Macam-macam Pembagian Bina' dan Contohnya

Pengertian Bina'
Bina dalam ilmu sharaf merupakan kerangka (Frame) suatu kalimat. kerangka asal lafadz itulah dalam shorof disebut bina’. Dengan mempelajari bina' dalam sharaf, maka usul lafadz dapat diketahui sehingga mudah mencari suatu makna dalam kamus-kamus Arab.

Cara mengetahui Bina' dalam ilmu sharaf cukup sederhana, yakni hanya dengan mengetahui lafadz فَعَلَ dengan kata kunci huruf FA', A'IN, dan LAM. Disebut juga Fa' fi'il, ain fi’il, dan lam fi’il.
macam macam pembagian bina'

Macam-macam pembagian Bina'
Bina’ terbagi menjadi 7 macam yang terkumpul dalam Qa'idah:
أَجْــوَفُ مَهْمُــوْزٌ نَــاقِصٌ لَفِيْــفٌ  #  مُضَــاعَفُ أَوْ مِثـَالٌ أَوْ صَحِيحٌ

1. Bina Shahih Pengertian Bina’ Shahih ialah kalimat Fi’il yang huruf asalnya fa’, ain dan lam fi’ilnya selamat dari huruf illat, hamzah dan tadh’if (dua huruf yang sama).
Contoh: نَصَرَ – ضَرَبَ – فَتَحَ

2. Bina’ Mudha’af  Idalah Kalimat yang A’in fi’il dan Lam fi’ilnya terdiri dari huruf kembar.
Contoh: مَدَّ – قَرَّ – دَلَّ
Adapun Mudho’af untuk Fi’il Ruba’iy adalah Kalimat yang Fa’ fiil dan Lam fi’il pertama terdiri dari huruf kembar dan Ain fi’il dan Lam fi’il kedua juga terdiri dari huruf sama kembar. contoh: قَلْقَلَ – وَسْوَسَ – طَأْطَأَ

3. Bina’ Mahmuz Kalimat yang asal yang hurufnya  menggunakan huruf Hamzah. Pembagiannya sebagai berikut:
- Apabila posisi Huruf Hamzah menempati Fa’ Fi’il, maka dinamakan Bina’ Mahmuz Fa’.
Contoh: أَمَلَ
- Apabila Huruf Hamzah berada pada ‘Ain Fi’il, dinamakan Bina’ Mahmuz ‘Ain.
Contoh : سَأَلَ
- Apabila Huruf Hamzah menempat posisi Lam Fi’il, maka disebut Bina’ Mahmuz Lam.
Contoh : قَرَأَ

4. Bina’ Mitsal Kalimat yang fa’ fiilnya berupa Huruf ‘Illat.
- Apabila Huruf ‘Illatnya berupa huruf wau (و) maka dinamakan:
  Bina’ Mitsal Wawi. contoh: وَعَدَ – وَضَعَ – وَجِلَ
- Apabila fa’ fi’ilnya berupa huruf illat Ya’ (ي), maka dinamakan:
  Bina’ Misal Ya-i. contoh: يَسَرَ – يَبِسَ – يَفَعَ

5. Bina’ Ajwaf Kalimat yang ‘Ain Fiil nya berupa huruf ‘illah.

- Apabila A'in Fi’ilnya berupa Harf ‘Illat Wau (و) maka dinamakan Bina Ajwaf wawiy contohnya: صَانَ – قَالَ – خَافَ Asal bentuknya  صون – قول – خوف

- Apabila Huruf Ain Fi’ilnya berupa Harf ‘Illat ya’ (ي), maka disebut:
Bina’ Ajwaf Ya-i contohnya: سَارَ – هَابَ – بَاعَ Asal bentuk huruf nya adalah  سير – هيب – بيع

6. Bina’ Naqis Apabila Lam Fi’il nya berupa huruf illah.

- Jika huruf illatnya wau, dinamakan Bina’ Naqish Wawi 
contoh : غَزَا – رَجَا Asal bentuknya: غزو – رجو
- Jika  Huruf Illat nya menggunakan huruf Ya’, maka disebut Bina’ Naqish Ya’i 
contohnya:
سَرَى – رَمَى Asal bentuk nya سري – رمي

7. Bina Lafif  ialah setiap Kalimat yang kedua huruf nya terdiri dari huruf ‘illat.

- Jika huruf 'illatnya menempati pada Fa’ fiil dan Lam fi’il, dinamakan Bina’ Lafif Mafruq 
contoh nya :
وَقَى – وَجِيَ – وَلَى Asalnya  وقي – ولي
-Apabila kedua huruf illat itu menempati pada ‘Ain fiil dan Lam fiil, disebut Bina’ Lafif Maqrun contoh : شَوَى – قَوِيَ – رَوِيَ Bentuk asal : شوي

Pengertian Dan Pembagian Dhomir

pengertian dhamir
Pengertian Dhomir
Dhomir dalam bahasa Indonesia disebut kata ganti. Sedangkan pengertian dhomir ialah Isim Ma'rifah yang Mabni yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili penyebutan sesuatu atau seseorang maupun sekelompok.

Mabni diatas maksudnya yaitu Isim yang tidak berubah harokat akhirnya baik dalam keadaan rofa, nashob maupun khofadz/jarr. sehingga kalau di i’rob hanya menempati kedudukannya saja, harokat akhir tidak berubah

Dhomir juga sering disebut juga sebagai kata yang menunjukkan kepada makna dia, kamu, saya, maupun seseorang, berdua atau banyak, laki-laki ataupun perempuan.

Mudhmar dan dhomir adalah dua isim yang sama, yaitu mengenai lafadz yang dipergunakan untuk mutakallim (pembicara), seperti lafadz أَنَا = saya, atau orang yang diajak bicara ( orang kedua) seperti   أَنْتَ = kamu, atau untuk orang ketiga seperti lafazh هُوَ = dia.

