View AllArtikel

View AllPendidikan

Zuhairi Misrawi : Somad Kelebihannya Cuman Bisa Melucu


zuhari misrawi
Namanya Zuhairi Misrawi, jebolan sarjana Departemen Akidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Dan juga dulunya jebolan Pesantren Al Amien Sumenep Madura. Tapi sayang seribu sayang, beliau ditolak oleh Almamaternya sendiri. Ia juga masuk dalam daftar 50 tokoh JIL

zuhari misrawi


Status Facebooknya yang penuh kebencian serta merendahkan Ust. Abd. Shomad , justru malah membuka kedok siapa dia sebenarnya.  Dari statusnya ia mengatakan bahwa Ust. Abd. Shomad Kelebihannya cuman bisa melucu.

Zuhairi Misrawi
Somad itu adik kelas saya di al-Azhar. Ilmunya biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Kelebihannya cuman bisa melucu. Kalau soal keilmuan, masih banyak alumni al-Azhar yang pinter, arif dan tidak ngelunjak. Ini beberapa alumni al-Azhar yang pinter Afifuddin Harisah Irwan Masduqi Anis Mashduqi Robet Qoshidi Mukti Ali Qusyairi
21 November pukul 9:26 · Publik

Terus, kalau Somad Adik Zuhairi Misrawi memang kenapa? Tidak boleh ceramah? Memang banyak alumni al-Azhar yang pinter, tapi apakah dengan banyaknya Alumni Al Azhar yang pintar harus menjadi penghalang seseorang untuk berdakwah? Sejak kapan pangkat Zuhairi Misrawi melebihi pangkatnya Nabi. Nabi saja memerintahkan kita untuk menyampaikan walaupun satu ayat.

Kalau Ustadz Abdul Somad mungkin jutaan orang Indonesia yang tercerahkan dengan dakwahnya,  kalau Zuhari Misrawi yang merasa lebih hebat dan merasa lebih senioritas dari Somad berapa sudah?

Tidak seharusnya Zuhairi Misrawi, yang katanya lulusan Al Azhar (Lulus tidak lulusnya, Wallahu A'lam), tidak merendahkan orang lain. Meskipun kepada orang bodoh. Apakah memang Al Azhar yang mengajarkan seperti itu? Tentu tidak. Kemudian karena banyaknya orang yang mengkritik, Zuhairi Misrawi berbicara soal kebencian.

Zuhairi Misrawi
Sering mendengarkan ceramah kebencian, maka hasilnya juga kebencian dan hujatan. Akhirnya titik nadir tuna-moral.
21 November pukul 22:04 · Publik

Zuhairi Misrawi
Apakah ceramah seseorang bisa dianggap berhasil, kalau jemaahnya berkata kasar dan menebarkan kebencian?
22 November pukul 6:58 · Publik

Seharusnya Zuhairi Misrawi bertanya kepada diri sendiri, kenapa saya dibenci banyak orang. Jadikanlah apa yang dialami menjadi pembelajaran. Jangan lantaran karena tidak suka pada Ust. Abd. Shomad, lalu dikatakan sebagai ceramahnya kebencian. Justru saya menilai, status Zuhairi Misrawi  yang menimbulkan kebencian.

Sesama muslim, kita tidak diajarkan untuk saling membenci. Karena dari kebencianlah akan menimbulkan permusuhan. Dari permusuhanlah yang merusak NKRI. Jadikanlah kepintaran yang saudara miliki untuk kebaikan.

Memang benar kata Abi kyai Abi Kh. Moh. Ma'sum. Banyak orang pintar, tapi tidak benar. Banyak orang berilmu tapi tidak beramal. Wallahu A'lam.

Memang Ada Pacaran Islami?


pacaran islami
Kata ini yang lagi ngetren di kalangan anak muda sekarang. Jaman sekarang tidak punya pacar, jomblo, Kasihan sekali. laku atau tidak ada yang mau. Jaman kayak gini gak punya pacar? Buat apa kalian itu ngejomblo terus? Mau nunggu terus? Mau sampai kapaan?

Cari itu yang pasti pasti saja. Kalo pacaran kan pasti. diantara kita sudah ada status. Yah, walaupun statusnya baru pacaran, tapi status pacaran di jaman sekarang sudah pasti di akui sama orang orang, kalo kamu punya aku dan aku punya kamu.

Mari kita lanjuti. Rotasi terjadinya pacaran : Kenalan, pdkt, jadian, pacaran, putus, jadi mantan

Nyeseknya lagi kalau sudah jadi mantan, silaturahmi putus, yang dulunya manggil sayang, baby, honey, cintaku. Sekarang manggilnya, woii, cuy dan bahasa lainnya.

Ada juga yang dramatis. “kenapa sih kamu mutusin aku, aku udah korbanin semuanya cuman buat kamu. Aku sayang banget sama kamu, tapi apa balesannya?”

Pacaran 5 tahun tapi move on nya 5 abad. Memang superman? mau mau nya di perbudak sama mantan. Ya kalau si mantan mikirin kamu? tapi kalau mantan sudah punya penggantinya? dan penggantinya ini lebih waw di banding kamu, Terus kamu mau apa? Hehe.. pasti sakit tuh!

Ada yang bilang, kalau pacaran akan ada yang merhatiin, ada yang ngingetin makan, terus kalau tidak ada yang jemput sekolah kan pacar bisa jemput. ada yang bangunin tiap pagi, kalau kesepian ada yang nemenin, dia bisa jadi penyemangat, cuman dia motivasinya buat bisa hidup tegar, cuman pacar yang bisa sayang tulus. Pokoknya banyak enaknya kalau pacaran.

Ada juga yang berembel-embel dengan namanya pacaran Islami? Katanyaa, katanya, pacaran islami itu pacaran yang tidak berbuat zina, tidak pegang-pegangan, tidak peluk pelukan, kalau pergi bersama tidak mau boncengan, kalau sms juga, sms buat ngingetin makan, ngingetin sholat. Dst.

“Dek.. kamu jangan lupa makan ya, kalo makan banyakin makan sayur dan buah nya biar sehat. Aku gamau kalo kamu sakit “

“Dek sholah subuh dulu ya, yang khusu’ dan jangan lupa doain aku selalu ya dek”..

“Oh iya mas, aku doain deh biar kamu jadi laki-laki yang sholeh, bisa jadi imam yang baik buat aku".

Hehe,  Itu yang nama pacaran islami? Yang cewe ingin punya pacar yang sholeh, yang cowo ingin punya pacar yang sholehah. Memang, cari dimana ya pacar yang sholeh yang setia, yang sayang tulus dan yang paham agama.

Yang ngaku ngaku punya pacar sholeh dan sholehah. Pacarmu sholeh? Yang sholeh pasti tau kalau pacaran itu haram. yang sholeh mestilah tau kalau pacaran itu zina. Dan yang sholeh pasti tau kalau cinta ya di nikahi atau di akhiri, bukan di pacarin. Dan bagi yang sekarang punya pacar, tapi sampai kapanpun tidak akan dapetin pacar yang sholeh.

QS. An-Nur : 26
perempuan perempuan yang keji, dan laki laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan perempuan yang baik untuk laki laki yang baik, dan laki laki yang baik untuk perempuan perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia ( surga )

Qs. At-Taubah : 71
Dan orang orang yang beriman, laki laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh ( berbuat ) yang makruf. Dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikkan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah swt. Sungguh, Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.

Membangun cinta itu lebih indah dari pada jatuh cinta. Jatuh tuh sakit. Jodoh dunia akhirat itu ketika bersatu dalam pertemuan suci, ikatan suci dan cita-cita suci. Suci dari apa yang tidak Allah suka.

Fokus hiasi dan memperbaiki diri dengan cahaya iman dan Al-quran. insyaAllah sudah Allah siapkan yang terbaik. Jadi tidak ada yang namanya pacaran islami, pacaran yang indah itu adalah pacaran sesudah menikah. Takut sama penilaian orang gara gara ngga punya pacar? Tidak usah takut. Karna, penilaian orang itu semu. Takutlah sama penilaian Allah yang Maha mengatahui bagaimana keadaan kita yang sebenernya. Gantungkanlah harapan cuman sama Allah yang Maha kaya Maha kuasa Maha sempurna dan Maha romantis.

Penghuni Neraka ke-7 Membuat Nabi Menangis


penghuni neraka
Rasul Menangis bahkan pingsan Saat Jibril mengungkapkan Penghuni Neraka ke-7. Ya, Neraka jahannam salah satu neraka yang penuh dengan berbagai macam siksa. Kisahnya, Ketika itu Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang tak biasa. Namun, Jibril terlihat berbeda. Raut wajah yang tak biasa. Maka Rasulullah shallallahu allaihiwassalam bertanya:

"Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?"

Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya".

Lalu Rasullulah shallallahu allaihiwassalam bersabda: "Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam".

Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya".


Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan basinya.


Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yang ke 7.

Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan-potongan api.

Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yang lain".

Dalam Hadist Qudsi: "Bagaimana kamu masih bisa melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari-KU. Tahukah kamu bahwa neraka jahanam-KU itu: mempunyai 7 tingkat.

Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah. Setiap daerah mempunyai 70.000 kampung. Setiap kampung mempunyai 70.000 rumah. Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak. Setiap kotak mempunyai 70.000 batang pokok zaqqum.

Di bawah setiap pokok zaqqum mempunyai 70.000 ekor ular. Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Dan di bawah setiap pokok zaqqum terdapat 70.000 rantai. Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat. Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk membakar, hanyalah 1/70 dari api neraka jahannam"(HR. Bukhari-Muslim).

