aqidah Usymuni

stita sumenep
Tahun 2017 Stita (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni) kembali membuka penerimaan Mahasiswa Baru. Pendaftaran gelombang pertama dibuka mulai dari tanggal 01 Maret sampai 31 Mei 2017. Gelombang kedua dari tanggal 1 Juni hingga tanggal 12 Agustus 2017. Pendaftaran ke Stita bisa ditempuh melalui Jalur Prestasi atau Jalur Reguler.

Pendaftaran dilakukan di Kantor STIT Aqidah Usymuni, Jl. KH. Zainal Arifin No. 19 Terate Pandian Sumenep. Atau dapat menghubungi panitia penerimaan Mahasiswa Baru Stita Sumenep, Abdul Lathip  (081934940666) dan Ediyanto (08175236564). Ahmad Hamdi (081938024081)

Syarat-Syarat pendafataran :
1. Warga Negara Indonesia (WNI)
2. Mengisi formulir pendaftaran yang disediakan panitia
3. Foto copy ijazah SMA/MA sederajat 4 lembar yang dilegalisir
4. Foto berwarna 2x3 10 lembar
5. Foto copy kartu Keluarga (KK)
6. Membayar biaya pendaftaran
7. Berkas pendaftaran dimasukkan kedalam Stopmap warna hijau
8. Mempunyai prestasi akademik atau non akademik yang disertakan bukti prestasi berupa piagam, sertifikat, foto copy raport, dll. (Husus Jalur Prestasi)

Program studi Stita Sumenep meliputi :
A. Pendidikan Agama Islam (PAI),
B. Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan
C. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Adapun kegiatan yang bisa diikuti oleh calon mahasiswa baru (Maba) diantaranya :
¤ Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
¤ Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM)
¤ Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)
¤ Seni dan Budaya (UKM Tiater Pelar)
¤ Lembaga Dakwah Mahasiswa (UKM Asyfika)
¤ Pusat Kajian Perempuan (PKP)
¤ UKM Olah Raga
¤ UKM Pramuka

Waktu pendaftaran dan pelaksanaan tes potensi akademik dan wawancara :
- Gelombang I tanggal 01 Maret - 31 Mei 2017
- Gelombang II tanggal 01 Juni - 12 Agustus 2017
- Tes seleksi tanggal 19 Agustus 2017 pukul 07.00 Wib sampai selesai. Seragam hitam putih.
- Pengumuman tanggal 25 Agustus 2016 dan Herregistrasi tanggal 26 Agustus 2017

Menemukan Imajinasi Dalam Pemikiran Kreatif

 Imajinasi
Image: aktivasiotakkanan.net
Menemukan imaji dalam kreatif memang tidak mudah, menghayal memang gampang tapi menemukan hasil dari khayalan menuju kenyataan yang riil itu sulit. Berfikir harus selalu kreatif agar bisa menunjukkan eksistensi kita sebagai manusia dengan kita berfikir kita bisa hidup untuk selamanya, dunia ini berada dalam dunia khayal kita, gampang untuk berfikir tapi sulit untuk menyesuaikan fikiran dengan kenyataan/realitas karena disadari ataupun tidak pada zaman yang amat modern ini banyak yang menggunakan toeri dari pada berbicara yang sesuai dengan kenyataan, dan harus disadari bahwa teori itu membodohkan karena kita akan terpojok dan tidak mencoba untuk berfikir sendiri, melahirkan ide-ide yang cerdas dan kreatif itu yang harus kita lakukan dan jangan selalu mengikuti arus peradaban yang arahnya tidak jelas.
               
Melahirkan pemikiran yang kreatif memang harus selalu kita lahirkan demi menjadikan pemikiran kita indah dan dikonsumsi oleh banyak orang bukan malah sebaliknya kita hanya menjadi pengkonsumsi dan bisa dikatakan sebagai budak yang selalu nurut pada majikan dan jalan hidup kita akan buram dan selalu diselimuti rasa pesimis yang tiada henti, Mulai sampai kapan hidup kita akan selalu bergantung pada orang lain dan diperbudak oleh para orang-orang asing.
               