Pembagian Dhomir

Adapun pembagian dan macam-macam dhomir terbagi menjadi 3 macam :
Pertama منفصل Munfashil (terpisah)
Kedua متصل Muttashil (menyatu/bersambung)
Ketiga مستر Mustatir (melebur)

1. Dhomir Munfashil (الضمير المنفصل). Pengertian dhomir munfashil ialah dhomir yang penulisanya dipisah dari isimnya karena dhomir munfashil adalah dhomir yang berdiri sendiri. Contoh :
 هو طالِبٌ   =  Dia (laki-laki) seorang pelajar.
 أنْتَ نشيطٌ  = Kamu (laki-laki) rajin.
 هي مُدَرِّسَةٌ  = Dia (pr) seorang guru (wanita).

Dhomir munfashil memiliki 2 macam:
a). Dhomir munfashil yang di-rofa'-kan
Contoh: أَنا طالب , انت طالب , هم طلاب.
b). Dhomir munfashil yang dinashobkan
Contoh : إياك ، إياي ، إياكم .

2. Dhomir Muttashil (الضمير المتصل) ialah dhomir yang penulisannya bersambung dengan kata yang lain (menyatu). Dhomir ini berkedudukan sebagai objek. Contohnya :  هذا كتابي (haadzaa kitaabii)= ini kitab ku.

Dhomir Muttashil memiliki 3 macam bentuk:
a). Dhomir Muttashil yang dibaca rofa'
b). Dhomir Muttashil yang dibaca nashob
c). Dhomir Muttashil yang dibaca jarr

3. Dhomir Mustatir (الضمير المستتر) ialah dhomir yang tersembunyi dalam suatu kata kerja / fi'il. Dhomir ini tidak tertulis atau tidak kelihatan tapi bisa diketahui dengan melihat bentuk kata kerjanya. Contoh:

 (ذهب)  : Dia (lk) telah pergi. Kata kerja ini memiliki pelaku/fail yg tidak tertulis/tersembunyi yaitu (هو).
 (ذهبتُ)  : Saya telah pergi. Kata kerja ini memiliki pelaku tersembunyi yang taqdirnya adalah anaa (أنا).

 ذَهَبَ إلَى الْمَدْرَسَةِ (Dia laki-laki telah pergi ke sekolah )
 ذَهَبْتُ إلَى الْمَدْرَسَةِ (Saya telah pergi ke sekolah )
 أَذْهَبُ إلَى الْمَدْرَسَةِ (Aku sedang pergi ke sekolah )

Dhomir dikelompokkan menjadi tiga macam:

1. Mutakallim ( مُتَكَلِّم ) atau pembicara orang pertama.
a) Mufrad/Tunggal: أَنَا  untuk Mudzakkar maupun Muannats.
b) Mutsanna/Jamak: نَحْنُ untuk Mudzakkar maupun Muannats.

2. Mukhatab ( مُخَاطَب ) atau lawan bicara orang kedua. Terdiri dari:
a) Mufrad: أَنْتَ (Anta) untuk Mudzakkar dan أَنْتِ (Anti) untuk Muannats.
b) Mutsanna: أَنْتُمَا untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: أَنْتُمْ (antum) untuk Mudzakkar dan أَنْتُنَّ (antunna) untuk Muannats.

3. Ghoib ( غَائِب ), tidak berada di tempat stau orang ketiga. Terdiri dari:
a) Mufrad: هُوَ (huwa) untuk Mudzakkar dan هِيَ (hiya) untuk Muannats.
b) Mutsanna:  هُمَا untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: هُمْ (Hum) untuk Mudzakkar dan هُنَّ (Hunna) untuk Muannats.

Ketentuan Dhomir
Dhomir ada yang menempati kedudukan rofa’, nashob dan jarr.

  • Apabila dibaca Rofa’ maka kedudukannya sebagai mubtada’, khobar, fa’il atau naibul   fa’il, isim kaana.
  • Apabila dibaca Nashob maka kedudukannya sebagai maf’ul bihi dan isim inna.
  • Apabila Dhomir dibaca jarr, maka kedudukannya sebagai mudhof ilayhi dan majrur,     karena didahului huruf jar.

Dhomir bisa tampak (ضَمِيْرٌ ظَاهِرٌ) misalnya كَتَبْتُada juga yang tidak tampak (ضَمِيْرٌ مُسْتَتِرٌ) contohnya كَتَبَ.

Syarat dhomir tidak boleh dibaca jazm, karena tidak ada dhomir yang menempati kedudukan Jazm karena dhomir adalah isim dan isim itu tidak ada yang majzum.

Menjawab Pesta Seks Di Dalam Surga

kenikmatan dalam surga
Ceramah Pesta Seks Ustadz Syam Di Telivisi

Sering kita menyaksikan, ustadz yang punya popularitas mulai dari ustadz tingkat pengajian kelas bawah hingga ustadz bertarif mahal yang kerap muncul di televisi meberikan materi yang terasa janggal, dakwah yang bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. 

Salah satunya ustadz Syamsuddin Nur Makka atau yang dikenal dengan Ust Syam, da’i muda asal Maros, Sulawesi Selatan, yang kerap tampil di televisi telah menodai ajaran islam dengan pernyataannya Pesta Seks Di Surga. 

"Salah satu nikmat yang ada dalam surga adalah pesta seks. Minta maaf, karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia dan kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT di surga adalah pesta seks. Kenapa ini? Karena ini yang disuruh tahan di dunia oleh laki-laki,” demikian ucap ustadz Syam di hadapan audiens yang mayoritas perempuan.

Pemikiran semacam ini, tentunya mencemari pandangan orang tentang Islam selama ini. Bagaimana nantinya kalau surga dianggap sebagai tempatnya pesta seks, bahkan bisa terjadi anggapan kalau orang beribadah agar masuk surga supaya bisa pesta seks. Naudzubullah, Sejak menempuh pendidikan, di Sekolah, di Pesantren, hingga kuliah saat ini. Saya belum pernah, bahkan tidak ada sama sekali menemukan kalimat seperti itu yang keluar dari lisannya orang islam.

Apakah di surga ada pesta seks?