Allah Swt. berfirman :
"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya".  (QS. Al-Furqan: 11).

"Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah lantaran marah". (QS. Al-Mulk: 7).

Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas). (QS. Al-Waqi'ah: 41-44).

Nabi Muhammad Shallallahu allaihiwassalam meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut.

Pintu pertama/Ke 1 dinamakan Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir.

Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin.

Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api.

Pintu ke 4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya.

Pintu ke 5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi.

Pintu ke 6 dinamakan Sa'ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir.

Rasulullah bertanya: "Bagaimana dengan pintu ke 7 ?"

Sejenak malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah Shallallahu allaihiwasalam mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril mengatakan :

"Pintu ke 7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat sebelum meninggal."

Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rasulullah Shallallahu allaihowassalam di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda:

"Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umat ku yang akan masuk ke dalam neraka?"

Jawabnya: "Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu."

Nabi Muhammad shallallahu allaihiwassalam lalu menangis, Jibril pun ikut menangis. Kemudian Nabi langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk shalat.
Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan.

 "Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaKa Hamiidum Majid"

Semoga kita termasuk orang-orang yang ahli taubat. Dan tidak termasuk penghuni neraka yang ke 7. Tak ada manusia yang tidak punya salah dan dosa. Wallahu A'lam

Daftar Pustaka

  • Dream.co.id (tanpa periwayat hadits / kitab)
  • Islamattahuid.org ( tanpa periwayat hadits / kitab


Jangan Minder karena Miskin


orang miskin
Kadang kita Minder karena Miskin, Bila kita telah berusaha dan bekerja keras. Dan kita telah jalani Sholat yang lima waktu. Dan masih kita tambah dengan Sholat sunnah juga Dzikir, Sholawat dan banyak DOA. Namun tetap miskin juga. Tak perlu minder apalagi protes padaNya.

Apa yang kita miliki saat ini memang belum seberapa. Tapi bila sesekali mau melihat ke bawah, kita akan tahu bahwa banyak orang yang lebih kurang beruntung daripada kita. Setidaknya kita sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri, sementara masih banyak orang yang hidup dengan belas kasihan.

Seorang anak bertanya kepada ibunya : "Ibu, mengapa kita miskin?"

Dengan tenang sang ibu berkata :"Nak, hidup ini seperti jalan-jalan di minimarket atau supermarket. Semua orang boleh memilih dan membawa barang apa saja yang ia inginkan."

"Siapa yang membawa sepotong roti, maka ia harus membayar dengan harga sepotong roti, Dan siapa yang membawa tiga potong roti, iapun harus membayar dengan harga tiga potong roti."

"Sementara kita tak mungkin membawa apa-apa karena tak punya uang untuk membelinya. Bahkan dipintu kasirpun kita tak akan diperiksa, dibiarkan jalan begitu saja."

"Begitu pula kelak di Hari Kiamat Nak. Saat orang-orang kaya antri menjalani pemeriksaan untuk dimintai pertanggung jawaban. Saat orang-orang kaya ditanya tentang Darimana hartanya mereka peroleh Dan kemana hartanya mereka belanjakan?"

"Kita dibiarkan terus berjalan tanpa beban. Lebih ringan kan. Apakah engkau masih juga belum bisa menerima?"

"Anakku! Jika kita memang ditakdirkan menjadi orang miskin, bersabarlah. Karena setelah kematian, kemiskinan itu akan sirna, berfikirlah pisitif, barangkali, jika kita kaya belum tentu bisa lebih bertakwa".

"Mungkin juga, dengan kemiskinan kita akan lebih  mudah meraih Surganya, jangam pernah minder, Karena kaya dan miskin bukanlah ukuran Mulia dan Hinanya manusia.Tetaplah berprasangka baik pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala."

"Singkirkan rasa iri , cemburu dan buanglah tanda tanya, tentang Kehendak-NYA Pembagi Nikmat. Mungkin jatah buat kita masih tersimpan di Surga, menunggu kita benar-benar telah Siap Menerimanya".

Ingatlah apa yang disampaikan Rasulullah bahwa "Sesungguhnya kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya harta benda, tapi pada hati dan ketenangan jiwa".

Jangan mengeluh dan Jangan pula putus asa. Pada hakikatnya ketidaksuksesan kita di dunia kemungkinan besar merupakan bentul kasih sayang Allah untuk membuat kita lebih sukses di negeri akhirat. Allah tentu Maha tahu. Dia mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi. yang sudah lalu, sekarang, atau yang akan datang. Allah Maha Mengetahui semuanya.

Barakallahu Fiikum

Quest Npc Bandomir Aurea

TibiaMe Quest Bandomir Aurea ini husus lvl 40 ke atas. Kalau level tibiame anda dibawah 40, maka tidak akan bisa menjalankan quest/misi ini. Untuk memulai talk bandomir di aurea city, 
tibiame quest bandomer

Setelah talk bandomir. Tenemui npc snork di orc village. Lalu kembali lagi ke bandomir, talk. bonus 4409 EP 

Kemudian pergi ke npc ayion di dalam istana aurea , lalu pergi ke lantai 2 istana untuk berbicara dengan npc bandomir.

Pergi ke goa disebelah kiri dari portal hounted house, gerbang yang sebelumnya tidak bisa di masuki. Pakai armor hit holy di dalam goa karna monster mantis.

Cari lah tangga-tangga atau jalan hingga berada di luar goa menuju tempat questnya, lalu jalan lah ke arah kanan. Temui npc alpert , 

Use trompet pada karpet merah 2x. setelah itu talk kembali ke Npc alpert.

Kemudian pergi ke npc itzewitz di bawah kota aurea untuk membetulkan membetulkan terompet yang rusak itu. Gunakan portal sternanium di sebelah kanan agar lebih cepat.

Kemudian kembali lagi ke npc alpert untuk membunyikan terompet yang sudah anda perbaiki. Terakhir temui npc ayion.

Pengertian Dan Sejarah Qiro'ah Sab'ah

qiraat sab'ah
Pengertian Qira'at Sab'ah

Menurut bahasa قراءات adalah bentuk jamak dari قراءة yang merupakan isim masdar dari قرأ yang artinya "Bacaan".

Menurut istilah, ilmu qira′at adalah Ilmu yang membahas  tata cara pengucapan kata-kata Al-Qur`an, cara penyampaiannya, baik yang disepakati (ulama ahli Al-Qur`an ) maupun menisabkan setiap bacaannya kepada seorang Iman Qiro’at.

Qiro'ah Sab'ah adalah macam-macam cara membaca Al Qur'an yang berbeda. disebut juga tujuh bacaan. karena ada tujuh imam Qiro'ah yang masyhur (terkenal).

Tiap-tiap Qiraat yang disandarkan pada seorang Imam memiliki kaidah-kaidah bacaan tertentu dan juga memiliki rumusan-rumusan tajwid yang berbeda-beda dalam rangka membaguskan bacaannya.

Tiap imam qiro’at memiliki dua orang murid yang bertindak sebagai perawi. Tiap perawi tersebut juga memiliki perbedaan dalam cara membaca Qur’an, Sehingga ada empat belas cara membaca al-qur’an yang masyhur.

Dari sini dapat dikatakan bahwa Qira’at dan tajwid merupakan dua ilmu yang berbeda tetapi sangat berkaitan erat. Perbedaannya, Ilmu Qira’at mengenai bentuk peengucapan bacaan, sedangkan ilmu tajwid bagaimana mengucapkan dengan baik.


Dalil atau landasan Ilmu Qiraat

Nabi sendiri melantunkan berbagai versi qira’ah didepan sahabat-sahabatnya. Seperti hadis:

Dari umar bin khathab, ia berkata, “aku mendengar hisyam bin hakim membaca surat al-furqon di masa hidup rasulullah. aku perhatikan bacaannya. tiba-tiba ia membaca dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku urungkan. maka, aku menunggunya sampai salam. begitu selesai, aku tarik pakaiannya dan aku katakan kepadanya, ‘siapakah yang mengajarkan bacaan surat itu kepadamu?’ ia menjawab, ‘rasulullah yang membacakannya kepadaku. lalu aku katakan kepadanya, ‘kamu dusta! demi Allah, rasulullah telah membacakan juga kepadaku surat yang sama, tetapi tidak seperti bacaanmu. kemudian aku bawa dia menghadap rasulullah, dan aku ceritaan kepadanya bahwa aku telah mendengar orang ini membaca surat al-furqon dengan huruf-huruf (bacaan) yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surat al-furqon kepadaku. maka rasulullah berkata, ‘lepaskanlah dia, hai umar. bacalah surat tadi wahai hisyam!’ hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan.’ ia berkata lagi, ‘bacalah, wahai umar!’ lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan rasulullah kepadaku. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya.’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Jarir)

Terjadinya Cara membaca tersebut merupakan ajaran Rasulullah dan memang seperti itulah Al-Qur’an diturunkan. Jadi, kesemuannya ini adalah bacaan-bacaan al Quran yang sama kuat derajat ke Qur’anannya. Bacaan ini, masing-masing boleh di baca siapapun meski pembaca atau pendengarnya tidak mengerti.

Tujuh Imam Qiraat yang sudah tidak diragukan lagi kemasyhurannya :

1. Ibnu ‘Amir
Nama lengkapnya adalah Abdullah al-Yahshshuby. Beliau seorang Qadhi ( hakim ) di Damaskus pada masa pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik. Pannggilannya adalah Abu Imran. beliau adalah seorang tabi’in. belajar qira’ah dari Al-Mughirah ibnu Abi Syihab al-Mahzumy dari Utsman bin Affan dari Rasulullah SAW. Beliau Wafat di Damaskus pada tahun 118 H.