Sulit untuk menemukan imaji dalam kreatif kita karena itu sulit untuk kita dapatkan karena kadan ketika mencoba untuk melahirkan beberapa hal itu sangat urgent  tapi rasa bosen dan jenuh yang selalu kita rasakan sehingga buntu pada akirnya yang dirasakan kita akan selalu berpusat pada satu orang dan menjadikan kita tidak maju dan bergantung pada oranaag lain, ada yang berbeda ketika mencoba auntuk berkreasi dan menunjukkan keahlian maupun kekreatifan kita kita akan menemukan imaji yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya.

Sikebal Hukum Dari Negeri Seberang

hukum penistaan agama
Tahukah anda, tersangka menurut KUHP adalah seorang yang karena perbuatannya berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana. Maka ia diselidiki, di sidik dan diperiksa oleh penyidik. Apabila perlu maka ia dapat dikenakan tindakan upaya paksa berupa penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan sesuai dengan undang-undang.

Coba kita fikirkan dengan akal sehat, kenapa sekarang ini, Indonesia dilanda berbagai macam musibah, kegaduhan terjadi dimana-mana, permusuhan antar organisasi, saling fitnah dan saling menghujat. Yang satu teriak pemecah NKRI, yang lain teriak pemecah belah bangsa. Akan tetapi, sadarkah kita bahwa persoalan krusial yang membuat gaduh Indonesia adalah persoalan ketidak adilan, bukan persoalan kebhinnekaan atau persatuan.

Luucunya di Negeri kita ini, hukumpun bisa dibeli. Hukum seakan tidak ada artinya kehilangan taring untuk menangkap sitersangka apabila yang bersangkutan adalah pejabat berdasi dengan sepatu mengkilat. Orang-orang antri untuk membelanya, satu pengacara dan satu saksi tidak cukup untuk mendampinginya hingga ia harus mendatangkan pasukan berdasi lainnya. Coba giliran rakyat kecil jadi tersangka, akan lain ceritanya.

Sebut saja si kebal hukum penista agama. Ya, makhluk non pribumi yang satu ini meskipun sebagai tersangka, terdakwah, namun masih bisa menjabat gubernur, proses peradilannya terkesan dimolor-molorkan.  Maka, jika anda ingin kebal hukum, bergabunglah bersama gerombolan mereka dengan seragam baju kota-kotak.

Lihatlah, kasus Sumber Waras yang tidak diproses dengan alasan tidak ditemukan niat jahat,  ada kasus Ade Armando, kasus Iwan Bopeng, kasus media fitnah yang meresahkan seword dotcom, kasus mobil terrano, kasus demo di rumah mantan presiden, dan kasus demi kasus lainnya. Semua aman-aman saja jika kasusnya dari jamaah sikebal hukum baju kotak-kotak.

Sekarang, kasus Habib Rizieq, kasus Buni Yani, Kasus bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh nurul fahmi yang ditangkap secara tidak wajar. Semua diproses dengan sangat cepat. Maka jika Anda ingin kebal hukum, bergabunglah bersama sikebal hukum bersama antek-anteknya. Lalu silahkan Anda melanggar hukum sepuasnya, silahkan menyebarluaskan hoax dan fitnah sesuka Anda. Silahkan menghina dan mencaci-maki Islam sesadis apapun yang Anda mau. Tak perlu khawatir. Sebab Anda akan kebal hukum.

Kalau bicara jujur dari hati terdalam, tak ada manusia yang kebal dari hukum, karena hukum tidak memandang siapa dengan pangkat apa. Hanya saja hukum itu dipermainkan oleh orang-orang yang telah buta mata hatinya lantaran uang yang sedang melambai-lambai.  Disaat rakyat menuntut keadilan supaya hukum ditegakkan, mereka akan mencari ribuan alasan sekiranya hukum tidak berjalan. Itulah konsep hukum tajam kebawah tumpul keatas.