Mari kita renungkan terlebih dahulu apa itu pesta seks. Hal semacam ini (pesta seks) sering menjadi perbincangan hangat dalam kenakalan remaja. Dalam benak kita mungkin yang terbayang pesta seks sebagai hubungan intim yang dilakukan oleh beberapa orang atau dilakukan secara massal.

Surga adalah hal yang tak pernah dilihat dengan mata, didengar dengan telinga dan dirasakan oleh hati manusia, surga itu masih ghaib. Kita tahu tentang surga hanya melalui Al Quran dan hadits-hadits Nabi. Maka, apabila mau berbicara tentang surga harus dengan Al Quran maupun Hadits Rasulullah. Seorang penceramah tidak bisa semaunya saja menerangkan surga dengan imajinasinya sendiri.

Disurga memang ada pasangan laki-laki dan perempuan, bidadari-bidari, dan berbagai kenikmatan lainnya.

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Artinya : Di dalam jannah itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal didalamnya”. (Az-Zukhruf : 71)

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Artinya : Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Ghafir : 8)

Sebagaimana diterangkan dalam hadist Nabi SAW riwayat Abu Hurairoh; “masing-masing mereka memiliki dua istri. Sumsum tulang betisnya kelihatan dibalik daging, karena saking indahnya. Tidak ada perselisihan dan permusuhan di antara mereka. Mereka sehati, senantiasa bertasbih mensucikan Allah, pagi dan sore.” (HR. Bukhari 3245, Muslim 2843)

Dalam surga sama sekali tidak ada pest seks. Jika ada ayat maupun hadits yang menjelaskan tentang berhubungan intim didalam surga bukan berarti menjelaskan tentang pesta seks. 

Hadits tentang pesta seks

Dalam islam, ketika kita belajar tentang surga, kita tidak akan menemukan ilmu tentang pesta seks, dalam kitab apapun tidak ada yang menjelaskan itu semua. Lalu dari mana asal usul sejarah istilah pesta seks ini lahir?

Semua fitnah ini tak lain merupakan hujatan orang-orang kafir, musuh-musuh islam. Kalau anda tidak percaya, silahkan cari di internet dengan kata kunci "Surga, Nikmatnya Pesta Seks Dalam Islam" disana ada beberapa situs miliknya orang kristen. Seperti : mantanmuslim.com, sejarahislamwordpress.com, siapmurtad.com dan masih banyak situs-situs lainnya.

Dari fitnah orang-orang kafir itulah sehingga istilah pesta seks sempat menjadi trading topick dalam perdebatan di media sosial.

Mereka mencoba mengotak atik hadits tentang kenikmatan surga kemudian merubah arti dan sebagainya untk merusak agama islam. Salah satu contoh hadits: 

قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ نَصِلُ إِلَى نِسَائِنَا فِي الْجَنَّةِ ؟ فَقَالَ :  إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ فِي الْيَوْمِ إِلَى مِائَةِ عَذْرَاءَ

Ada yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan berhubungan dengan bidadari-bidadari kita di surga?”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seseorang di surga mampu berhubungan dengan 100 bidadari dalam sehari.” (HR. Abu Nu’aim dalam Shifat Al-Jannah, 1: 169; Al-Bazzar dalam musnadnya, 3525; Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, 2: 12)

Hadits di atas bukan menunjukkan jumlah istri 100, namun kekuatannya bisa menjimak (menyetubuhi) 100 bidadari dalam sehari.

Hadits lainnya juga menjelaskan, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai penduduk surga yang paling rendah kedudukannya dan paling terakhir terselamatkan dari neraka,

ثُمَّ يَدْخُلُ بَيْتَهُ فَتَدْخُلُ عَلَيْهِ زَوْجَتَاهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ فَتَقُولاَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَاكَ لَنَا وَأَحْيَانَا لَكَ – قَالَ – فَيَقُولُ مَا أُعْطِىَ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُعْطِيتُ

“Kemudian ia masuk rumahnya dan masuklah menemuinya dua biadadari surga, lalu keduanya berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanmu untuk kami dan yang menghidupkan kami untukmu. Lalu laki-laki itu berkata: “Tidak ada seorangpun yang dianugerahi seperti yang dianugerahkan kepadaku.” (HR. Muslim, no. 188)

Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib Al-Kindi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِى أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِى سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ

“Bagi orang yang mati syahid di sisi Allah enam keutamaan:  ia diampuni tatkala pertama kali darahnya muncrat. ia melihat tempat duduknya di surga. ia diselamatkan dari siksa kubur. ia diamankan tatkala hari kebangkitan. kepalanya diberi mahkota kewibawaan, satu berlian yang menempel di mahkota itu lebih baik dari pada dunia seisinya. ia dinikahkan dengan 72 gadis dengan matanya yang gemulai. ia diberi hak memberi syafaat 70 orang dari kerabatnya.”  (HR. Ahmad, 4: 131; Tirmidzi, no. 1663; Ibnu Majah, no. 2799.)

Meskipun banyak hadits-hadits yang dipelintir oleh kaum yang tak bertanggung jawab, namun hal ini sudah dibantah oleh saudara saudara kita yang lainnya. 

Pengertian Dan Objek Ilmu Sharaf

objek ilmu sharaf

Apa pengertian Sharaf?
Sharaf yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk bentuk kata dalam bahasa Arab. yang mengkaji akar kata untuk mengetahui bentuk-bentuk kata Arab dengan segala hal ikhwalnya di luar i’rab dan bina.

Pengertian ilmu sharaf dapat didefinisikan sebagai ilmu untuk mengetahui bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab, Perubahan bentuk kata ini dalam prakteknya disebut Tashrif. Oleh karena itu dinamakan Ilmu Sharaf (perubahan, berubah).

Qaidah :
اِعْلَمْ، اَََنَّ التَّصْرِيْفَ فِي اللُّغَةِ: التَّغْيِيْرُ، وَفِي الصَّنَاعَةِ: تَحْوِيْلُ اْلأَصْلِ الْوَاحِدِ إِلَى أَمْثِلَةٍ مُخْتَلِفَةٍ لِمَعَانٍ مَقْصُوْدَةٍ لاَ تَحْصُلُ اِلاَّ بِهَا.