Perawi Ibnu 'Amir : Hisyam dan Ibnu Dzakwan.

2. Ibnu Katsir
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibnu Katsir ad-Dary al-Makky. beliau adalah imam dalam hal qira’ah di Makkah, beliau adalah seorang tabi’in yang pernah hidup bersama sahabat Abdullah ibnu Jubair, Abu Ayyub al-Anshari dan Anas ibnu Malik. beliau wafat di Makkah pada tahun 120 H.

Perawi Ibnu Katsir : al-Bazy ( wafat pada tahun 250 H ) dan Qunbul ( wafat pada tahun 291H.

3. ‘Ashim al-Kufy
Nama lengkapnya adalah ‘Ashim ibnu Abi an-Nujud al-Asady. Disebut juga dengan Ibnu Bahdalah. Panggilannya adalah Abu Bakar. beliau adalah seorang tabi’in yang wafat pada sekitar tahun 127-128 H di Kufah.

Perawi ‘Ashim al-Kufy : Syu’bah ( wafat pada tahun 193 H ) dan Hafsah ( wafat pada tahun 180 H )

4. Abu Amr
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Amr Zabban ibnul ‘Ala’ ibnu Ammar al-Bashry seorang guru besar
pada rawi. Disebut juga sebagai namanya dengan Yahya. menurut sebagian orang nama Abu Amr itu
nama panggilannya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H.

Perawi Abu Amr : ad-Dury ( wafat pada tahun 246 H ) dan as-Susy ( wafat pada tahun 261 H )

5. Hamzah al-Kufy
Nama lengkapnya adalah Hamzah Ibnu Habib Ibnu ‘Imarah az-Zayyat al-Fardhi ath-Thaimy seorang
bekas hamba ‘Ikrimah ibnu Rabi’ at-Taimy. dipanggil dengan Ibnu ‘Imarh. wafat di Hawan pada masa Khalifah Abu Ja’far al-Manshur tahun 156 H.

Perawi Hamzah al-Kufy : Khalaf  ( wafat tahun 229 H ) dan Khallad ( wafat tahun 220 H )

6. Imam Nafi
Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ ibnu Abdurrahman ibnu Abi Na’im al-Laitsy. asalnya dari Isfahan. Dengan kemangkatan Nafi’ berakhirlah kepemimpinan para qari di Madinah al-Munawwarah. Beliau wafat pada tahun 169 H.

Perawi Imam Nafi' : Qalun ( wafat pada tahun 12 H ) dan Warasy ( wafat pada tahun 197 H )

7. Al-Kisaiy
Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Hamzah. seorang imam nahwu golongan Kufah. Dipanggil dengan nama Abul Hasan. menurut sebagiam orang disebut dengan nama Kisaiy karena memakai kisa pada waktu ihram. Beliau wafat di Ranbawiyyah yaitu sebuah desa di Negeri Roy ketika ia dalam perjalanan ke Khurasan bersama ar-Rasyid pada tahun 189 H.

Perawi Al-Kisaiy : Abul Harits ( wafat pada tahun 424 H ) dan ad-Dury ( wafat tahun 246 H )

Sejarah Qiro'at Sab'ah

Dari segi jumlah, ada tiga macam qiraat yang terkenal, yaitu qiraat sab’ah, ‘asyrah, dan syadzah. Sedangkan, Ibn al-Jazari membaginya dari segi kaidah hadis dan kekuatan sanadnya. Namun demikian, kedua pembagian ini saling terkait satu dengan lainnya.

Jenis qiraat yang muncul pertama kali adalah qiraat sab’ah. Qiraat ini telah akrab di dunia akademis sejak abad ke-2 H. Namun, pada masa itu, qiraat sab’ah ini belum dikenal secara luas di kalangan umat Islam. Yang membuat tidak atau belum memasyarakatnya qiraat tersebut adalah karena kecenderungan ulama-ulama saat itu hanya memasyarakatkan satu jenis qiraat dengan mengabaikan qiraat yang lain, baik yang tidak benar maupun dianggap benar.

Abu Bakar Ahmad atau yang dikenal dengan Ibnu Mujahid menyusun sebuah kitab yang diberi nama Kitab Sab’ah. Oleh banyak pihak, kitab ini menuai kecaman sebab dianggap mengakibatkan kerancuan pemahaman orang banyak terhadap pengertian ‘tujuh kata‘ yang dengannya Alquran diturunkan. Kitab Sab’ah disusun Ibnu Mujahid dengan dengan cara mengumpulkan tujuh jenis qiraat yang mempunyai sanad bersambung kepada sahabat Rasulullah SAW terkemuka, Mereka adalah :

- Abdullah bin Katsir al-Dariy dari Makkah
- Nafi’ bin Abd al-Rahman ibn Abu Nu’aim dari Madinah
- Abdullah al-Yashibiyn atau Abu Amir al-Dimasyqi dari Syam
- Zabban ibn al-Ala bin Ammar atau Abu Amr dari Bashrah
- Ibnu Ishaq al-Hadrami atau Ya’qub dari Bashrah
- Ibnu Habib al-Zayyat atau Hamzah dari Kufah
- Ibnu Abi al-Najud al-Asadly atau Ashim dari Kufah.

Ketika itu, Ibnu Mujahid menghimpun qiraat-qiraat mereka. Ia menandakan nama Ya’qub untuk digantikan posisinya dengan al-Kisai dari Kufah. Pergantian ini memberi kesan bahwa ia menganggap cukup Abu Amr yang mewakili Bashrah. Sehingga, untuk Kufah, ia menetapkan tiga nama, yaitu Hamzah, Ashim, dan al-Kisai.

Meskipun di luar tujuh imam di atas masih banyak nama lainnya, kemasyhuran tujuh imam tersebut semakin luas setelah Ibnu Mujahid secara khusus membukukan qiraat-qiraat mereka.

Daftar Pustaka
  • Ahmad Syadali dkk, Ulumul Qur;an, Pustaka Setia, 224
  • Abdul al Rahman bin Kamal Jalal al Din al Suyuti, al Itqan fi ulum al Qur’an, tt.


Kisah Cinta Seorang Ayah Kepada Anaknya

cinta ayah pada anaknya
Kisah Cinta Ayah Pada Anaknya sebuah kisah tentang cinta yang tersembunyi dari seorang ayah.

Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk-batuk. Ia seringkali menyembunyikan penyakitnya

"Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hati karena kau perempuan", kata ibu,
Aku mendengarkan ibu dengan heran.

"Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan. Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki-laki tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang", kata ibu.

"Ibu memang sering menelponmu.
Tahukah kau, itu selalu ayahmu yg menyuruh dan mengingatkan".

Mengapa bukan ayahmu sendiri yg menelpon?

Dia bilang, "Suaraku tak selembut suaramu, anak kita harus menerima yg terbaik".

"Ketika kamu diwisuda, kami duduk di belakang. Ketika kau ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu lebih jelas.

"Alangkah cantiknya anak kita ya bu," kata ayahmu sambil menyeka air matanya.

Mendengar cerita ibu di ruang tamu, dadaku sesak, mungkin karena haru atau rasa bersalah.

Jujur saja selama ini kepada ibu aku lebih dekat dan perhatianku lebih besar. Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayah kepadaku. Aku teringat ketika naik kelas 2 SMP aku minta dibelikan tas. Ibu bilang ayah belum punya uang.

Tetapi sore itu ayah pulang membawa tas yang kuminta.

Ibu heran. "Tidak jadi ke dokter?" tanya ibu.

"Kapan-kapan saja.Nanti minum jahe hangat, batuk akan hilang sendiri"
Kata ayah.

Rupanya biaya ke dokter uangnya untuk membeli tasku, membeli kegembiraan hatiku, dengan mengorbankan kesehatannya.

"Dulu setelah prosesi akad nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk kamar. Kau tahu apa yg dilakukan?" tanya ibu.

Aku menggeleng. "Ayahmu sujud syukur sambil berdoa untukmu.
Air matanya membasahi sajadah".

Dia mohon agar Allah melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu. Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon tidak membuatmu lupa zikir kepada-Nya.

Sekiranya diberi cobaan, mohon cobaan itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu.

"Lama sekali dia sujud sambil terisak.
Ibu mengingatkan banyak tamu menunggu. Dia lalu keluar dengan senyuman tanpa ada bekas air di pelupuk matanya".

Mendengar semua itu, air mataku tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipi.

Dari kamar terdengar ayah batuk lagi.
Aku bergegas menemui ayah sambil membersihkan air mata.

"Kau habis menangis?" Ayah menatapku melihat sisa air di mataku.

"Oh, tidak ayah!" aku tertawa renyah. Ku pijit betisnya lalu pundaknya.

"Pijitanmu enak sekali seperti ibumu", katanya sambil tersenyum.

Aku tahu, meski sakit, ayah tetap ingin menyenangkan hatiku dengan pujian. Itulah pertama kali aku memijit ayah. Aku melihat betapa gembira wajah ayah. Aku terharu.

"Besok suamiku menyusulku, ambil cuti seminggu seperti aku. Nanti sore ayah kuantar ke dokter", kataku.

Ayah menolak. "Ini hanya batuk ringan, nanti akan sembuh sendiri".

"Harus ke dokter, aku pulang memang ingin membawa ayah ke dokter, mohon jangan tolak keinginanku", kataku berbohong.