Perhatikan Sebelum Membaca Kitab Shahih Tarikh Ath-Thabari

tarikh ath thabari
Imam Ibnu Jarir ath Thobari (wafat 310 H) adalah seorang imam besar dalam bidang tafsir, tarikh, fiqh dan juga hadits. Beliau seorang sejarawan dan pemikir muslim dari Persia. Nama lengkapnya adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari. Akan tetapi beliau lebih dikenal dengan nama Ibnu Jarir / ath-Thabari.

Tafsir Jamiul Bayan adalah tafsir tertua. Kitab tarikhnya Tarikhul Umam Wal Muluk adalah kitab tarikh yang menjadi sumber utama penulis tarikh belakangan. Di bidang fiqh beliau dikenal memiliki madzhab sendiri, walaupun madzhab beliau tidak berumur panjang seperti madzhab yang empat.

Kitab Tarikhul Umam wal Muluk adalah sebuah kitab sejarah yang ditulis dengan standar ahli hadits. Riwayat yang disebutkan dalam kitab ini disebutkan dengan sanadnya, mulai dari penulis hingga sumber cerita terakhir. Perlu diperhatikan ketika kita membaca kitab-kitab karya Imam Ibnu Jarir ath Thobary. Ada hal pernyataan dari Imam Ibnu Ath Thabary Sebagaimana pernyataan penulisnya, bahwa dalam menulis kitab ini. Beliau sekedar meriwayatkan cerita dengan sanadnya. Imam ath Thobary tidak menyatakan bahwa semua cerita yang beliau sebutkan dalam kitab ini adalah cerita yang menurut beliau benar. Beliau hanya menulis menurut riwayat yang sampai kepada beliau, dan mempersilakan para pembaca menilainya.

Dalam muqoddimah Ath Thobari ia berkata : "Hendaklah pembaca mengetahui bahwa yang saya tulis dalam kitab ini, adalah berdasar cerita yang sampai kepada saya, dan yang disampaikan perowinya kepada saya, bukan apa yang saya pahami berdasar nalar dan saya gali berdasar pikiran saya. Maka apa yang ada dalam kitab saya ini dari cerita masa lampau yang dianggap aneh oleh pembaca, dianggap buruk oleh pendengar, tidak memiliki jalur yang shohih atau tidak memiliki makna dalam kenyataan, maka itu bukan berasal dari saya, namun dari orang orang yang meriwayatkan kepada saya"

Maka cerita dalam Tarikh Thobari tak seluruhnya bisa diterima, apa lagi al Hafidh Ibn Hajar al Asqolani menegaskan bahwa merupakan kebiasaan ulama' mutaqoddimin (terdahulu) bahwa menyebutkan sanad dianggap cukup sebagai pertanggungjawaban ilmiah untuk menjelaskan keshahihan atau kelemahan suatu riwayat.

Tugas kita untuk memilah dan memilih riwayat yang benar. Syaikh Utsman Khomis dalam Hiqbah minat Tarikh menyebutkan bahwa di antara perowi yang bermasalah dalam Tarikh Thobari adalah Abu Mikhnaf, yang dinilai banyak ulama' jarh wat ta'dil sebagai kurang dapat dipercaya. Riwayat Abi Mikhnaf ini cukup banyak dalam Tarikh Thobari Mencapai 587 riwayat.

Agama Bukan Berdasar Pada Akal Logika

quran dan assunnah
Akal merupakan salah satu karunia yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita selaku hambanya. Agar digunakan sesuai apa yang Allah kehendaki. Namun, berbicara agama. Akal bukanlah sandaran utama untuk memutuskan perkara hukum syariat. Sandaran utama atau sumber hukum islam adalah Al Quran dan Al Hadits.

Kalaulah agama didasarkan pada akal logika manusia. Maka jangan heran jikalau sesama muslim satu aqidah akan saling bertikai mengenai pendapat yang tak kunjung selesai. Dan yang paling penting tidak terjatuh kepada pemahaman yang menyimpang.

Dalilnya adalah hadits dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.