Ketahuilah, bahwasanya yang dinamakan Tashrif menurut Bahasa adalah: pengubahan. Sedangakan menurut Istilah adalah: pengkonversian asal (bentuk) yang satu kepada contoh-contoh (bentuk) yang berbeda-beda, untuk (tujuan menghasilkan) makna-makna yang dimaksud, yang mana tidak akan berhasil tujuan makna tersebut kecuali dengan contoh-contoh bentuk yang berbeda-beda.

Contoh sharaf/shorof:
Mashdar  ضَرْبٌ = Pukulan.
Fi’il Madhi ضَرَب = Telah memukul.
Fi’il Mudhari’ يَضْرِبُ = Akan memukul.
Fi’il Amar  اِضْرِبْ  = Pukullah

Contoh di atas itulah dikatakan Tashrif, yaitu pengubahan asal bentuk yang satu kepada bentuk yang lain untuk menghasilkan makna yang dimaksud.

Jenis-Jenis Tashrif
Tashrif itu ada dua macam:

1. Tashrif Ishtilahi ( تَصْرِيْفٌ اِصْطِلاَحِيٌّ )
yaitu perubahan kata yang didasarkan pada perbedaan bentuk katanya seperti merubah sebuah kata kerja bentuk lampau menjadi kata kerja bentuk sedang, kata kerja bentuk perintah, kata kerja bentuk larangan, dan seterusnya.

2. Tashrif Lughawi (تَصْرِيْفٌ لُغَوِيٌّ )
yaitu perubahan yang didasarkan pada jumlah dan jenis pelakunya seperti perubahan sebuah kata benda tunggal menjadi kata benda berjumlah dua, menjadi kata benda jamak, dan sebagainya.

Objek Kajian Ilmu Sharaf

Objek kajian ilmu sharaf adalah seputar kalimat isim mutamakin (isim isim yang dapat diubah) dan fiil-fiil yang mutassarif (dapat ditasrif).

Manfaat mempelajari Ilmu Sharaf:

-Mudah dan cepat mencari arti kata berbahasa Arab di dalam kamus Arab-Indonesia sehingga penggunaan kamus menjadi optimal.

-Bisa memperkirakan dan menentukan arti kata yang tidak didapatinya di dalam kamus sehingga ketergantungan terhadap kamus menjadi berkurang.

-Bisa memberikan harakat dengan benar pada kata-kata berbahasa Arab dalam tulisan arab gundul atau kitab kuning dan mampu menerjemah dengan baik.

-Dengan memahami Sharaf kita bisa menentukan asal satu kata, dan ini akan memudahkan kita dalam pencarian arti di kamus.

-Dengan mengetahui arti satu kata asal dan memahami polanya, akan terlahir kosakata-kosakata lain yang dengan mudahnya kita terjemahkan tanpa harus melihat kamus.

Tujuan Mempelajari Ilmu Sharaf :

  1. Untuk mengetahui bntuk dasar suatu kalimat dengan segala perubahan-perubahan, misalnya dari bentuk fiil madhi berubah menjadi Fiil Mudhori, Amar, Masdar, Isim Fail, Isim Maf’ul, Isim Zaman dan Makan.
  2. Untuk mengetahui perubahan-perubahan makna dari perubahan-perubahan bentuk dasar suatu kalimat, misalnya lafadz Ghafaro’ bentuk tsulasi diubah menjadi beberapa bentuk, seperti Istagfir, Igfir atau Taghafaro’.
  3. Untuk mengetahui perubahan fungsi suatu kalimat misalnya yang semula bentuknya kata kerja lazim (Intransitif) berubah menjadi Mutaadi (Transitif), contoh  Jalasa (Duduk) diubah menjadi Ijlis (Duduklah).
  4. Untuk membantu seseorang dalam rangka melacak makna atau arti suatu kata dalam kamus mislnya makna atau arti suatu kata dalam kamus, misalnya dalam suatu kalimat kita temukan kata Mat’amun, maka dengan ilmu sharaf dapat kita lacak bentuk dasarnya dari Fiil Madhinya, Tsulasi, Ruba’i, Mujarrad  atau  Majjid.
  5. Untuk membantu penerjemahan agar menemukan makna arti dengan tepat, seperti lafadz Istafhim asal kata Tsulasi Ghafara(Mengampuni), berarti meminta ampun dan menemukan asal kata dengar, seperti lafadz Qi (Jagalah) dari  fiil Madhi Tsulasi Mujarad  Waqiya.


Rujukan :

Ahmad Fauzan Zein Muhammad, al-Qawaid al-Shorfiyyah,(Kudus:Menara Kudus,tt)

Mustafa al ghalayain, Jami al- Durus al- Arabiyyah, (Beirut: Dar al- khotob al- Alamiyyah 2009)

Abu Hasan Ali bin Hisyam,Kaylaini Izzani (Dar al-Ilm, tt)

Ali bin al-Jarjani ,Kitab Atta’rifat (Jeddah :al- Haramani,1421)

Anas Idhoh,Ilmu Sharaf Lengkap(Al-Asri Pekalongan 2009)

Cara Cepat Belajar Dan Menguasai Ilmu Nahwu

cara cepat belajar nahwu
Hampir semua orang ingin cepat menguasai ilmu nahwu, dan tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan untuk menguasainya. Sebenarnya mempelajari ilmu nahwu sama seperti mempelajari ilmu ilmu yang lain. Baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Ada yang bilang bahwa mempelajari ilmu nahwu itu sulit lebih mudah belajar bahasa inggris, matematika, dsb. Disisi lain justru sebaliknya, ada yang lebih mudah menguasai ilmu nahwu dan sharaf dari pada bahasa inggris.

Semua bisa disederhanakan tergantung cara berfikir kita dalam memahami segala sesuatu. Karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Termasuk dalam menguasai pelajaran.

Sebelum anda mempelajari nahwu perlu diketahui juga, ada dua tipe orang dalam belajar ilmu nahwu.