Ayah terdiam. Sebenarnya aku pulang hanya ingin berlibur, bukan ke dokter. Tapi aku berbohong agar ayah mau kubawa ke dokter. Aku bawa ayah ke dokter spesialis.

Ayah protes lagi, dia minta dokter umum yg lebih murah. Aku hanya tersenyum. Hasil pemeriksaan ayah harus masuk rumah sakit hari itu juga.
Aku bawa ke rumah sakit terbaik di kotaku.

Ibu bertanya setengah protes. "Dari mana biayanya?"

Aku tersenyum. "Aku yg menanggung seluruhnya bu. Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku".

Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah. Aku bisa! Aku bisa bu!".

Kepada dokter aku berbisik; "Tolong lakukan yg terbaik untuk ayahku dok, jangan pertimbangkan biaya", kataku. Dokter tersenyum".

Ketika ayah sudah di rumah dan aku pamit pulang, aku tidak menyalami, tetapi merangkul dengan era

Perkembangan Qira'at Sab'ah Di Indonesia


sejarah qiraat indonesia
Pengertian Qira’at Sab’ah adalah cara membaca Al-Qur’an dengan menggunakan ragam bacaan yang mempunyai nilai sanad mutawatir yang dinisbatkan kepada Imam Qiraat Tujuh (Qiraat Sab’ah). Dikatakan qiro’at sab'ah karena ada tujuh imam qiro’at yang terkenal masyhur yang masing-masing memiliki langgam bacaan tersendiri.

Tiap imam qiro’at memiliki dua orang murid yang bertindak sebagai perawi. tiap perawi tersebut juga memiliki perbedaan dalam cara membaca qur’an.  Contoh perbedaan qiraat yang sering kita jumpai adalah imaalah dalam Al Qur'an. Pada beberapa lafal Alquran, sebagian mengucapkan vokal ‘e’ sebagai ganti dari ‘a‘.

Bagaimana dengan Perkembangan Qira'at Sab'ah Di Indonesia? Di Indonesia tidak di ketahui secara persis kapan qira’at sab’ah mulai masuk ke Indonesia. Akan tetapi ada sebagian yang berpendapat bahwa qira’at sab’ah masuk ke Indonesia baru pada sekitar awal abad kedua puluh Hijriyah, yaitu setelah banyaknya pelajar indonesia yang mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Ssbagaimana kita ketahui, saat ini banyak pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan agamanya di timur tengah.

Terdapat sejarah yang menjelaskan, bahwa ulama yang memprakasai masuknya ilmu Qiraat di Indonesia salah satunya adalah Syaikh Muhammad Munawir bin Abdullah Rasyid dari Krapyak Yogyakarta. Syaikh Munawir mempelajari ilmu qiraat dari Hijaz. Kemudian sepulangnya dari sana beliau mendistribusikan ilmu qira’at ini kepada murid-muridnya. Salah satu muridnya yaitu Syaikh Arwani Amin dari Kudus, yang kemudian menyusun buku tentang qiraat sab’ah yaitu “Faid al-Barâkât fî Sab’i Qirâ’ât”. Buku ini telah masyhur di kalangan pesantren-pesantren Indonesia yang mempelajari Qira’at Sab’ah.

Kemudian para periode berikutnya muncul Institut pendidikan di Jakarta. PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an) dan IIQ (Institut Ilmu Al-Qur’an) yang khusus mengajarkan ‘Ulumul Qur’an, termasuk di dalamnya ilmu Qira’at. Sehingga  Ilmu Qira’at semakin masyhur di Indonesia setelah komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya tanggal 2 Maret 1983 memutuskan bahwa:

1. Qiraat Sab’ah adalah sebagian ilmu dari ‘Ulumul Qur’an yang wajib di kembangkan dan di pertahankan eksistensinya.

2. Pembacaan Qira’at Tujuh di lalukan pada tempat-tempat yang wajar oleh pembaca yang berijazah (yang telah talaqqi dan musyâfahah dari ahli qira’at).

Pada periode ini telah muncul juga buku tentang ilmu qira’at dalam bahasa Indonesia, yaitu “KAIDAH QIRAAT TUJUH” yang di tulis pada tahun 1992 oleh salah satu dosen IIQ dan PTIQ, yaitu DR. H. Ahmad Fathoni. Kitab ini sangat membantu memudahkan masyarakat Indonesia yang kurang menguasai bahasa Arab dalam belajar ilmu qira’at.

Menteri Agama Indonesia Prof.Dr. Said Aqil Al Munawwar membuat satu kebijakan yang baik dan strategis untuk memasyarakatkan ilmu qira’at dengan mengeluarkan SK yang mengikut sertakan cabang Qira’at dalam MTQ dan STQ di Indonesia. Maka Perkembangan Qira'at Sab'ah Di Indonesia STQN 2002 di Mataram cabang ini sudah mulai di lombakan. Dan terus berjalan sampai sekarang.


Daftat Pustaka

Dirujuk dari tulisan Makalah : DR. K.H. Ahsin Sakho Muhammad, MA, “Qira’ah Sab’ah di Indonesia”, Maret 2002.

Pendidikan Jihad: Tanpa Dididik, Mujahid Bisa Jadi Pembegal

pendidikan jihad

Pendidikan jihad merupakan bagian dari ranah pendidikan Islami. Karena pendidikan Islami bukan hanya fokus dalam aspek intelektual saja. Akan tetapi seperti yang sudah dijelaskan oleh salah seorang ‘jeger’ (jagoan, bahasa sunda) Pendidikan Islam (mantan guru besar Pendidikan Islam UIN Bandung) Ahmad Tafsir, “Berdasarkan definisi itu maka teori-teori pendidikan Islami sekurang-kurangnya haruslah membahas hal-hal berikut; Pendidikan aspek jasmani, pendidikan aspek akal dan pendidikan aspek ruhani.”

Dengan adanya pernyataan beliau, maka bisa dipastikan bahwa pendidikan jihad merupakan bagian dari pendidikan Islami yang fundamental. Terkandung di dalamnya aspek akal, ruhani dan jasmani. Dengan ungkapan lain bahwa bagian dari pendidikan Islami adalah pendidikan jihad. Hal ini dikarenakan beberapa hal;

Pertama, Jihad merupakan bagian dari ajaran Allah dan RasulNya atau bahkan merupakan bagian dari perintah Allah dan rasulNya. Kedua, Pendidikan Islami harus bisa memenuhi kebutuhan masyarakat terlebih masyarakat muslim. Dan pada hari ini masyarakat muslim sedang membutuhkan pendidikan yang berdasarkan Islam dan dalam rangka menghidupkan kembali ruhul jihad. Ketiga, Pendidikan Islami merupakan pendidikan yang integral, komprehensif dan proporsional. Pendidikan Islami mengembangkan seseorang dari sisi ruhani, akal dan jasmaninya.

Pendidikan jihad merupakan tahapan yang pernah dilalui oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa sallam. Salah seorang intelektual Islam, Ali Juraisyah menyatakan, “Dengan melihat sekilas perjalanan manusia terbaik dan suri tauladan manusia, Muhammad Shallallahu 'alaihi Wa sallam maka kita mendapatkan bahwa dalam berdakwahnya beliau menempuh tiga jalan. Atau dalam ungkapan lain melakukan 3 tahapan; 1) menyebarkan dakwah, 2) melakukan tarbiyah dan pembentukan (kaderisasi), 3) melakukan konfrontasi fisik (jihad) sehingga meraih kemenangan… Pendidikan militer atau Pendidikan Militer Islam (atau tarbiyah jihadiyah) merupakan bagian dari pilar pendidikan yang benar (at Tarbiyah as Shahihah)… jika kita telah mengetahui bahwa seorang muslim mempunyai akal, ruh dan jasad. Maka dalam konsep pendidikan yang benar adalah pendidikan dimulai dari akal kemudian melewati ruh dan berakhir di jasad. Dengan demikian merupakan perkara yang penting seorang muslim siap melakukan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya serta memahami urgensitas jihad dan komitmennya terhadap umat Islam.”

Pendidikan jihad adalah menyiapkan individu dan umat untuk siap melakukan jihad. Kata-kata menyiapkan tentunya menuntut adanya pendidikan lain, seperti pendidikan ruhani yang bisa menjadikan mereka merasa tinggi (tidak rendah diri) dalam kehidupan dunia, pendidikan pemikiran yang menjadikan mereka mengetahui posisi jihad dalam Islam dan mengetahui siapa musuh dan siapa lawan, pendidikan jiwa yang menjadikan mereka siap untuk mengorbankan harta dan jiwa serta waktu di jalan Allah, pendidikan jasmani yang menjadikan mereka mempunyai fisik kuat yang mampu memikul beban jihad dalam medan pertempuran, pendidikan sosial yang bisa menjadikan mereka bisa berinteraksi, berkomunikasi dan berkolaborasi dengan komponen masyarakat lain. Dan satu lagi yang perlu ditambahkan dalam pendidikan jihad adalah pendidikan akhlaq terlebih antar sesama mujahid yang sama-sama mengusung panji-panji jihad. Dan bagian materi terpenting dalam pendidikan akhlaq adalah fiqhul khilaf.


Perlu ditekankan sekali lagi bahwa pendidikan jihad bukan berarti tidak memperhitungkan aspek-aspek pendidikan lainnya. Bukan berarti fokus dalam pendidikan kelaskaran dan urusan perang, bukan berarti meremehkan pendidikan spiritual, intelektual dan politik. Yang dimaksud dengan pendidikan jihad adalah menanamkan ruhul jihad baik dalam skala individual maupun sosial dan menjadikan ruhul jihad sebagai pengikat di antara sektor-sektor pendidikan lainnya. Maksud pendidikan jihad adalah mencetak manusia yang siap hidup dalam rangka memajukan Islam. Manusia yang mengetahui betapa besar perannya dalam Islam, manusia yang hatinya senantiasa terpaut dengan Allah dan hari akhir, manusia yang tidak hidup untuk dunia dengan mendahulukan kepentingan akhirat dalam segenap aktifitasnya.