“Seandainya agama itu dengan logika semata, maka tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku sendiri telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya.” (HR. Abu Daud no. 162.)

Sebagai orang yang beriman kepada hukum Allah Swt tidak boleh bagi siapapun meninggalkan dalil yang jelas dari Al Qur’an ataupun hadits yang shahih karena tidak sesuai dengan akalnya. Seseorang harus menundukkan akal di hadapan keduanya. Akal fungsinya adalah untuk memahami dan menetapkan apa yang sesuai dengan ketetapan hukum Allah.

Yang membedakan antara ahlu sunnah dan ahlu bid'ah adalah dalam masalah akal. Ahlu bid'ah menjadikan dalil mengikuti kepada akal. Adapun ahlu sunnah asal agama adalah ittiba', akal hanyalah pengikut dalil. Andai asas agama adalah akal, maka tidak perlu Nabi sebagai penyampai risalah. orang bebas beragama sesuai selera dan akal. Lihatlah bagaimana ahlul bid'ah mu'tazilah yang mengatakan Al Quran adalah makhluk.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Maka dari itu, untuk meraih ridho Allah Azza wa Jalla adalah mengikuti orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh berdasarkan apa yang disampaikan oleh para ulama yang sholeh yang mengikuti ajaran Kitabullah dan Rasulullah, bukan mengikuti ajaran akal.

Keutamaan Berteman Dengan Orang Shaleh, Di Akhiratpun Bertanya

gambar teman
Berapa banyak teman yang kita miliki didunia? Dari sederetan teman yang banyak itu, berapa yang selalu mengajak kita kepada kebaikan? Jumlahnya sangat sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada. Berteman orang yang shaleh tentunya mempunyai keutamaan. Dimana nanti jikalau tidak dapat menemukan teman shaleh kita diakhirat, maka kita dapat bertanya kepada Allah Swt.

Cobalah kita merenung, teman yang kita punya selama ini. Selalu mengajak kemana, membawa kita kemana. Selama ini kita selalu mencari teman seperkumpulan, teman untuk bermain, bersenda gurau, huru hara. Namun kita tidak berusaha untuk mencari teman yang shaleh, rajin beribadah, yang sering melakukan amal kebaikan. Padahal, teman shaleh tidak bisa dihargai dengan materi. Ia sangat sulit dicari, tidak mudah didapatkan, ketika dapat mudah dilepaskan.

Perhatikanlah wasiat Iman Syafi'i “JIka engkau punya teman yg selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat erat dia, jangan pernah engkau melepaskannya. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah”.

Perhatikan hadits berteman dengan orang shaleh. Rasulullah bersabda, “Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yg selalu bersama mereka dahulu di dunia. Maka merakapun bertanya kepada Allah: ‘YA Rabb! kami tidak melihat sahabat sahabat kami sewaktu di dunia, sholat bersama kami, puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami. Maka Allah berfirman, "Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yg dihatinya ada iman walaupun sekecil zarrah" (HR Ibnul Mubarok dalam kitab Az-Zuhud).

Ibnu Jauzi berkata pada sahabatnya sambil menangis, "Jika kamu tidak menemui aku di Syurga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepd Allah tentang aku".

Pejamkan mata, berfikir lah sejenak, siapa kiranya di antara sahabat kita yg akan mencari dan mengajak kita ber-sama sama ke Syurga? Jika tidak, mulailah hari ini mencari teman ke surga sebagai suatu program hidup kita. Jika ibadah kita sedikit, insyaallah dengan berteman dengan orang shaleh. Kita akan mendapat syafaatnya dihari kiamat.

Jika kita belum punya teman orang shaleh, segeralah cari. Mumpung masih ada kesempatan, jika nyawa sudah dicabut malaikat. Kesempatan tidak akan terulang kembali.  Imam Al-Hasan Al-Bashrii berkata tentang keutamaan berteman dengan orang shaleh: "Perbanyaklah sahabat-sahabat mu'minmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari Qiamat”.