Pertama : orang yang sering bergelimang dengan bahasa arab atau selalu membaca literatur-literatur arab, dalam hal ini anggap saja santri dan siswa yang bersekolah di Madrasah. Biasanya orang seperti ini cepat menguasai dan memahami ilmu nahwu.

Kedua : Orang yang belum pernah berkecimpung dalam dunia bahasa arab. Anggap saja siswa yang sekolah di Negeri dan tidak pernah mempelajari ilmu bahasa arab. Orang semacam ini kemungkinan akan lebih sulit mempelajarinya bahkan tidak bisa menguasainya.

Berikut cara cepat menguasi ilmu nahwu, walaupun cara cepat itu adalah mustahil dilakukan karena semua pasti butuh proses. Paling tidak waktu yang digunakan untuk belajar menguasai ilmu nahwu lebih singkat dari biasanya.

Tips sebelum membahas cara agar bisa menguasai ilmu nahwu

A. Pilihlah kitab atau buku nahwu yang sesuai
Banyak sekali kitab dan buku yang mempelajari ilmu nahwu, mulai dari panduannya hingga kitab nahwu itu sendiri. Sebaiknya mulailah dengan kitab nahwu husus pemula, jangan langsung ke Kitab Rujukan Para Ulama semisal Alfiyah Ibnu Malik, tapi mulailah dari yang mudah dipelajari

B. Gunakan Kitab Matan Nahwu
Dalam buku buku nahwu baik yang berbahasa Arab maupun berbahasa Indonesia terdapat dua sistem pembahasan. Ada yang menggunakan Nadzaman (Nadzmul Jurumiyah) dan Matan (Matnul Jurumiyah).

Agar lebih mudah belajar nahwu, saya sarankan sebaiknya gunakan kitab yang Matan karena lebih fokus kepada inti pembahasan. Jika anda menggunakan Nadzaman sebenarnya tidak apa-apa. Hanya saja waktu anda akan tersita menghafal kaidah-kaidah atau nadzaman.

Cara cepat belajar Nahwu:

1. Mulailah dengan memahami dasar-dasar ilmu Nahwu.
Sebagai bahan dasar dalam belajar nahwu. Pahamilah terlebih dahulu istilah-istilah yang ada pada tiap-tiap bab yang akan dipelajari. Misalkan apa itu kalam, apa itu kalimat, apa itu isim mufrad, dan lain sebagainya.

2. Sistematis/berurutan, jangan diacak.
Belajar sistemaits berarti belajar secara teratur, tertata rapi, mengikuti sesuai nomor urut . ketika sudah paham satu pembahasan jangan dulu melompat ke pembahasan lain yang berada dalam pembahasan yang masih jauh. Misalkan hari ini belajar nahwu bab ke - 1, besok langsung meloncat ke bab 8. Maka hindarilah hal semacam ini.

Belajarlah secara urut, dari awal dulu fahami satu persatu. jangan yang awal tidak faham, tapi sudah loncat ingin faham yang masih jauh pembahasannya kedepan. Jika hal ini dilakukan, akan menghambat proses belajar nahwu yang cepat.

3. Fokus Belajar Ilmu Nahwu.
Fokus belajar nahwu agar cepat bisa tidak harus dengan meninggalkan pelajaran sekolah yang lainnya. Akan tetapi buatlah waktu husus belajar nahwu, kalau perlu berikan waktu yang banyak untuk nahwu ini.

4. Perbanyak menghafal.
Menghafal materi pada tiap-tiap bab memang tidak harus. Akan tetapi jika anda ingin cepat menguasi nahwu dan ingin cepat bisa membaca kita kuning. Maka perbanyaklah menghafal, lebih baik lagi hafalan nahwunya disetor pada guru yang mengajarinya.

Pengalaman saya dulu, menyetor hafalan nahwu kepada guru tiap malam. Karena selain belajar nahwu disekolah  juga belajar di mushalla tempat saya ngaji dimalam hari . Dan kebetulan kitab yang saya gunakan adalah matnul jurumiyah, karena lebih mudah dan lebih ringkas.

5. Carilah Guru Atau Pembimbing.
Ingatlah, bahwa belajar nahwu tidak bisa secara otodidak yang kita hanya tinggal membacanya. Kecuali bagi orang yang sudah tahu tentang istilah-istilah dalam bahasa arab. Kalau bagi pemula, jangan harap bisa menguasai nahwu dengan belajar secara otodidak. Maka sebaiknya carilah guru atau pembimbing yang bisa membantu anda dalam belajar nahwu.

6. Jadikan Kebiasaan.
Pernah dengar istilah "Bisa karena terbiasa"?. Maka jadikanlah belajar nahwu sebagai kebiasan setiap harinya. Insyaallah dengan seperti itu akan cepat bisa menguasai dan memahami. Belilah kitab-kitab nahwu, isilah smartphone atau tablet anda dengan aplikasi kitab nahwu. jika punya teman yang paham nahwu, sesekali ajak diskusi atau ngobrol seputar materi nahwu.

Itulah mengenai cara cepat belajar nahwu. Perlu digaris bawahi, belajar ilmu nahwu saja tidak cukup untuk bisa membaca kita kuning, jangan berharap dengan belajar ilmu nahwu  anda langsung bisa membaca kita kuning. Untuk bisa membaca kita kuning perlu belajar ilmu tata bahasa lainnya seperti sharaf. Yang penting anda fokus dulu dalam bidang nahwu ini jika ingin cepat menguasainya.

Dan jangan lupa juga, dari beberapa cara diatas semua akan sia-sia kalau tidak dilandasi dengan Niat yang tulus, Doa dan ikhtiar (berusaha).

Menasehati Orang Didepan Umum

nasehat memarahi
Tidak semua orang seperti yang kita sangkakan. Jangan hanya karena alasan lebih mulia, lebih terhormat, pangkatnya lebih tinggi, lantas menjadikan kita berhak menegur orang lain didepan umum. Ingatlah, yang seperti itu tidak lebih dari sebuah celaan, tidak lebih dari menjatuhkan dan mempermalukan. Apakah engkau tidak merasa malu ketika engkau diberi nasehat dihadapan banyak orang kemudian kesalahanmu disebutkan didalamnya, deperlihatkan dan dipertontonkan didepan orang banyak?