Pendidikan jihad adalah pendidikan yang menjadikan manusia apapun spesialisasinya sosok yang siap berjuang di jalan Allah, menundukan spesialisasinya dalam rangka kepentingan jihad di jalan Allah. Dengan demikian seorang mujahid bisa terdiri dari seorang ilmuwan, dokter, penulis, arsitek, dosen dan seterusnya. Demikianlah jihad mempunyai ciri khas dan merupakan bagian dari mereka yang tidak bisa dipisahkan.

Sementara Iyad Abdul Hamid ‘Aql menyatakan, “Pendidikan jihad adalah salah satu sektor dari pendidikan islami yang mengkhususkan memberikan skill dalam aspek jasmani dan ruhani sehingga mereka mampu menghalau musuh dengan kekuatan senjata dalam rangka meninggikan kalimat Allah.”

Mujahid Butuh Pendidikan

Kembali kepada sub judul di atas, barang kali judul tersebut terasa sangat pahit dan pedas. Namun tidak dipungkiri bahwa pendidikan jihad dan komponen-komponen pendidikan pendukung lainnya merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter seorang hamba terlebih bagi seorang mujahid.

Selain itu, penulis juga terinspirasi oleh pernyataan ‘emas’ Syaikh Abdullah Azzam dalam bukunya at Tarbiyah al Jihadiyah wal Bina yang mengindikasikan betapa pentingnya pendidikan bagi mujahid. Beliau menyatakan, “Seseorang yang memiliki senjata namun tidak memiliki taqwa maka dia bisa merusak negri. Kami tidak ingin senjata tanpa taqwa. Dari sini, merupakan suatu keharusan akan adanya pendidikan bagi mujahid. Karena seorang mujahid jika membawa senjata sedangkan dia tidak terdidik akan berubah menjadi seorang penyamun (perompak). Perompak yang membegal di jalan. Jika ada pengendara unta dipaksa bayar 100 rupe dan jika ada mobil lewat dipaksa bayar 100 rupe.”

Dalam kesempatan lain (sebagaimana yang dinukil oleh Iyad Abdul Hamid ‘Aql dan Shafwat Samir al Buhairi) Abdullah Azzam menyatakan, “Pendidikan merupakan skala prioritas sebelum seseorang memegang senjata. Kalau tanpa pendidikan maka orang-orang yang membawa senjata itu bagaikan gerombolan bersenjata yang mengancam keamanan warga serta menakutkan mereka siang dan malam. Hal ini bisa anda bandingkan antara komandan yang terdidik dengan komandan yang tidak terdidik yang masing-masing menguasai satu wilayah. Akan ditemukan satu wilayah dalam keadaan tenang dan nyaman sementara wilayah yang lainnya justru mencekam dan banyak pengaduan dari masyarakat.”


Salah seorang ulama Saudi Sayyid Abdul Ghani dalam bukunya Haqiqah al Wala wal Bara’ Fi Mu’taqad Ahli as Sunnah wa al Jama’ah, hlm. 616 menjelaskan tentang urgensitas pendidikan jihad, “Ajakan kepada setiap pendidik, ajakan kepada setiap kalangan yang sedang menyiapkan dan mendidik generasi muda, ajakan kepada setiap kalangan yang ikhlas dalam rangka menyelamatkan umat ini dan menghilangkan kabut duka pada umat ini. Seruan ini ditujukan kepada setiap yang menginginkan kemuliaan atas umat ini setelah bertahun-tahun lamanya berada dalam kehinaan dan kekerdilan, kepada kalangan yang ingin mengangkat umat ini dari lumpur (kehinaan) dan kepada yang ingin mengangkat kepala umat ini dengan mendongak ke atas sebagaimana mestinya dan sesuai pada tempatnya yang hakiki. Sudah seharusnya kita mendidik putra-putri kita dan generasi kita agar mencintai jihad di jalan Allah dan antusias dalam meraih gugur di jalan Allah.”

“Sudah seharusnya kita memberikan pendidikan kepada mereka (pendidikan jihad) dan menjadikan hal demikian berada dalam keyakinan mereka. Yaitu kemuliaan umat ini bisa diraih dengan jihad di jalan Allah. Tidaklah suatu umat yang tetap antusias atas jihad dan bercita-cita gugur di jalan Allah melainkan Allah akan memberikan kepadanya kehidupan dan memuliakannya di atas umat yang lain.”

Di halaman yang sama beliau menyatakan: “Tidaklah suatu umat yang meninggalkan jihad dan terbuai oleh nikmatnya kehidupan dunia melainkan akan ditimpakan kehinaan dan keterpurukan. Tidak diragukan lagi dengan fenomena yang terjadi pada masa ini. Di mana kondisi kaum muslimin; darahnya ditumpahkan, hartanya dirampas, kehormatannya direnggut, tempat-tempat suci dan masjid-masjidnya dihancurkan, tanah airnya di jajah, semua ini terjadi dikarenakan cinta dunia dan takut akan kematian.”

Dan bagi kita yang ingin menggali lebih dalam tentang jihad dan dikaitkan dengan pendikan jihad bisa merujuk kepada karya-karya ditulis para ulama baik ulama klasik maupun kontemporer. Bahkan di antara ulama klasik ada yang telah menuliskan kitab jihad secara tersendiri dan akan ditemukan pembahasan seputar keutamaan jihad baik bersumber dari Al Quran maupun hadits.

Di antara ulama klasik selain penulis Al Kutub As Sittah yang telah menulis kitab jihad adalah; Abdullah bin Mubarak (w 181H), Daud ad Dzahiri (w. 270H), Ibn ‘Ashim (w. 278H), Tsabit al Qurtubi al Maliki (w. 318H), Ibrahim bin Hammad al Uzdi al Maliki (w. ), Abu Sulaiman al Khaththabi (w. 388H), Abu Bakr al Baqilani (w. 403H), Taqiuddin Abdul Ghani al Maqdisi (w. 600H), Ibn Asakir (w. 600H), Ibn al Atsir (w. 630H), Bahauddin al Halabi (w. 632H), Abdul Aziz bin Abdussalam (w. 660H), Ibn Katsir (w. 774H), Ali bin Musthafa al Hanafi (w. 1007H), Husamuddin ar Rumi (w. 1042H) dan lain-lain.

Adapun Ibn ‘Asakir (w. 600H) yang yang menulis kitab tentang jihad dengan mengambil rujukan dari hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi Wa sallam yang ada dalam kitab-kitab hadits. Dari sekian hadits beliau memilah dan mensortirnya hingga menjadi 40 hadits. Kemudian beliau memberinya judul “Al Arba’un Fil Hatstsi ‘Alal Jihad” (40 Hadits dalam Memotivasi Jihad). Wallahu a’lam.


Ust. Anung Al Hamat
(Direktur FS3I dan Kandidat Doktor Pendidikan Islam)

Sejarah Perkembangan Qira'at Al Qur'an

sejarah qiraat al quran
Sejarah Perkembangan Ilmu Qiraatil Qur'an

Ilmu qira’at adalah termasuk bagian dari ‘Ulûm al-Qur’ân atau yang membahas tentang kaedah membaca al-Qur-an. Ilmu ini disandarkan kepada masing-masing imam periwayat dan pengembangnya yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah saw.

Sebagaimana di ketahui bahwa terdapat perbedaan pendapat tentang waktu mulai di turunkannya qira’at, yaitu ada yang mengatakan qira’at mulai di turunkan di Mekah bersamaan dengan turunya al-Qur’an. Ada juga yang mengatakan qira’at mulai di turunkan di Madinah sesudah peristiwa Hijrah, dimana sudah mulai banyak orang yang masuk Islam dan saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan dialeknya. (Macam-macam Qira’at al-Qur’an)

Masing-masing pendapat ini mempunyai dasar yang kuat, namun dua pendapat itu dapat kita kompromikan, bahwa Qiraat memang mulai di turunkan di Mekah bersamaan dengan turunnya al-Qur’an, akan tetapi ketika di Mekah qira’at belum begitu di butuhkan karena belum adanya perbedaan dialek, hanya memakai satu lahjah yaitu Quraisy. Qira’at mulai di pakai setelah Nabi Muhammad di Madinah, dimana mulai banyak orang yang masuk Islam dari berbagai qabilah yang bermacam-macam dan dialek yang berbeda.

Ada dua pendapat tentang hal ini; Pertama, qira’at mulai diturunkan di Makkah bersamaan dengan turunnya al-Qur’an. Alasannya adalah bahwa sebagian besar surat-surat al-Qur’an adalah Makkiyah di mana terdapat juga di dalamnya qira’at sebagaimana yang terdapat pada surat-surat Madaniyah. Hal ini menunjukkan bahwa qira’at itu sudah mulai diturunkan sejak di Makkah.

Kedua, qira’at mulai diturunkan di Madinah sesudah peristiwa Hijrah, dimana orang-orang yang masuk Islam sudah banyak dan saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan dialeknya.

Pendapat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, demikian juga Ibn Jarir al-Tabari dalam kitab tafsirnya. Hadis yang panjang tersebut menunjukkan tentang waktu dibolehkannya membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf adalah sesudah Hijrah, sebab sumber air Bani Gaffar yang disebutkan dalam hadis tersebutterletak di dekat kota Madinah.