Kesalahan Makna Arti Kata Auliya (Qs. Al Maidah : 51)

makna auliya
Ada sebagian orang menganggap, bahwa telah dilakukan penyelewengan terhadap Qs. Al Maidah 51 pada kata Auliya ( اَوْلِيَآءَ) yang dikeluarkan oleh Departemen Keagamaan. Dimana Al Quran satunya bermakna Pemimpin sementara pada Al Quran lainnya bermakna Teman setia.  Apakah ini sebuah kesalahan?

Ini bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sebuah kata yang mempunyai arti lebih dari satu. Jadi makna Pemimpin atau Teman setia sama-sama benar. Sebab suatu kata bisa mempunyai arti lebih dari satu arti atau makna, seperti kata نَفس yg mempunyai arti Nafsu namun juga bermakna Jiwa atau diri sendiri . Demikian juga dengan kata اَوْلِيَآءَ awliya yang mempunyai Pemimpin dan juga punya makna teman setia.

Ayat lengkapnya berbunyi:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ؕ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ma'idah: Ayat 51)

Al Quran punya saya sendiri terbitan Penertbit Kalim dengan nama Al Hidayah, tafsir yang digunakan saduran dari Kitab Al-Munir karya Imam Annawawi Al-Bantany, di Tashih oleh Departemen Keagamaan. Dalam Al Quran tersebut antara Pemimpin  dan Teman Setai sama-sama dicantumkan.

Sekali lagi, ini bukan kesalahan. Depag sama sekali tdk melakukan perubahan ataupun penyelewengan. Karena anggapan sebuah kesalahan ini, banyak yang berusaha bahkan menyarankan agar tidak membeli buku-buku atau kitab dimana Al Quran yang bermakna Teman Setia dikeluarkan.

Bolehkah memilih pemimpin kafir kalau Auliya diartikan teman setia? Perlu kita ketahui, bahwa Qs Al Maidah 51 adalah ayat muhakkamah bukan mutasyabihah. Jadi jelas tentang larangan memilih pemimpin kafir.  Ada yang beralasan begini, auliya ( اَوْلِيَآءَ ) artinya kan teman setia, jadi kita dilarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia, bukan dilarang meniadikan pemimpin.

Saudara, kita dilarang menjadikan orang kafir menjadi teman setia, apalagi dijadikan pemimpin. Sekali lagi, Qs. Al Maidah 51 adalah muhkam bukan mutasyabih. Sebenarnya, semua tergantung kita. Mau mengikuti aturan Allah Swt atau mengikuti undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah, semua tergantung pilihan masing-masing. Bahwa tugas kita hanya menyampaikan bukan memaksa.

Kaum pembuat Sunnah Selain Sunnah Nabi ( Dakhanun )

pembuat sunnah
Kita hidup dizaman dimana antara kebaikan dan keburukan sulit dibedakan. Amalan ibadah saling bercampur aduk antara budaya. Antara sunnah dan bid'ah seperti tak kelihatan. Semangat beribadah semakin kendor sementara keburukan terus menyerang. Inilah zaman fitnah yang digambarkan oleh baginda Nabi kita, Muhammad Saw.

  عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu 'anhu berkata: Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku.

Maka aku bertanya; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ?

Beliau bersabda : ‘Ada’. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?

Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ? Beliau menjawab: Suatu kaum yang membuat sunnah selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah.

Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ? Beliau bersabda: Ya, orang-orang yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang meng-ijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya.

Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita.

Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ? Beliau bersabda: Berpegang teguhlah pada Jama’ah orang-orang Islam dan imamnya.

Aku bertanya: Bagaimana jika tidak ada jama’ah muslimin maupun imamnya ? Beliau bersabda: Hindarilah semua firqah (kelompok) itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”.

(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399).

Siapakah Dakhanun?

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan hiqd (kedengkian), atau daghal (penghianatan dan makar), atau fasadul qalb (kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh.

Dan Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu 'Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain.

Kemudian berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XV/15: Bahwa sabda beliau : "Dan didalamnya ada Dakhanun, yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi didalamnya ada kekeruhan dan kegelapan".