Hati-hatilah dengan urusan hati. Tugas kita adalah menasehati bukan memaksa. Jangan sampai kita merasa paling tinggi, merasa paling baik merasa paling suci hanya karena kita telah bermajelis ta'lim belasan tahun. Ingatlah bahwa hati itu ada dalam genggaman Allaah. Hanya Allah lah yang dapat memberikan hidayah.

Bukan berarti kita tidak berbuat maksiat lantas menjadikan kita mudah meremehkan orang lain yg masih terjerat kemungkaran. Jangan karena gelar ustadz, kiyai, jabatan yang lebih tinggi, lantas merendahkan saudara saudari kita yang masih awam. Bukankah daripada hanya mencela dan sibuk menilai kita doakan saudara saudari kita agar mampu berubah lebih baik. Agar di istiqomahkan dalam Hijrahnya.

Namanya orang berhijrah, semua butuh proses dan waktu sebagaimana kita sendiri yang telah mengaji belasan tahun bukan berarti tak lepas dari kesalahan dan kekhilafan. Jangan menuntut orang lain sempurna dan tidak boleh memiliki cela, yang sekalinya salah langsung di tegur habis-habisan tanpa adab dan cara yg hikmah.

Hijrah itu untuk menjadi lebih baik, bukan berarti telah menjadi sebersih malaikat. Hijrah itu untuk meraih ridho Allaah, bukan berarti telah dijamin Surga. Hijrah itu untuk menjadi lebih penyayang, bukan kasar dan pencela. Hijrah itu untuk mengenal adab, bukan menjadi makin tak beradab.

Terkadang kita mudah menasehati orang lain, tetapi lupa menasehati diri kita sendiri. Bagaimana menginginkan orang lain menjadi lebih baik, kalau kita sendiri belum menjadi orang baik. Maka dari itulah islam mengajarkan agar kita selalu saling menasehati. Semoga Allah Swt menjadikan kita hamba-hamba yang sholeh sholehah, menjadikan kita orang yang baik. Amien...

Nasymut Gelar Acara Setengah Abad Dan Haflatul Imtihan


ceramah nasymut candi
Sumenep 09/07/2017, Madrasah Nasyatul Muta'allimin atau yang dikenal Nasymut, gelar acara  Tasyakuran peringatan Setengah Abad dan Haflatul Imtihan. Madrasah yang berlokasi di Desa Candi, Kecamatan Dungkek, Sumenep, Jawa Timur, menarik perhatian masyarakat sekitar. Sebab kegiatan peringatan mencapai usianya yang ke 50 tahun, dimeriahkan dengan berbagai kegiatan sejak dua bulan sebelumnya.

Tasyakuran setengah abad, merupakan peringatan berdirinya madrasah yang dimotori oleh para alumni dan para guru Nasyatul Muta'allimin (Nasymut). Sehingga dimalam puncak peringatan, dilantiklah para pengurus ikatan alumni  secara resmi.
haflatul imtihan

Selain tasyakuran setengah abad, Nasymut menggelar acara haflatul imtihan sebagai penutup dari tahun ajaran. Ribuan orang turut memeriahkan dalam acara tahunan ini yang didalamnya terdapat pawai Karnafal. Tak kalah meriahnya juga para alumni ikut andil dalam mengikuti pawai karnafal tahun ini.

Ketua Yayasan Al-Jailani Candi, A. Ruhan S.Ag. Dalam sambutannya Menuturkan, bahwasanya peringatan Haflatul Imtihan merupakan penutup tahun pelajaran 2016/2017, dan patut kita bersyukur juga karena Madrasah Nasy'atul Muta'allimin Candi masih eksis sampai saat ini. Beliau juga berharap dan berdoa supaya madrasah yang dirintis oleh alm. KH. Jailani tetap bertahan sampai akhir zaman. 

haflatul imtihan

Tasyakuran setengah abad dan haflatul imtihan kali ini mendatangkan penceramah KH. Faqih Ali dari Pasir Putih Situbondo. Dalam ceramanya Kh. Ali Faqih menjelaskan tentang tegaknya pilar kehidupan bangsa. 

Dai kondang dari Situbondo ini juga mengulas tentang visi pokok Nasy'atul Muta'allimin, yakni beriman, bertaqwa, berilmu dan berakhlakul karimah. Acara ditutup dengan doa oleh Dr. Kh. Munif.

Tentang Labang mesem Di Sumenep


labang mesem keraton sumenep
Namanya Labang Mesem (dibaca: labeng), sebuah pintu atau gerbang yang memiliki sejarah dengan keraton Sumenep. Kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maka menjadi Pintu tersenyum. Sejarah penamaan labeng mesem, konon nama ini merupakan simbol/lambang atas sikap keramah-tamahan yang penuh dengan senyum dari para raja dan seluruh orang keraton ketika menerima tamu.

Sebenarnya banyak versi yang menyebutkan sejarah asal-usul penamaan pintu masuk atau gerbang utama keraton yang dibangun oleh Panembahan Sumolo ini. Tapi orang-orang Sumenep kebanyakan lebih cendrung kepada sejarah yang mengatakan bahwa penamaan labang mesem ini berkaitan dengan penajaga pintu yang selalu tersenyum. 

Pertama. pada jaman dahulu pintu gerbang menuju keraton itu dijaga oleh dua orang cebol. Hal ini bisa dilihat dari dua ruangan dengan pintu rendah di kanan dan kiri gerbang itu. Menguatkan bukti itu, di makam Asta Tinggi terdapat kuburan-kuburan cebol. Karena yang menjaga orang dengan bentuk kecil, maka tak heran bila sering menghadirkan senyum orang-orang yang melintas di gerbang tersebut.

kedua. ruang terbuka yang berada di atas pintu gerbang tersebut merupakan tempat raja untuk mengawasi sekitar keraton. Juga mengawasi putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sare. Konon ketika sedang memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja tampak mesam-mesem. Sebab itulah kemudian gerbang itu disebut Labang Mesem.