Kuatnya pendapat yang kedua ini tidak berarti menolak membaca surat-surat yang diturunkan di Makkah dalam tujuh huruf, karena ada hadis yang menceritakan tentang adanya perselisihan dalam bacaan surat al-Furqan yang termasuk dalam surat Makkiyah, jadi jelas bahwa dalam surat-surat Makkiyah juga dalam tujuh huruf.

Ketika mushaf disalin pada masa Usman bin Affan, tulisannya sengaja tidak diberi titik dan harakat, sehingga kalimat-kalimatnya dapat menampung lebih dari satu qira’at yang berbeda. Jika tidak bisa dicakup oleh satu kalimat, maka ditulis pada mushaf yang lain. Demikian seterusnya, sehingga mushaf Usmani mencakup ahruf sab’ah dan berbagai qira’at yang ada.

Para sahabat berbeda-beda ketika menerima qira’at dari Rasulullah. Ketika Usman mengirimkan mushaf-mushaf ke berbagai kota Islam, beliau menyertakan  orang yang sesuai qiraatnya dengan mushaf tersebut. Qira’at orang-orang ini berbeda-beda satu sama lain, sebagaimana mereka mengambil qira’at dari  sahabat yang berbeda pula, sedangkan sahabat juga berbeda-beda  dalam mengambil qira’at dari Rasulullah SAW.

Dapat disebutkan di sini para Sahabat ahli qira’at, antara lain adalah : Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab,  Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud, Abu al-Darda’, dan Abu Musa al-‘Asy’ari.
Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri Islam dengan membawa qira’at masing-masing. Hal ini menyebabkan berbeda-beda juga ketika Tabi’in mengambil qira’at dari para Sahabat. Demikian halnya dengan Tabiut-tabi’in yang berbeda-beda dalam mengambil qira’at dari para Tabi’in.

Ahli-ahli qira’at di kalangan Tabi’in juga telah menyebar di berbagai kota. Para Tabi’in ahli qira’at yang tinggal di Madinah antara lain : Ibn al-Musayyab, ‘Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman dan’Ata’ (keduanya putra Yasar), Muadz bin Harits yang terkenal dengan Mu’ad al-Qari’, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, Ibn Syihab al-Zuhri, Muslim bin Jundab dan Zaid bin Aslam. Yang tinggal di Makkah, yaitu: ‘Ubaid bin’Umair, ‘Ata’ bin Abu Rabah, Tawus, Mujahid, ‘Ikrimah dan Ibn Abu Malikah.

Tabi’in yang tinggal di Kufah, ialah : ‘Alqamah, al-Aswad, Maruq, ‘Ubaidah, ‘Amr bin Surahbil, al-Haris bin Qais,’Amr bin Maimun, Abu Abdurrahman al-Sulami, Said bin Jabir, al-Nakha’i dan al-Sya'bi.

Sementara Tabi’in yang tinggal di Basrah , adalah Abu ‘Aliyah, Abu Raja’, Nasr bin ‘Asim, Yahya bin Ya’mar, al-Hasan, Ibn Sirin dan Qatadah.

Sedangkan Tabi’in yang tinggal di Syam adalah : al-Mugirah bin Abu Syihab al-Makhzumi dan Khalid bin Sa’d.

Keadaan ini terus berlangsung sehingga muncul para imam qiraat yang termasyhur, yang mengkhususkan diri dalam qira’at-qira’at tertentu dan mengajarkan qira’at mereka masing-masing. Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya masa pembukuan qira’at. 

Para ahli sejarah menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qira’at  adalah Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Salam yang wafat pada tahun 224 H. Ia menulis kitab yang diberi nama al-Qira’at yang menghimpun qiraat dari 25 orang perawi.

Pendapat lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qiraat adalah Husain bin Usman bin Tsabit al-Baghdadi al-Dharir yang wafat pada tahun 378 H. Dengan demikian mulai saat itu qira’at menjadi ilmu tersendiri dalam ‘Ulum al-Qur’an.
Orang yang pertama kali yang menulis masalah qiraat dalam bentuk prosa adalah al-Qasim bin Salam, dan orang yang pertama kali menullis tentang qira’at sab’ah dalam bentuk puisi adalah Husain bin Usman al-Baghdadi.

Pada penghujung Abad ke III Hijriyah, Ibn Mujahid menyusun qira’at Sab’ah dalam kitabnya Kitab al-Sab’ah. Dia hanya memasukkan para imam qiraat yang terkenal siqat dan amanah serta panjang pengabdiannya dalam mengajarkan al-Qur’an, yang berjumlah tujuh orang. Tentunya masih banyak imam qira’at yanng lain yang dapat dimasukkan dalam kitabnya.

Ibn Mujahid menamakan kitabnya dengan Kitab al-Sab’ah hanyalah secara kebetulan, tanpa ada maksud tertentu. Setelah munculnya kitab ini, orang-orang awam menyangka bahwa yang dimaksud dengan ahruf sab’ah  adalah qira’at sab’ah oleh Ibn Mujahid ini. Padahal masih banyak lagi imam qira’at lain yang kadar kemampuannya setara  dengan tujuh imam qira’at dalam kitab Ibn Mujahid. 

Abu al-Abbas bin Ammar mengecam Ibn Mujahid karena telah mengumpulkan qira’at sab’ah. Menurutnya Ibn Mujahid telah melakukan hal yang tidak selayaknya dilakukan, yang mengaburkan pengertian orang awam bahwa Qiraat Sab’ah itu adalah ahruf sab’ah seperti dalam hadis Nabi itu. Dia juga menyatakan, tentunya akan lebih baik jika Ibn Mujahid mau mengurangi atau menambah jumlahnya dari tujuh, agar tidak terjadi syubhat.

Perkembangan sejarah ilmu qira’at terbagi atas enam fase, yaitu:

Fase Pertama: masa pertumbuhan

Fase pertama ini terjadi pada masa Nabi, dimana Nabi mengajarkan al-Qur’an kepada sahabatnya dengan bacaan yang berbeda sesuai dengan apa yang mudah bagi mereka. 

Dengan demikian, para sahabat mendapatkan bacaan al-Qur’an dari Nabi dengan bacaan yang beragam. Seringkali dengan ragam bacaan yang mereka terima, menimbulkan perselisihan diantara para sahabat, lalu Nabi menyelesaikan perbedaan itu dengan mengatakan bahwa al-Qur’an di turunkan dengan berbagai macam versi bacaan. 

Fase kedua; Fase penyebaran ilmu Qira’at 

Fase kedua ini terjadi setelah Nabi wafat, yaitu pada masa sahabat dan tabi’in. Sebagaimana di ketahui para sahabat kebanyakan bermukim di Mekah atau Madinah. Maka setelah Rasulullah wafat sesuai dengan dinamika da’wah para sahabat terpanggil untuk menyebarkan islam ke berbagai pelosok negeri. 

Ada sahabat yang pergi ke negeri Basrah seperti Abu Mûsâ Al Asy’ary. Ada yang ke Kufah seperti Ibnu Mas’ûd. Ada yang pergi ke Syam seperti Abû Darda’, dan lain sebagainya. Para sahabat tersebut mengajarkan al-Qur’an kepada para tabi’in sesuai dengan bacaan yang mereka terima dari Nabi. 

Fase ketiga: Fase kemunculan Ahli Qira’at

Fase ketiga ini berlangsung pada sekitar akhir abad pertama sampai awal abad kedua Hijriyah. Yaitu setelah pengajaran qira’at berlangsung sedemikian lama, maka muncullah ulama ahli qira’at dari kalangan tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Seperti di Basrah muncul ulama terkenal Yahya bin Ya’mar (w. 90 H) yang kemudian di kenal sebagai orang pertama yang menulis qira’at. 

Fase Keempat: Fase penulisan ilmu Qira’at

Fase ini berlangsung bersamaan dengan masa penulisan berbagai macam ilmu keislaman, seperti ilmu hadis, tafsir, tarikh dan lain sebagainya, yaitu sekitar permulaan abad kedua Hijriyah. Maka pada fase ini mulai muncul karya-karya dalam bidang qira’at.

Sebagian ulama muta’akhirin berpendapat bahwa yang pertama kali menuliskan buku tentang ilmu qiraat adalah Yahyâ bin Ya’mar, ahli qira’at dari Basrah. Kemudian di susul oleh beberapa imam qurrâ’, diantaranya yaitu :

1. ‘Abdullah bin ‘Âmir (w. 118 H) dari Syam. Kitabnya Ikhtilâfât Masâhif al-Syâm wa al-Hijâz wa al-‘Irâq.
2. Abân bin Taghlib (w. 141 H) dari Kufah. Kitabnya Ma’ânî al-Qur’an dan kitab Al Qirâ’ât.
3. Muqâtil bin Sulaimân (w. 150 H)
4. Abû ‘Amr bin al-‘Alâ’ (w. 156 H)
5. Hamzah bin Habîb al-Ziyât (w. 156 H)
6. Zâidah bin Qadâmah al-Tsaqafi (w. 161 H)
7. Hârûn bin Mûsâ al-A’ûr (w. 170 H)
8. ‘Abdul Hamîd bin ‘Abdul Majîd al-Akhfasy al-Kabîr (w. 177 H)
9. ‘Alî bin Hamzah al-Kisâ’i (w. 189 H)
10. Ya’qûb bin Ishâq al-Hadramî (w. 205 H)
11. Abû ‘Ubaid al-Qâsim bin Sallâm (w. 224 H). Kitabnya Al-Qirâ’ât. 

Menurut Ibn al-Jazari, imam pertama yang dipandang telah menghimpun bermacam-macam qira’at dalam satu kitab adalah Abû ‘Ubaid al-Qâsim bin Sallâm. Ia mengumpulkan dua puluh lima orang ulama ahli qira’at, termasuk di dalamnya imam yang tujuh (imam-imam Qira’at Sab’ah). 

Fase kelima: Fase Pembakuan Qira’at Sab’ah

Pada peringkat awal pembukuan ilmu qira’ at yang dirintis oleh Abû ‘Ubaid al-Qâsim bin Sallâm dan para imam tersebut di atas, istilah qira’at tujuh belum dikenal. Pada masa ini, mereka hanya mengangkat sejumlah qira’at yang banyak ke dalam karangan-karangannya. Barulah pada permulaan abad kedua Hijrah orang mulai tertarik kepada qira’at atau bacaan beberapa imam yang mereka kenali.

 Seperti di Basrah orang tertarik pada qira’at Abû ‘Amr (w. 154 H) dan Ya’qûb (w. 205 H), di Kufah orang tertarik pada bacaan Hamzah ( w. 156 H) dan ‘Âsim (w. 127 H), di Syam orang memilih qira’at Ibn ‘Âmir (w. 118 H), di Mekah mereka memilih qira’at Ibn Katsîr (w. 120 H), dan di Madinah memilih qira’at Nâfi’ (w. 199 H).

Di penghujung abad ketiga Hijrah, barulah Ibn Mujâhid (w. 325 H) mencetuskan istilah Qira’at Sab’ah atau Qira’at Tujuh, yaitu tujuh macam qira’at yang dipopulerkan oleh tujuh imam qira’at tersebut di atas dengan menetapkan nama al-Kisâ’i (w. 189 H), salah seorang ahli qira’at dari Kufah, dan membuang nama Ya’qûb dari kelompok qari’ tersebut. Maka mulai saat itulah awal mulanya muncul sebutan Qira’at Sab’ah. 

Sebab-sebab mengapa hanya tujuh imam qira’at saja yang masyhur padahal masih banyak imam-imam qira’at lain yang kedudukannya setingkat dengan mereka dan jumlahnya pun lebih dari tujuh, ialah karena sangat banyaknya periwayat qira’at mereka. Ketika semangat dan perhatian generasi sesudahnya menurun, mereka lalu berupaya untuk membatasi hanya pada qira’at yang sesuai dengan khat mushaf yang mudah dihafal dan mudah menurut bacaan al-Qur’an. 

Langkah yang ditempuh generasi penerus ini ialah memperhatikan siapa di antara ahli qira’at itu yang lebih populer kredibilitas dan amanahnya, lamanya waktu dalam menekuni qira’at dan adanya kesepakatan untuk diambil serta dikembangkan qira’atnya. Kemudian dari setiap negeri dipilihlah seorang imam, tanpa mengabaikan periwayat selain tujuh imam qira’at tersebut, seperti qira’at Ya’qûb, Abû Ja’far, Syaibah dan lain-lain. 

Kehadiran istilah Qira’at Sab’ah telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan ulama. Para ulama yang kontra mengkhawatirkan akan adanya timbul sangkaan bahwa qira’at sab’ah adalah sab’atu ahruf yang di kehendaki oleh hadis. Oleh karena itu menurut Abû ‘Abbâs bin Ammar (w. 430 H) alangkah baiknya kalau yang di kumpulkan itu kurang dari tujuh imam qira’at atau lebih dari tujuh. Di antara para ulama yang kontra adalah Abû ‘Alî al-Fârisi, Ibn Khawalaih, Ibn Zanjalah, Makki Ibn Abi Tâlib al-Qaisyi dan lain sebagainya. 
Fase keenam: Fase Pengukuhan Qira’at Sab’ah

Fase ini berlangsung setelah kemunculan kitab Al-Sab’ah karya Ibn Mujahid. Fase ini menjadi fase yang berpenting dalam sejarah penulisan ilmu qira’at. Karena sebagaimana di ketahui bahwa penulisan ilmu qira’at pada masa sebelum Ibn Mujahid bisa dikatakan tidak selektif tapi lebih kepada penulisan qira’at yang sampai kepada mereka dari guru-guru mereka. Karena itu ulama yang pro terhadap gagasan Ibn Mujahid banyak yang memburu riwayatnya imam tujuh tersebut dari berbagai macam jalur periwayatan.

Hasil dari perburuan itu tercantum dalam kitab-kitab qira’at sab’ah yang datang setelahnya. Istilah Qira’at Sab’ah menjadi semakin kokoh dan masyhur dengan munculnya kitab At Taisir karya Abû ‘Amr al-Dâni (w. 444 H). Yang menonjol dari kitab ini adalah penyederhanaan rawi dari setiap imam dengan hanya dua perawi, padahal sebagaimana di ketahui bahwa perawi setiap imam biasanya berjumlah puluhan bahkan ratusan. 
Periwayat-periwayat imam tujuh yang masyhur ialah:

1. Qâlûn (w. 220 H) dan Warsy (w. 197 H), meriwayatkan qira’at dari Imam Nâfi’
2. Qumbul (w. 291 H) dan Al-Bazzi (w. 250 H), meriwayatkan qira’at dari Imam Ibn Katsîr
3. Al-Dûri (w. 246 H) dan Al-Sûsi (w. 261 H), meriwayatkan qira’at dari Imam Abû ‘Amr
4. Hisyâm (w. 245 H) dan Ibn Dzakwân (w. 242 H), meriwayatkan qira’at dari Imam Ibn ‘Âmir
5. Syu’bah (w. 193 H) dan Hafs (w. 180 H), meriwayatkan qira’at dari Imam ‘Âsim 
6. Khalaf (w. 229 H) dan Khallâd (w. 220 H), meriwayatkan qira’at dari Imam Hamzah
7. Abû al-Hârits (w. 240 H) dan Dûri al-Kisâ’i (w. 246 H), meriwayatkan qira’at dari Imam Al-Kisâ’i. 

Penyederhanaan rawi ini sangat bermanfaat untuk memudahkan mempelajari ilmu qira’at , apalagi para perawi yang terpilih telah di akui kredibilitasnya dalam bidang qira’at oleh para ulama sezamannya.

Qira’at Sab’ah bertambah kokoh setelah kemunculan imam Al-Syatibî (w. 591 H) yang telah berhasil menulis materi Qira’at Sab’ah yang terdapat dalam kitab At-Taisir menjadi untaian syair yang sangat indah dan menggugah. Syair itu berjumlah 1171 bait. Kumpulan syair-syair itu di namakan “Hirz al-Amâni wa Wajh al-Tahâni” yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan “Syâtibiyyah”. Syair-syair Syâtibiyyah ini telah menggugah banyak ahli qira’at untuk mensyarahinya. Jumlah kitab yang mensyarahi syair Syâtibiyyah ini lebih dari lima puluh kitab. Nazam al-Syatibiyyah ini merupakan karya terbesar imam al-Syâtibi dalam bidang ilmu qira’at. Sampai sekarang nazam ini dijadikan sebagai rujukan utama bagi umat Islam di dunia yang ingin mendalami ilmu qira’at. 

Daftar Pustaka
  • As-Salahi, Subhi, 2001, Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an, Jakarta, Pustaka Firdaus.
  • Fathoni, Ahmad, DR. H. Kaidah Qira’at Tujuh. Jakarta: ISIQ, 1992.
  • Masyhuri, Ismail, Al-Hafiz. Ilmu Qira’atul Qur’an: Sejarah dan Pokok Perbezaan Qiraat Tujuh. Kuala Lumpur: Nurulhas, t.t.

Macam-Macam Pembagian Qira’at Dan Contohnya

Macam-macam Qira’at al-Qur’an

Macam-macam Qira’at al-Qur’an. Ilmu Qira'at (Pengertian, Manfaat Mempelajari Qira’atmerupakab perbedaan lafal-lafal pada Al-Qur'an, baik dari segi hurufnya maupun cara pengucapan huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain

Beberapa ulama ilmu al-Qur’an berpendapat bahwa qiraat ada tiga macam, mutawatir, ahad dan syadz. Mereka berpendapat bahwa qiraat yang mutawatir adalah qiraat tujuh, kemudian qiraat sepuluh dan qiraat para sahabat adalah ahad. Sebagian berpendapat bahwa qiraat sepuluh adalah mutawatir. Sedangkan selain qiraat tersebut, menurut pandangan ulama adalah syadz.

Menurut Al-Jazari memaparkan macam-macam qiraat ditinjau dari segi sanad adalah: mutawatir, masyhur, ahad, syadz, maudhu’ dan mudraj.

Qiraat mutawatir, adalah qiraat yang disandarkan pada periwayat yang terpercaya dan tidak mungkin mereka berdusta.

Qiraat masyhur, adalah qiraat yang sanadnya sahih tetapi tidak sampai mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa Arab, rasm Uthmani dan terkenal dikalangan ahli qiraat. Oleh sebab itu, qiraat tersebut tidak dikatakan syadz.

Qiraat ahad, adalah qiraat yang sanadnya sahih, tetapi rasmnya berbeda dengan rasm Utsmani.

Demikian juga dengan kaidah dalam bahasa Arabnya yang berbeda serta tidak se masyhur seperti tersebut di atas.

Contoh dalam surah al-Taubah ayat 128: لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفَسِكُمْ

Kata (أَنْفُسِكُمْ) dibaca dengan (أَنْفَسِكُمْ).