Ketiga. menyebutkan suatu ketika Keraton Sumenep berhasil memukul mundur pasukan dari kerajaan Bali. Menyisakan dendam, Raja Bali bermaksud menuntut balas. Maka mereka pun datang ke Sumenep beserta bala tentaranya. Namun siapa sangka, ketika mereka sudah sampai di depan gerbang keraton amarah yang diselimuti dendam berubah. Menjadi senyum ramah dan penuh persahabatan. Kabarnya, hal itu merupakan akibat terkabulnya doa raja kepada Tuhan yang Maha Esa. Merubah api dendam menjadi air persaudaraan. (*dikutip dari situs media madura)

Saya sendiri sebagai warga Sumenep belum pernah membaca tentang sejarah labang mesem yang bersumber langsung dari buku sejarahnya dan sepertinya memang tidak ada buku sejarah tentang labang mesem yang menjadi ikon sumenep ini.

Kalau malam susana labang mesem sangat ramai dengan orang-orang hususnya para pemuda pelajar yang suka ngopi, karena disana memang terdapat warkop terbuka dengan lesehan yang membuat orang gemar datang setiap malam. 

Belajar Ilmu Nahwu Adalah Bid'ah?

ilmu nahwu
Pernah suatu waktu, ketika saya mencari artikel tentang nahwu. Menemukan komentar yang mengatakan bahwa Nahwu adalah bid'ah karena tidak ada pada jaman Rasulullah Saw. Komentar tersebut berangkat dari postingan yang ditulis oleh kelompok yang disebut anti bid'ah. Terlepas dari anti atau pro bid'ah, apakah belajar ilmu nahwu adalah bid'ah?

Jika ditinjau dari sisi bahasa, ilmu nahwu itu bid'ah. Tapi jika ditinjau dari sisi syariat, maka bukanlah Bid'ah. Jika pemahaman kita hanya mengacu kepada pengertian secara bahasa, maka tentu hal ini adalah sebuah kesalahan. Sejatinya kita diperintahkan untuk menuntut ilmu, baik itu ilmu yang berkaitan dengan dunia lebih-lebih ilmu agama, termasuk ilmu nahwu.

Sebagaimana sabda Nabi bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Namun dalam menyampaikan sabdanya, Rasulullah tidak menyebut secara husus ilmu yang wajib dipelajari. Bagaimana ilmu nahwu dikatan bid'ah sedangkan ia bermanfaat untuk kaum muslimin bahkan suatu kebutuhan umat, jika ditinggalkan, maka akan mudharat bg kaum muslimin.

Apa jadinya seandainya ilmu nahwu itu tidak ada? Tentu untuk memahami kandungan bahasa arab akan amburadul, bgmn kaum muslimin dapat memahami maksud ayat dan hadits? Sehingga agama akan jadi kacau. Apalagi rasulullaah berbahasa arab. Beliau tidak perlu belajar bahasa arab karena merupakan bahasanya sendiri. Bagaimana dengan orang indonesia dan negara-negara yang tidak berbahasa arab mau memahami al quran, tapi  tidak mau belajar bahasa arab.

Tentunya belajar ilmu nahwu adalah sebuah kebutuhan untuk memahami tata bahasa arab. Kalau seandainya Rasulullah melarangnya (karena bid'ah), tentu orang-orang diluar Arab tidak akan bisa memahami bahasa arab.

Agama Dan Politik Tidak Dapat Dipisahkan

agama politik
Ajakan memisahkan agama dari politik sebenarnya sudah mulai dari dahulu kala. Namun, pernyataan agama harus dipisahkan dengan politik menjadi topik hangat pada saat kasus penistaan agama. Suhu politik yang makin memanas, pernyataan tersebut menjadi andalan sebagian orang agar kasus penistaan agama segera dihentikan.

Akan tetapi, ajakan memisahkan agama dengan politik, justru menjadi ahistoris dengan para pendahulu kita. Sebab, saham terbesar kebangkitan dan kemerdekaan Negara ini elemen agama. Sadarkah jika dahulu umat Islam tidak berpolitik, maka kita tidak akan menjadi keluarga besar bernama Indonesia?

Sadarkah engkau bahwa usia agama lebih lama dari pada usia negara kita. Dahulu Imam Bonjol, pangeran Dipenogoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Panglima Polim, Pangeran Badaruddin, Sultan Hasanuddin, dan lainnya, belum mengenal bendera Merah Putih. Belum mengenal lagu Indonesia Raya dan Pancasila. Mereka angkat senjata usir para penjajah karena perintah agama, belum ada pemilu apalagi pilkada kala itu.

Pernyataan pisahkan agama dan politik agar rakyat tahu mana agama dan mana politik bisa multi makna. Pertama agama dianggap sumber masalah, ketika dia masuk ke politik. Kedua, menganggap agama terlalu sakral dan suci dan tidak pantas masuk ke politk yang kotor. Artinya, agama adalah untuk orang suci dan politik adalah untuk orang kotor, jadi politisi itu kotor. ketiga, menuduh agama hanya mengatur masalah selain politik, padahal politik adalah pintu kekuasaan yang dengannya Anda bisa mengatur semuanya, termasuk khatib Jumat pun akan diakreditasi.

Anda letakkan agama jauh dari politik, tapi saat minta dukungan politik, Anda masuk ke basis pemilih agama. Bahkan, tak sungkan bersurban, pimpin shalat jamaah, dan dalam pembukaan pidato kampanye dengan bumbu kalimat Arab biar terkesan Islami dan ibu negara berjilbab. Bagi-bagi uang dengan mengatasnamakan shadaqah padahal tidak lain tujuannya untuk mendapat suara rakyat.  Apakah itu yang namanya memisahkan agama dari politik?

Agama terlalu privat bagi pemeluknya melebihi negara, sekalipun dia masuk mengatur kehidupan seorang mulai masuk WC, cara tidur, cara potong kuku saja diatur. Apalagi politik sebagai alat yang mengatur kekuasaan. Saudara, berhentilah membuat jarak antara agama dengan politik, karena itu semakin menyakitkanmu sendiri. Nanti saat mau mencalonkan diri, engkau akan angkat isu-isu simpatik beragama.