Contoh Dalam surah al-Rahman ayat 76 مُتَّكِئِيْنَ عَلَي رَفَارِفَ خُضْرِ وَعَبَاِرقِيِّ حِسَان

Kata (رَفْرَفَ) dibaca dengan (رَفَارِفَ). Kedua bacaan qiraah di atas al-Hakim melalui jalur ‘Ashim Jahdari, dari Abu Barkah, dari Nabi SAW.

Qiraat syadz, adalah qiraat yang sanadnya tidak sahih. Seperti qiraat Ibn al-Samaifah, seperti contoh dalam surah Yunus ayat 92:
فَالْيَوْمَ نُنْحِيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلَفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

Kata (نُنَجِّيكَ) di baca dengan (نُنْحِيْكَ) dan kata (خَلْفَكَ) dibaca dengan(خَلَفَكَ).

Menurut Abu Amr Ibn Hajab, qiraat yang syadz dilarang pembacaannya pada saat solat dan lainnya. Menurut mazhab Syafii, apabila seseorang mengetahui bahwa suatu bacaan adalah qiraat syadz dan membacanya pada saat salat, maka batallah solatnya. Jika tidak mengetahui, maka terbebas dari kesalahan.

Qiraat maudhu, adalah qiraat yang tidak ada asalnya. Sebagai contoh, qiraat yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah dalam surah al-Fatir ayat 28
إِنَّماَ يَخْشَي الله مِنْ عِبَادِهِ الْعَلَمَاءِ

Kata (الله) dibaca dengan (الله). Dan kata (الْعُلَمَاءِ) dibaca (الْعَلَمَاءِ). Menurut Zarqani qiraat tersebut tidak memiliki dasar sama sekali, sehingga Abu Hanifa terbebas darinya.

Qiraat mudraj, adalah qiraat yang disisipkan penafsiran seperti qiraat yang diambil dari Ibn Abbas,

seperti contoh terdapat Surah al-Baqarah ayat 198
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ في مواسم الحج فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Kalimat (في مواسم الحج) adalah penafsiran yang diselipkan dalam nash ayat tersebut.

Juga terdapat dalam surah Nisa ayat 12:

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ أمٍّ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ

Tambahan kata (أمٍّ) adalah qiraah S’ad Ibn Abi Waqqash.

Dari segi jumlah, macam-macam qira’at dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam qiraat yang terkenal, yaitu :

1. Qira’at Sab’ah, adalah qira’at yang dinisbahkan kepada para imam Qurra’ yang tujuh yang termasyhur. Mereka adalah Nafi’, Ibn KAsir, Abu Amru, Ibn Amir, Ashim, Hamzah dan Kisa’i.
2. Qira’at ‘Asyarah, adalah qira’at Sab’ah di atas ditambah dengan tiga qiraat lagi, yang disandarkan kepada Abu Ja’far, Ya’kub dan Khalaf  al-‘Asyir.
3. Qira’at Arba’ ‘Asyarah, adalah qira’at ‘Asyarah lalu ditambah dengan empat qiraat lagi yang disandarkan kepada Ibn Muhaisin, Al-Yazidi, Hasan al-Bashri dam al-A’masy.

Dari ketiga macam qira’at di atas, yang paling terkenal adalah Qiraat Sab’ah kemudian disusul oleh qira’at ‘Asyarah.

Daftar Pustaka
  • Ibn Jazari, Taqrîb al-Nasyr Fî al-Qiraat al-‘Asyar, (Kairo: Dar al-Hadis, 2004), h. 28
  • Jalaluddin al-Suyuti, Al-Itqân Fî Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 2007), vol. 1.
  • Manna Khalil Qattan, Mabahîs Fî Ulûm al-Qur’an, (Kairo: Maktabah Wahbah, tt


Pengertian, Macam-Macam, Manfaat Mempelajari Qira’at


Pengertian Qira’at menurut bahasa

Apa itu Qira’at? Secara bahasa, Qira’at adalah bentuk jamak dari qira’ah (قراءة), merupakan isim masdar dari qaraa (قرأ), yang mempunyai arti "bacaan"

Pengertian qira’at  menurut istilah

Qira’at menurut Az-Zarkasyi ialah perbedaan lafal-lafal al-Qur'an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.

Menurut Al-Zarqani, pengertian qira’at adalah “Suatu mazhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurra’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur’an al-Karim dengan kesesuaian riwayat dan thuruq darinya. Baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya.”

Kesimpulannya. Qira’at ialah ilmu yang mempelajari tentang perbedaan lafal-lafal al-Qur'an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapannya.

Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at

Kenapa bisa terjadi perbedaan? Mengenai hal ini, terjadi perbedaan pula dari para ulama tentang apa sebenarnya yang menyebabkan perbedaan tersebut.

1. Sebagaimana ulama berpendapat bahwa perbedaan Qira’at al-Qur’an disebabkan karena perbedaan qira’at Nabi SAW, artinya dalam menyampaikan dan mengajarkan al-Qur’an, beliau membacakannya dalam berbagai versi qira’at.

Contoh: Nabi pernah membaca ayat 76 surat ar-Rahman dengan qira’at yang berbeda. Ayat tersebut berbunyi: مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَ عَبْقَرِيٍّ حِسَاٍن

Lafadz ( رَفْرَفٍ ) juga pernah dibaca Nabi dengan lafadz ( رَفَارَفٍ ), demikian pula dengan lafadz ( عَبْقَرِيٍّ ) pernah dibaca ( عَبَاقَرِيٍّ ),

Sehingga menjadi: مُتَّكِئِيْنَ عَلَى رَفَارَفٍ خُضْرٍ وَعَبَاقَرِيٍّ حِسَانٍ

2. Pendapat lain mengatakan Perbedaan pendapat disebabkan adanya taqrir Nabi terhadap berbagai qira’at yang berlaku dikalangan kaum muslimin pada saat itu.

Sebagai contoh: ( حَتَّى حِيْنَ ) dibaca ( حَتَّى عِيْنَ ), atau ( تَعْلَمْ ) dibaca ( تِعْلَمْ ).

3. Perbedaan qira’at disebabkan karena perbedaannya qira’at yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi melalui perantaraan Malaikat jibril.

4. Jumhur ulama ahli qira’at berpendapat perbedaan qira’at disebabkan adanya riwayat para sahabat Nabi SAW menyangkut berbagai versi qira’at yang ada.

5. Pperbedaan qira’at disebabkan adanya perbedaan dialek bahasa di kalangan bangsa Arab pada masa turunnya al-Qur’an.

6. Perbedaan qira’at merupakan hasil ijtihad para imam qira’at. Baihaqi menjelaskan bahwa mengikuti orang-orang sebelum kita dalam hal-hal qira’at merupakan sunnah, tidak boleh menyalahi mushaf dan tidak pula menyalahi qira’at yang mashur meskipun tidak berlaku dalam bahasa arab.

Macam-macam/Tingkatan Qira’at

Ada 3 persyaratan bagi qira’at al-Qur’an untuk dapat digolongkan sebagai qira’at shahih, yaitu:

1. صحة السند , harus memiliki sanad yang shahih
2. مطابقة الرسم , harus sesuai dengan rasm mushaf salah satu mushaf Utsmani
3. موافقة العربية , harus sesuai dengan kaidah Bahasa Arab.
Jika salah satu dari persyaratan ini tidak terpenuhi, maka qira’at itu dinamakan qira’at yang lemah, syadz atau bathil.

Berdasarkan kuantitas sanad dalam periwayatan qira’at tersebut dari Nabi SAW, maka para ulama mengklasifikasikan qira’at al-Qur’an kepada beberapa macam tingkatan.

1. المتواتر : Qira’at yang dinukil oleh sejumlah besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta.
2. المشهور : Qira’at yang shahih sanadnya tetapi tidak mencapai derajat mutawatir dan sesuai dengan kaidah Bahasa Arab juga rasm Utsmani.
3. الآحد : Qira’at yang shahih sanadnya tetapi menyalahi rasm Utsmani ataupun kaidan Bahasa Arab (qira’at ini tidak termasuk qira’at yang diamalkan).
4. الشاذ : Qira’at yang tidak shahih sanadnya, seperti qira’at مَلَكَ يَوْمَ الدِّيْنِ , versi lain qira’at yang terdapat dalam firman Allah, berikut: مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (الفاتحة:4)
5. الموضوع : Qira’at yang tidak ada asalnya.
6. المدرج : Qira’at yang berfungsi sebagai tafsir atau penjelas terhadap suatu ayat al-Qur’an.

Kegunaan Atau Manfaat Mempelajari Qira’at

Dengan berfariasinya qira’at, maka banyak sekali manfaat atau faedahnya, diantaranya:

1. Menunjukkan betapa terpelihara dan terjaganya kitab Allah dari perubahan dan penyimpangan.
2. Meringankan umat Islam dan memudahkan mereka untuk membaca al-Qur’an
3. Bukti kemukjizatan al-Qur’an dari segi kepadatan makna, karena setiap qira’at menunjukkan sesuatu hukum syara tertentu tanpa perlu pengulangan lafadz.
4. Penjelasan terhadap apa yang mungkin masih global dalam qira’at lain.
5. Memperbesar pahala.


Daftar Pustaka
  • ABIDIN S., Zainal, Drs., Seluk Beluk al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1992
  • ISMAIL, Sya’ban Muhammad, Dr., Mengenal Qira’at al-Qur’an, Semarang: Bina Utama, 1993
  • MUDZAKKIR AS, Drs., Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an, Jakarta: Lintera Antar Nusa, 1992