Politik itu benda netral dan yang membuatnya menjadi berwarna adalah siapa yang mengendarakannya. Agama adalah moralitas tapi politik kekuasaan itu legalitas, salahkah orang beragama hanya ingin mempertemukan antara moralitas dengan legalitas?  Jika anda pisahkan agama dengan politik, maka bagaimana status partai-partai yang berlandaskan dan bercorak agama? mau engkau bubarkan?

Bisakah rasa manis dipisahkan dari gulanya? rasa dingin dari butiran saljunya? Jika bisa dipisahkan, maka baru bisa engkau pisahkan agama dari politik. Sampai kapanpun anda berusaha memisahkan politik dari agama. Usaha anda akan sia-sia dan engkau tidak akan pernah berhasil memisahkan agama dengan politik.

Serba-Serbi KKN STITA Songennep e Kacamatan Rubaru

Ka'dhinto se anyama Kuliah Kerja Nyata esingkat daddi KKN. Taon samangken elaksanaagi e Kacamatan Rubaru kalaban tema: Abangun Paradaban Masyarakat Kalaban Pangowadhan SDM. Mela dhari ka'dhinto, sadaja peserta KKN STITA Songennep etuntut kaangguy ajalanagi tugas sopajha bisa matombu potensi-potensi se badha e Kacamatan Rubaru.

KKN paneka ebagi ballu' kalompo' se esebbarragi neng sabban-sabban disa se badha e Rubaru. Posko peserta KKN e kacamatan Rubaru acem-acem, badha se esaba' neng Lembaga otaba Yayasan, badha se esaba' neng Balai Desa ban samacemma. Tantona sabelunna ampon lastare kordinasi dha' tiap-tiap Kalebun otaba Kepala Disa masala tempat peserta KKN.

Pertamaepon nyampe' e posko, bannya' peserta se ta' perna sabab gi' korang "berbaur" kalaban masyarakat. Ma'lum, nyamana oreng buru nyar-anyaran nempadi disana oreng. Musabab laen, enggi paneka karana sabagiyan peserta KKN STITA ampon ngagungi keluarga tor pottra-pottre se edinggaliga e compo'na.

Namong maskeya ta' perna, peserta KKN STITA Songennep taon samangken somangaddha e "apresiasi" sareng sala settong ponggabana kampus. Amarga, Sabellun program kegiatan e rancang, peserta KKN ampon repot ka bara' ka temor, ka lao' ka dhaja alayani masyarakat, abanto masyarakat, ngabdi dha' masyarakat.

Saka'dhinto tor-mator masala KKN STITA e Kacamatan Rubaru Songennep. Akherepon, roko' opet tale mera, sala lopot nyo'on sapora. Samoga tapanggi pole. Serratan kakdinto persembahan kelompok III Matanair dha' cakaca se laen. (Panerjemah : Rifky Raya)

Ebhabha kakdinto sabegian dokumentasi kegiatan KKN Stita e Kacamatan Rubaru:
 (ASEBHARSE HALAMAN)

 (RAPAT KORDINASI KALABAN PERANGKAT DHISA)

 (SOSIALISASI KAMPUS)

 (NGAJHARI NAK KANAK NGAJI)

 (NAMEN POHON UNGGULAN)

 (ASEBERSE MAKAM ALIAS KOBBHURAN)

 (SILATURRAHIM ANTAR KALOMPOK)

(KOLABORASI PASERTA KKN PUTRI SARENG EBHU EBHU DHISA)

(NGAJARI SENAM PAGI)

Ikuti Ulama Yang Dibenci Orang Kafir dan Munafik

fitnah ahir zaman
Ketika kita bingung mau mengikuti ulama' lantaran banyaknya pertentangan ulama dalam sebuah pemerintahan. Maka ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir dan orang orang munafik. Kita tidak perlu menyebut siapa yang munafik, tapi nilailah dari sikapnya terhadap agama dan bagaimana mereka membenci saudaranya sendiri.

Saudara, kita diperintahkan untuk taat kepada pemerintahan. Hanya saja jangan lupa, bahwa sebagai orang yang beriman percaya kepada Allah Swt. Serta percaya kepada Al Quran. Disana ada batasan tentang bagaiamana kita harus patuh pada pemerintah. Ketika negara lagi tidak aman, banyak pertikaian dan pelecehan saling menyalahkan satu sama lainnya. Tandanya negara itu sedang sakit.

Ketika Rezim pemerintahan sedang kacau balau. Maka akan banyak kebencian dan permusuhan. Disana akan ada kelompok yang membenci islam. Sadarilah sejatinya mereka bukan benci kepada wajah anda yang tampan atau cantik jelita, tidak pula benci kepada rasa anda sebagai orang jawa atau sunda atau lainnya, tidak pula karena anda kaya atau pandai.

Satu hal yang menjadikan mereka murka dan benci kepada anda, ialaha karena anda hanya sudi mengabdi dan tunduk kepada Allah Ta’ala semata. Menjauh dari budaya dan penguasa yang menyimpang.

 قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنقِمُونَ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

 Katakanlah: “Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik? (QS. Al Maidah: 59).

Sebuah kisah tentang Imam Syafi'i yang ditanya oleh muridnya akan membuka hati nurani kita tatkala banyaknya orang yang memusuhi saudaranya sendiri, dan lebih menjilat kepada penguasa.

Imam Syafi'i pernah berkata: Nanti di akhir jaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu yang menyesatkan Umat.

Lantas murid Imam Syafi'i bertanya "Ulama seperti apa yg kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?"

Beliau menjawab: "Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yg disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik"

وسئل الإمام الشافعي رحمه الله تعالى: كيف تعرف أهل الحق في زمن الفتن؟! فقال: اتبع سهام العدو فهي ترشدك إليهم

Juga Imam Syafi'i pernah ditanya oleh salah satu muridnya tentang bagaimana caranya kita mengetahui pengikut kebenaran di akhir zaman yang penuh fitnah? Jawab beliau " Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa) maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran"